bukamata.id – Niat bercanda antarteman berujung petaka di lingkungan sekolah. N (13), seorang murid kelas VII SMPN 1 Kecamatan Japara, Kabupaten Kuningan, harus menjalani perawatan intensif di RSUD Linggajati setelah tak sengaja menelan cairan pembersih lantai sasetan hingga mengalami mual dan muntah hebat. Insiden maut yang terjadi pada Senin (12/10) itu diduga berawal dari aksi kelakar yang kebablasan saat jam istirahat sekolah.
Kepala SMPN 1 Japara, Oon Suharyo, memberikan klarifikasi tertulis mengenai kronologi peristiwa tersebut. Menurutnya, insiden terjadi sekitar pukul 11.30 WIB di sela-sela jeda kegiatan belajar mengajar (KBM) mata pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) yang bertepatan dengan momen pembagian program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kejadian bermula ketika siswa lain berinisial M melempar bungkus saset berisi pembersih lantai dengan dalih bergurau. Sayangnya, lemparan tersebut mengenai sejumlah murid dan tepat mendarat di area wajah N hingga sebagian cairan kimia tersebut tak sengaja masuk ke dalam mulutnya.
Mendapati kondisi tersebut, penanganan darurat langsung dilakukan di ruang UKS sekolah sebelum N dilarikan ke Puskesmas Japara. Guna mendapatkan penanganan medis yang lebih intensif, korban akhirnya dirujuk ke RSUD Linggajati. Pihak sekolah juga dengan cepat memberi tahu keluarga korban serta melaporkan kasus ini ke Disdikbud Kabupaten Kuningan.
Pihak lembaga menegaskan komitmennya untuk tetap memprioritaskan pemenuhan hak pendidikan, keamanan, serta kenyamanan peserta didik dalam mengecap ilmu, seraya terus berkoordinasi erat dengan pihak dinas terkait.
Kondisi Korban Membaik, Dinas Pendidikan Dorong Penanganan Perundungan
Kondisi terkini korban dilaporkan mulai menunjukkan respons positif. Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Bidang Pembinaan SMP Disdikbud Kabupaten Kuningan, Rizal Arif Gunawan, saat memantau langsung keadaan korban pada Selasa (13/10/2026) bersama Wakil Bupati Kuningan, Tuti Andriani.
“Kondisi korban tadi pagi saya melihat, kebetulan saya mendampingi, sudah membaik. Mudah-mudahan secepatnya bisa kembali sehat dan pulang,” tutur Rizal seusai melakukan kunjungan ke rumah sakit bersama dengan Wakil Bupati Kuningan, Tuti Andriani dan Jajaran Disdikbud Kuningan.
Meski begitu, Rizal menyayangkan munculnya insiden yang mengarah pada dugaan bullying tersebut. Pihaknya meminta pihak sekolah bertindak tegas dengan merangkul seluruh pihak keluarga yang terlibat, bukan sekadar membina siswa di area sekolah semata.
“Kami menekankan kepada pihak sekolah untuk menyelesaikan setiap permasalahan dengan melibatkan orang tua. Tidak hanya siswanya yang diberi peringatan, tetapi orang tuanya juga dipanggil agar mengetahui kejadian yang berlangsung,” tutur Rizal.
Rizal mengingatkan bahwa dampak perundungan dapat memicu trauma psikologis jangka panjang pada anak. Oleh sebab itu, Disdikbud membuka ruang pendampingan dengan melibatkan UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) jika diperlukan. Menurutnya, pencegahan aksi kekerasan di lingkungan sekolah merupakan tanggung jawab kolektif antara guru, komite, hingga peran aktif orang tua di rumah.
Di sisi lain, aparat kepolisian telah memantau perkembangan peristiwa ini. Kasat Reskrim Polres Kuningan, AKP Abdul Aziz, mengonfirmasi bahwa persoalan ini telah menempuh jalur kekeluargaan.
“Info sudah mediasi,” kata Abdul saat dikonfirmasi.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









