Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Viral di TikTok dan X! Video ‘Guru Bahasa Inggris vs Murid’ Diburu, Benarkah Ada Versi Lengkap?

Minggu, 17 Mei 2026 18:00 WIB
Persib Bandung

Tanpa Pelatih dan Pemain Kunci, Persib Tetap Nekat Incar Kemenangan di Parepare

Minggu, 17 Mei 2026 17:05 WIB

Putri Jasmin Go Internasional! Tampil Bareng Aldi Taher, Warga Malaysia Ikut Terpukau

Minggu, 17 Mei 2026 16:54 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Viral di TikTok dan X! Video ‘Guru Bahasa Inggris vs Murid’ Diburu, Benarkah Ada Versi Lengkap?
  • Tanpa Pelatih dan Pemain Kunci, Persib Tetap Nekat Incar Kemenangan di Parepare
  • Putri Jasmin Go Internasional! Tampil Bareng Aldi Taher, Warga Malaysia Ikut Terpukau
  • GEGER! Nama Sarwendah Terseret Isu Misteri Gunung Kawi, Ternyata Ini Fakta Sebenarnya!
  • Link Video ‘Guru Bahasa Inggris dan Murid’ Part 2 Viral, Pakar Ungkap Risiko Phishing Mengintai
  • Kemenag Tentukan Awal Zulhijjah Hari Ini, Jadwal Idul Adha 2026 Segera Diumumkan
  • Persib Incar Chrigor Moraes, Striker Tajam Selangor FC yang Pecahkan Rekor Bambang Pamungkas
  • Part 2 Muncul di Telegram? Fakta di Balik Video Viral Guru vs Murid Terungkap
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Minggu, 17 Mei 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Gaya Hidup

Gus Baha Jelaskan Perbedaan NU dan Muhammadiyah soal Penentuan Awal Ramadhan

By Putra JuangSelasa, 18 Februari 2025 13:00 WIB2 Mins Read
Gus Baha. Foto: Instagram @gusbahaofficial.
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) menjelaskan, titik perbedaan beberapa organisasi masyarakat dalam menentukan awal Ramadhan atau bulan hijriah lainnya seperti Syawal dan Dzulhijjah.

Gus Baha mencontohkan, titik perbedaan antara Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah yaitu terletak ketika hilal sudah melewati ufuk apakah harus 2 derajat atau yang penting lewat saja meskipun satu derajat.

“Kalau secara Muhammadiyah, yang menentukan, bahwa jika sudah melewati ufuk maka sudah masuk tanggal 1. Setiap sudah melewati ufuk, maka hilal sudah berganti. Hilal itukan maknanya tanggal,” ucap Gus Baha dikutip NU Online, Selasa (18/2/2025).

Gus Baha mengatakan, sikap Muhammadiyah ini mengikuti pendapat ahli falak yang mengatakan bahwa bulan baru akan ditetapkan jika sudah melewati ufuk secara hisab wujudul hilal.

Baca Juga:  Tebar Kebaikan, RPA Perindo Jabar Bagi-bagi Takjil Gratis untuk Warga Bandung

Untuk ukuran lewatnya, kata Gus Baha, tidak ditentukan. Sebab, hakikatnya lewat berarti sudah berganti.

Gus Baha lalu memberikan contoh lain, apakah tahun 2001 bisa dikatakan abad 21, padahal baru lewat satu tahun. Secara hakikat sudah lewat, tapi belum bisa dikatakan abad 21 secara sempurna.

“Ada ahli falak berpendapat, pokoknya jika sudah melewati ufuk, baik 1 derajat, 2 derajat, 2,5 derajat, maka ganti bulan. Ini benar secara hakikat. Tapi secara hukum masih diperdebatkan. Karena menunggu melihat hilal dulu,” katanya.

Sedangkan Nahdlatul Ulama, meskipun secara hisab wujudul hilal diketahui sudah melewati ufuk, tapi tetap harus menunggu melihat hilal langsung. Dengan alasan, hukum bergantung dengan apa yang dilihat.

Baca Juga:  Pidato Anies Baswedan dalam Dialog Terbuka Muhammadiyah: Indonesia Hari Ini Mengalami Kemunduran

Logika sederhananya, kata Gus Baha, ada seorang santri diminta menghormati tamu yang akan datang. Beberapa waktu kemudian tamu tersebut datang, tapi dia hanya diam di depan gerbang dan tidak mengucapkan salam.

Sehingga, santri yang diminta menghormati tadi tidak melihat secara langsung tamu tersebut. Dalam hal ini, santri tersebut tidak salah.

“Kalau model Nahdlatul Ulama, hukum itu menunggu melihat, kalau belum melihat tidak jadi. Hukum itu ta’alluq (berkaitan) dengan melihat. Ini sama benarnya. Maka harus ada ru’yatul hilal bil fi’li, bisa dilihat secara nyata,” jelasnya.

Baca Juga:  Bikin Kenyang Lebih Lama, Ini 3 Makanan Sehat Pilihan untuk Sahur

Gus Baha menegaskan, perbedaan cara melihat hilal ini tidak perlu dijadikan masalah besar. Hal tersebut menandakan bahwa tradisi ilmu jalan.

Karena tradisi ulama yaitu terbiasa dalam pendapat yang berbeda dengan dasar kajian masing-masing. Perbedaan pendapat tidak perlu disikapi dengan cara menyalahkan dan menjelekkan satu dengan yang lain.

Karena ulama ketika berbeda pendapat tetap bisa hidup bersama dan kerja sama dalam berbagai hal.

“Saya biasa saja melihat perbedaan, alhamdulillah masih punya tradisi ilmu. Ulama tetap berpendapat bahwa jika terjadi perbedaan pendapat tentang hilal, maka biarkan berbeda,” tandasnya.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Gus Baha Muhammadiyah Nahdlatul Ulama Ramadhan
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Viral di TikTok dan X! Video ‘Guru Bahasa Inggris vs Murid’ Diburu, Benarkah Ada Versi Lengkap?

Putri Jasmin Go Internasional! Tampil Bareng Aldi Taher, Warga Malaysia Ikut Terpukau

GEGER! Nama Sarwendah Terseret Isu Misteri Gunung Kawi, Ternyata Ini Fakta Sebenarnya!

Link Video ‘Guru Bahasa Inggris dan Murid’ Part 2 Viral, Pakar Ungkap Risiko Phishing Mengintai

Part 2 Muncul di Telegram? Fakta di Balik Video Viral Guru vs Murid Terungkap

Dicari Link Full 6 Menit, Video Guru Bahasa Inggris Ini Justru Bikin Publik Curiga

Terpopuler
  • Link Video Guru Bahasa Inggris Ramai Dicari, Link 6 Menit Ternyata Jebakan Phishing
  • Persib Bandung Gigit Jari? Striker Abroad Timnas Indonesia Dipastikan Bertahan di Eropa Musim Depan
  • Bocoran 11 Pemain Mewah Incaran Persib Bandung: Ada Patrick Robson hingga Bomber Timnas Irak
  • Link Asli Video Viral? Guru Vs Murid Durasi 6 Menit Bikin Penasaran Publik
  • Video 6 Menit Guru Bahasa Inggris Viral di TikTok dan X, Ternyata Banyak Kejanggalan
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.