bukamata.id – Fenomena Rojali (Rombongan Jarang Beli) dan Rohana (Rombongan Hanya Nanya) kini menjadi sorotan di pusat-pusat perbelanjaan, khususnya di kota-kota besar seperti Bandung. Munculnya perilaku konsumen yang lebih “lihat-lihat dulu” ini ternyata mencerminkan tren baru dalam pola konsumsi masyarakat.
Fenomena ini dianggap sebagai bentuk kecermatan konsumen dalam berbelanja, seiring meningkatnya kesadaran terhadap kondisi ekonomi dan kemudahan akses ke platform e-commerce yang menawarkan harga lebih kompetitif.
“Kami melihat ini bukan tanda lesunya pasar, melainkan bentuk adaptasi konsumen yang lebih cerdas. Warga Bandung tetap antusias datang ke mall, mereka nggak cuma makan, tapi juga belanja. Bahkan trafik di Summarecon Mall Bandung terus meningkat sejak dibuka,” ujar Juni Hadi Hasan, Centre Head Summarecon Mall Bandung kepada bukamata.id, Sabtu (26/7/2025).
Tetap Ramai Meski Banyak yang “Cuma Lihat-Lihat”
Summarecon Mall Bandung, yang baru memasuki tahun kedua operasional, justru mencatat lonjakan jumlah pengunjung. Menurut Juni, peningkatan ini tak lepas dari upaya pihak mall dalam menciptakan suasana yang nyaman, serta menyelenggarakan berbagai event menarik.
“Kalau nyaman, pengunjung datang lagi. Tenant-tenant juga happy karena traffic naik. Ke depan kami bahkan akan bangun hotel agar pengunjung dari luar kota bisa menikmati pengalaman lengkap di kawasan ini,” tambahnya.
Rojali-Rohana dan Pergeseran Gaya Hidup
Acuviarta Kartabi, pakar ekonomi dari Universitas Pasundan, menilai bahwa fenomena Rojali dan Rohana tak lepas dari pergeseran gaya hidup masyarakat urban dan tekanan ekonomi yang dihadapi sebagian lapisan masyarakat.
“Masyarakat sekarang jauh lebih selektif. Banyak yang datang ke mall sekadar ‘window shopping’, lalu mencari barangnya di marketplace yang lebih murah. Di sisi lain, nongkrong di café atau update status di media sosial kini menjadi bagian dari hiburan tersendiri,” jelasnya.
Menurut Acuviarta, era digital dan sosial media telah mengubah fungsi mall dari pusat belanja menjadi tempat berkumpul, berburu konten, dan gaya hidup. Kopi dan selfie di mall kini menjadi bentuk ‘status sosial’ baru.
Tantangan Bagi UMKM dan Ritel
Fenomena ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku UMKM dan sektor ritel. Mereka dituntut untuk lebih cermat dalam menentukan harga, strategi pemasaran, dan segmentasi pasar.
“UMKM harus pintar membaca pasar. Harga harus masuk akal, jangan sampai kena stigma ‘getok harga’. Bandung punya potensi besar, terutama dari wisatawan luar kota yang daya belinya lebih tinggi,” katanya.
Namun demikian, pergeseran pola konsumsi ini juga dinilai sebagai bentuk ketahanan finansial masyarakat. Meski belum sepenuhnya menunjukkan literasi keuangan yang matang, setidaknya konsumen kini lebih berhati-hati dalam mengelola pengeluaran.
Kemiskinan di Kota Meningkat, Ketimpangan Ekonomi Makin Lebar
Merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat, jumlah penduduk miskin pada Maret 2025 mengalami penurunan tipis sebesar 0,06 persen dibandingkan September 2024. Namun, penurunan ini tidak berlaku merata antara wilayah perdesaan dan perkotaan.
Angka kemiskinan di perdesaan turun 0,70 persen poin, namun di perkotaan justru naik 0,11 persen poin.
Indeks kedalaman dan keparahan kemiskinan juga mengalami peningkatan, menunjukkan bahwa warga miskin kota hidup semakin jauh dari standar hidup layak. Konsumsi beras premium dan biaya Pendidikan yang menjadi penyumbang utama naiknya garis kemiskinan.
“Di kota, pengangguran bertambah, harga kebutuhan pokok makin tinggi, dan biaya pendidikan semakin mahal,” jelas Plt. Kepala BPS Jabar, Darwis Sitorus.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










