Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Emas Antam Hari Ini Tertahan di Rp 2,526 Juta, Saatnya Beli?

Minggu, 1 November 2026 08:43 WIB
Bansos

Siap-siap! Rilis 10 November, Syarat Dapat Bansos Digital Wajib Scan Wajah dan NIK

Minggu, 1 November 2026 06:00 WIB

Kabar Terbaru Penyaluran Bansos PKH dan BPNT Kuartal IV 2026: Syarat Desil, Cara Cek, hingga Solusi Dana Belum Cair

Minggu, 1 November 2026 02:00 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Emas Antam Hari Ini Tertahan di Rp 2,526 Juta, Saatnya Beli?
  • Siap-siap! Rilis 10 November, Syarat Dapat Bansos Digital Wajib Scan Wajah dan NIK
  • Kabar Terbaru Penyaluran Bansos PKH dan BPNT Kuartal IV 2026: Syarat Desil, Cara Cek, hingga Solusi Dana Belum Cair
  • Ujian Maraton Maung Bandung: 7 Laga Berat di 3 Kompetisi Mengintai Persib Sepanjang November 2026
  • Hangatkan Tubuh di Tengah Cuaca Dingin Kota Kembang: 7 Rekomendasi Kuliner Berkuah Khas Bandung yang Wajib Dicoba
  • Mengenang 7 Hari Wafatnya Fathan Subchi, PKB dan Masura Kabupaten Bandung Gelar Doa Bersama
  • Viral Foto AI Presiden Prabowo di Padalarang, Petinggi KCIC Diserbu Netizen
  • Persib Dapat Angin Segar Jelang Jamu Isenmulang FC, Teja Paku Alam Comeback?
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Minggu, 1 November 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Gaya Hidup

Hasil Sidang Isbat: Cek Jadwal Puasa Ramadhan 2026 dan Waktu Shalat Tarawih Pertama

By Aga GustianaSelasa, 17 Februari 2026 19:04 WIB2 Mins Read
Petugas rukyat meneropong posisi hilal. (Foto: ANTARA/Sahrul Manda Tikupadang)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Hari ini, Selasa (17/2/2026), menjadi penentu bagi jutaan umat Muslim di Indonesia untuk mengetahui kapan fajar pertama bulan suci akan dimulai. Kementerian Agama (Kemenag) menggelar Sidang Isbat secara nasional untuk mengesahkan awal Ramadhan 1447 Hijriah. Namun, di balik seremonial tersebut, terdapat dinamika data astronomis yang memicu potensi perbedaan waktu memulai ibadah puasa.

Kemenag: Memadukan Sains dan Syar’i

Pemerintah tetap berpegang pada mekanisme integrasi antara data hisab (perhitungan) dan hasil rukyatul hilal (pemantauan lapangan). Keputusan akhir baru akan diumumkan setelah para ahli falak dan perwakilan organisasi Islam membedah fakta di lapangan.

“Hasil pembahasan tersebut akan kami jadikan pedoman bersama bagi seluruh umat Islam di Indonesia,” tegas Dirjen Bimas Islam Kemenag, Abu Rokhmad.

Baca Juga:  Muhammadiyah Sebut Pagar Laut di PIK Rugikan Nelayan dan Masyarakat Pesisir

Prediksi NU: Hilal Masih ‘Malu-Malu’ di Bawah Ufuk

Nahdlatul Ulama (NU) secara konsisten mengikuti keputusan resmi pemerintah lewat mekanisme ikhbar. Menariknya, Lembaga Falakiyah PBNU telah merilis data awal yang menunjukkan posisi bulan pada Selasa petang ini masih berada di kisaran minus 1 derajat 44 menit.

Secara teoritis, posisi hilal yang masih di bawah ufuk membuat peluang terlihatnya bulan sangat mustahil. Jika kondisi ini dikonfirmasi dalam Sidang Isbat, besar kemungkinan bulan Sya’ban akan digenapkan menjadi 30 hari (istikmal), yang berarti 1 Ramadhan versi NU dan Pemerintah diprediksi jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.

Baca Juga:  Peringati Harlah ke-14, LPBI NU Gelar Apel Siaga dan Jambore Nasional di Situ Cisanti

Muhammadiyah: Satu Tanggal untuk Seluruh Dunia

Berseberangan dengan prediksi tersebut, Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah telah menetapkan 1 Ramadhan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. Organisasi ini kini menggunakan sistem Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).

Metode ini tidak lagi terpaku pada terlihatnya hilal di wilayah lokal (matla’), melainkan berdasarkan koordinat global dengan parameter elongasi minimal 8 derajat. Melalui sistem ini, Muhammadiyah memastikan kepastian tanggal jauh-jauh hari agar umat dapat mempersiapkan ibadah dengan lebih terencana.

Baca Juga:  Muhammadiyah: DPR Tidak Semestinya Berseberangan dan Salahi Putusan MK

Mengapa Terjadi Perbedaan?

Potensi perbedaan ini bukan hal baru, melainkan buah dari keberagaman metode ijtihad. NU dan Pemerintah menitikberatkan pada aspek visibilitas hilal di wilayah Indonesia, sementara Muhammadiyah bergerak menuju kesatuan kalender Islam global yang berbasis perhitungan matematis murni.

Publik kini tinggal menunggu hasil ketukan palu Sidang Isbat malam ini untuk menentukan apakah Indonesia akan berpuasa secara serentak atau dalam waktu yang berbeda.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Muhammadiyah Nahdlatul Ulama
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Emas Antam Hari Ini Tertahan di Rp 2,526 Juta, Saatnya Beli?

Bansos

Siap-siap! Rilis 10 November, Syarat Dapat Bansos Digital Wajib Scan Wajah dan NIK

Kabar Terbaru Penyaluran Bansos PKH dan BPNT Kuartal IV 2026: Syarat Desil, Cara Cek, hingga Solusi Dana Belum Cair

Semangkuk cuanki hangat di Cuanki Serayu

Hangatkan Tubuh di Tengah Cuaca Dingin Kota Kembang: 7 Rekomendasi Kuliner Berkuah Khas Bandung yang Wajib Dicoba

Jatuhnya Sultan Andara! Kena Boikot Parah, Saham Ambruk, Raffi Ahmad Diambang Kehancuran?

Hujan Turun Terus? Ini 5 Wisata Indoor di Bandung yang Bikin Liburan Tetap Asyik

Terpopuler
  • Megalomania Arsitektur: Ketika Kota Bandung Dipaksa Berbaju Kerajaan
  • Ruang Bicara Resmi Berdiri di Bandung, Hadir Sebagai Wadah Anak Muda Bertumbuh dan Berdampak
  • Berkas Kasus UU ITE Bambang Soeharto Hampir Rampung, Simalango Law Firm Soroti Langkah Tersangka Lapor Balik Saksi
  • Gelar Tabligh Akbar, Pemuda Pancasila Jabar Usung Semangat Gaya Baru di HUT ke-67
  • Pengurus DPC PKB Kabupaten Bandung Dikukuhkan, Dadang Supriatna Mulai Jaring Caleg 2029
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.