bukamata.id – Jagat media sosial kembali diramaikan oleh kemunculan link video viral bertajuk “Ibu Tiri vs Anak Tiri” yang belakangan ramai diperbincangkan.
Setelah sebelumnya dikaitkan dengan latar kebun sawit, kini muncul klaim lanjutan yang disebut sebagai Part 2 dengan lokasi berbeda yakni di area dapur. Perubahan narasi ini justru semakin memicu rasa penasaran publik.
Namun, di balik viralnya konten tersebut, muncul sejumlah indikasi yang patut diwaspadai. Narasi yang beredar di berbagai platform diduga menggabungkan dua potongan video dengan latar berbeda seolah-olah merupakan satu rangkaian cerita yang utuh.
Banyak Kejanggalan dalam Potongan Video
Hasil penelusuran menunjukkan adanya sejumlah ketidakkonsistenan, mulai dari kualitas video, detail pakaian, hingga latar belakang yang berbeda satu sama lain. Hal ini menguatkan dugaan bahwa potongan tersebut bukan berasal dari satu kejadian yang sama.
Sejumlah pengamat menilai penggunaan label “Part 2” lebih mengarah pada strategi clickbait, yaitu teknik untuk menarik perhatian dan meningkatkan jumlah klik pengguna internet.
Dalam salah satu potongan yang beredar, terlihat seorang perempuan sedang melakukan aktivitas di dapur. Situasi awal tampak normal, namun berubah ketika muncul sosok pria dari arah belakang.
Momen tersebut kemudian terpotong secara tiba-tiba, sehingga menimbulkan berbagai spekulasi di kalangan warganet.
Diduga Konten Tidak Berasal dari Indonesia
Menariknya, sejumlah temuan menunjukkan bahwa video tersebut tidak memiliki ciri kuat yang mengarah ke Indonesia. Tidak ditemukan penggunaan bahasa, simbol, maupun elemen budaya lokal yang jelas.
Sebaliknya, terdapat indikasi penggunaan bahasa asing serta latar visual yang mengarah ke luar negeri. Narasi “ibu tiri dan anak tiri” diduga hanya dikemas ulang agar lebih dekat dengan emosi dan rasa penasaran publik Indonesia sehingga mudah viral.
Waspada Jebakan Phishing dan Malware
Di balik viralnya link tersebut, ancaman terbesar justru berasal dari tautan yang tersebar di berbagai platform. Banyak link yang mengklaim menyediakan “video full durasi” ternyata merupakan jebakan digital berbahaya.
Risikonya beragam, mulai dari phishing yang dapat mencuri akun media sosial dan data pribadi, hingga malware yang bisa merusak atau mengambil alih perangkat tanpa disadari. Bahkan, file berformat APK berbahaya juga berpotensi membaca SMS, mencuri kode OTP, hingga menguras saldo rekening korban.
Modus ini biasanya memanfaatkan rasa penasaran dan fenomena FOMO (Fear of Missing Out), sehingga pengguna cenderung mengabaikan risiko demi mengakses konten viral.
Risiko Hukum bagi Penyebar Link
Selain ancaman keamanan digital, terdapat pula risiko hukum yang perlu diperhatikan. Penyebaran konten tanpa verifikasi, termasuk melalui fitur share atau forward di aplikasi pesan, dapat berpotensi menimbulkan konsekuensi hukum.
Dengan demikian, masyarakat diimbau untuk lebih bijak dan berhati-hati dalam mengakses maupun membagikan link yang belum jelas sumbernya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










