bukamata.id – Kasus dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oleh Priguna Anugerah P alias PAP, seorang residen anestesi PPDS Unpad di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, menunjukkan perkembangan yang mengkhawatirkan.
Terbaru, terungkap bahwa terduga korban pelaku tidak hanya satu, melainkan tiga orang. Dua di antaranya diduga merupakan pasien yang tengah dirawat, sementara satu lainnya adalah FH (21), anak dari pasien yang sebelumnya telah melaporkan kejadian traumatis tersebut ke Polda Jawa Barat.
Kabar mengenai adanya korban lain ini disampaikan oleh Dirreskrimum Polda Jabar, Kombes Pol Surawan. Meskipun dua korban lainnya belum membuat laporan resmi, pihak kepolisian terus mendalami informasi ini. Sementara itu, Priguna sendiri telah resmi ditetapkan sebagai tersangka atas laporan yang diajukan oleh FH.
Lebih lanjut, Kombes Pol Surawan mengungkapkan hasil pemeriksaan sementara yang mengarah pada dugaan adanya kelainan seksual pada diri pelaku. Fakta yang lebih mencengangkan adalah fetish atau preferensi seksual menyimpang yang diduga dimiliki oleh Priguna.
“Fantasinya senang (lihat) yang pingsan saja,” kata Kombes Pol Surawan melalui sambungan telepon, Kamis (10/5/2025).
Pemeriksaan intensif terhadap Priguna masih terus dilakukan oleh pihak kepolisian untuk menggali informasi lebih dalam terkait dugaan pelecehan terhadap tiga korban ini. Langkah krusial juga diambil dengan melibatkan ahli psikologi dan forensik untuk memperkuat dugaan adanya penyimpangan seksual yang mendasari tindakan pelaku.
“Dari pemeriksaan beberapa hari ini pelaku mengalami kelainan seksual,” ujar Kombes Pol Surawan.
“Hasil pemeriksaan ini akan diperkuat dari ahli psikologi dan forensik, sehingga menguatkan adanya perilaku kelainan seksual,” tambahnya.
Seperti yang diberitakan sebelumnya, Kabid Humas Polda Jabar Kombes Pol Hendra Rochmawan menjelaskan modus operandi pelaku terhadap korban FH. Tersangka meminta korban untuk diambil darah dan membawanya dari ruang IGD ke lantai 7 Gedung MCHC RSHS Bandung pada 18 Maret 2025 dini hari.
Di ruangan sepi tersebut, korban dipaksa mengenakan baju operasi dan diminta melepaskan pakaian dalamnya sebelum akhirnya disuntikkan cairan misterius hingga tak sadarkan diri.
Pengungkapan adanya dugaan korban lain dan fetish pelaku yang mengerikan ini semakin memperdalam luka dan keprihatinan atas kasus yang terjadi di lingkungan rumah sakit yang seharusnya menjadi tempat aman.
Pihak kepolisian berkomitmen untuk mengusut tuntas kasus ini dan mengungkap seluruh fakta yang ada, termasuk kemungkinan adanya korban-korban lain yang belum berani melapor. Masyarakat pun menanti keadilan ditegakkan bagi para korban dan berharap kejadian serupa tidak akan pernah terulang kembali.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










