Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Atlet Kabupaten Bandung Dapat Jaminan BPJS Ketenagakerjaan, KDS Bidik Juara Umum Porprov

Jumat, 9 Oktober 2026 15:32 WIB
Ilustrasi video syur

Poltekkes Bandung Bantah Pemeran Video Asusila Viral Mahasiswinya

Jumat, 9 Oktober 2026 15:23 WIB

Transformasi Mengagumkan Syahrini! Dari Diva Glamor Jadi Istri Paling Patuh

Jumat, 9 Oktober 2026 15:04 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Atlet Kabupaten Bandung Dapat Jaminan BPJS Ketenagakerjaan, KDS Bidik Juara Umum Porprov
  • Poltekkes Bandung Bantah Pemeran Video Asusila Viral Mahasiswinya
  • Transformasi Mengagumkan Syahrini! Dari Diva Glamor Jadi Istri Paling Patuh
  • Viral Video Syur Perempuan Berseragam Poltekkes Bandung, Begini Kata Kemenkes
  • Total Hadiah Fantastis! Ajang Anugerah Jurnalistik KPU RI 2026 Resmi Dibuka, Simak Kategori Barunya
  • Ban Diduga Pecah, Mobil Hantam Tembok Bandung Zoo hingga Roboh!
  • Terungkap! Mantan Koki di Amerika Tanam Ganja di Rooftop Rumah di Bandung
  • Sampel Makanan Raib, Misteri Dugaan Keracunan Massal di Restoran 88 Seoul Bandung Belum Terpecahkan
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Jumat, 9 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Gaya Hidup

Gus Baha Jelaskan Perbedaan NU dan Muhammadiyah soal Penentuan Awal Ramadhan

By Putra JuangSelasa, 18 Februari 2025 13:00 WIB2 Mins Read
Gus Baha. Foto: Instagram @gusbahaofficial.
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) menjelaskan, titik perbedaan beberapa organisasi masyarakat dalam menentukan awal Ramadhan atau bulan hijriah lainnya seperti Syawal dan Dzulhijjah.

Gus Baha mencontohkan, titik perbedaan antara Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah yaitu terletak ketika hilal sudah melewati ufuk apakah harus 2 derajat atau yang penting lewat saja meskipun satu derajat.

“Kalau secara Muhammadiyah, yang menentukan, bahwa jika sudah melewati ufuk maka sudah masuk tanggal 1. Setiap sudah melewati ufuk, maka hilal sudah berganti. Hilal itukan maknanya tanggal,” ucap Gus Baha dikutip NU Online, Selasa (18/2/2025).

Gus Baha mengatakan, sikap Muhammadiyah ini mengikuti pendapat ahli falak yang mengatakan bahwa bulan baru akan ditetapkan jika sudah melewati ufuk secara hisab wujudul hilal.

Baca Juga:  Alissa Wahid Sebut NU Jadi Tulang Punggung Demokrasi Indonesia

Untuk ukuran lewatnya, kata Gus Baha, tidak ditentukan. Sebab, hakikatnya lewat berarti sudah berganti.

Gus Baha lalu memberikan contoh lain, apakah tahun 2001 bisa dikatakan abad 21, padahal baru lewat satu tahun. Secara hakikat sudah lewat, tapi belum bisa dikatakan abad 21 secara sempurna.

“Ada ahli falak berpendapat, pokoknya jika sudah melewati ufuk, baik 1 derajat, 2 derajat, 2,5 derajat, maka ganti bulan. Ini benar secara hakikat. Tapi secara hukum masih diperdebatkan. Karena menunggu melihat hilal dulu,” katanya.

Sedangkan Nahdlatul Ulama, meskipun secara hisab wujudul hilal diketahui sudah melewati ufuk, tapi tetap harus menunggu melihat hilal langsung. Dengan alasan, hukum bergantung dengan apa yang dilihat.

Baca Juga:  Aisyiyah Nilai Pasal PP Kesehatan Multitafsir, Timbulkan Risiko Penyimpangan

Logika sederhananya, kata Gus Baha, ada seorang santri diminta menghormati tamu yang akan datang. Beberapa waktu kemudian tamu tersebut datang, tapi dia hanya diam di depan gerbang dan tidak mengucapkan salam.

Sehingga, santri yang diminta menghormati tadi tidak melihat secara langsung tamu tersebut. Dalam hal ini, santri tersebut tidak salah.

“Kalau model Nahdlatul Ulama, hukum itu menunggu melihat, kalau belum melihat tidak jadi. Hukum itu ta’alluq (berkaitan) dengan melihat. Ini sama benarnya. Maka harus ada ru’yatul hilal bil fi’li, bisa dilihat secara nyata,” jelasnya.

Baca Juga:  Hasil Sidang Isbat: Cek Jadwal Puasa Ramadhan 2026 dan Waktu Shalat Tarawih Pertama

Gus Baha menegaskan, perbedaan cara melihat hilal ini tidak perlu dijadikan masalah besar. Hal tersebut menandakan bahwa tradisi ilmu jalan.

Karena tradisi ulama yaitu terbiasa dalam pendapat yang berbeda dengan dasar kajian masing-masing. Perbedaan pendapat tidak perlu disikapi dengan cara menyalahkan dan menjelekkan satu dengan yang lain.

Karena ulama ketika berbeda pendapat tetap bisa hidup bersama dan kerja sama dalam berbagai hal.

“Saya biasa saja melihat perbedaan, alhamdulillah masih punya tradisi ilmu. Ulama tetap berpendapat bahwa jika terjadi perbedaan pendapat tentang hilal, maka biarkan berbeda,” tandasnya.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Gus Baha Muhammadiyah Nahdlatul Ulama Ramadhan
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Transformasi Mengagumkan Syahrini! Dari Diva Glamor Jadi Istri Paling Patuh

bsu.kemnaker.go.id untuk mengecek penerima BSU 2025 secara resmi dari Kemnaker.

Bansos PKH dan BPNT Tahap 4 Kapan Cair? Ini Jadwal, Nominal, dan Cara Ceknya

Harga Emas Antam di Pegadaian Anjlok Rp15.000, Cek Daftar Lengkap Hari Ini

Bunga Lokal di Tanah Eropa! Gak Nyangka, Begini Cara Anggun C Sasmi Wariskan Darah Nusantara ke Anaknya di Paris

Cari Tempat Staycation di Lembang? Ini 3 Penginapan dengan Suasana Adem dan Asri

5 Wisata Kuliner Legendaris dan Paling Dicari di Kuningan, Cocok untuk Lidah Pecinta Makanan Enak

Terpopuler
  • Jadwal dan Link Live Streaming Indonesia vs Thailand: Momentum Garuda Rebut Trofi di Rumah Sendiri
  • bank bjb syariah Perkuat Sinergi dengan Pemkab Cirebon, ASN Dapat Layanan Haji hingga Emas
  • Dari Kampus ke Gedung DPR RI, KPMJ Ilmu Komunikasi UIN Bandung Pelajari Dunia Keprotokolan dan Kehumasan
  • Blunder Dedi Mulyadi, Polemik Data Center AI Ancam Kepercayaan Investor
  • Megaproyek Pusat Data AI di Jatiluhur Purwakarta Ditahan BRIN, Ada Apa?
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.