bukamata.id – Bupati Aceh Selatan, Mirwan MS, menjadi pusat perhatian nasional setelah keberangkatannya ke Tanah Suci untuk menjalankan ibadah umrah bertepatan dengan masa darurat banjir dan longsor di wilayahnya.
Keputusan itu memicu kritik tajam masyarakat, polemik di media sosial, hingga berujung pada tindakan tegas Partai Gerindra yang mencopotnya dari jabatan Ketua DPC Gerindra Aceh Selatan.
Polemik ini bermula dari fakta bahwa keberangkatan Mirwan terjadi dua hari setelah ia menandatangani Surat Pernyataan Ketidaksanggupan dalam penanganan darurat bencana yang melanda 11 kecamatan di Aceh Selatan.
Kondisi Aceh Selatan: Darurat Hidrometeorologi
Hujan ekstrem pada 25 November 2025 menyebabkan banjir besar dan longsor di sejumlah wilayah, memaksa masyarakat mengungsi dan membuat akses jalan terputus. Dari laporan Pemkab, sedikitnya 10 dampak besar terjadi, mulai dari:
- rusaknya infrastruktur jalan dan jembatan,
- terhentinya layanan publik dan aktivitas ekonomi,
- gangguan pasokan logistik, irigasi, hingga layanan kesehatan.
Pemkab Aceh Selatan pun menerbitkan surat ketidaksanggupan bernomor 360/1315/2025 pada 27 November 2025 sebagai dasar bagi Pemprov Aceh menetapkan status darurat bencana yang memungkinkan pengerahan sumber daya lebih besar dari pemerintah provinsi.
Kronologi Keberangkatan Mirwan MS ke Tanah Suci
Informasi keberangkatan Mirwan mulai terendus dari laporan yang menyebut perjalanan umrah dimulai melalui Bandara Sultan Iskandar Muda pada 2 Desember 2025.
Kontroversi semakin membesar ketika sebuah biro perjalanan umrah, @almisbahtravel_aceh, mengunggah foto Mirwan dan istrinya yang sedang berada di depan Kakbah pada 4 Desember 2025. Dalam unggahan itu, istri Mirwan tampak diberi ucapan ulang tahun di sela pelaksanaan ibadah umrah.
Fakta lain menunjukkan:
– Mirwan berangkat pada 1 Desember 2025, hanya dua hari setelah menandatangani surat ketidaksanggupan bencana.
– Pada saat ia berangkat, sejumlah warga Trumon masih tinggal di tenda pengungsian.
Masalah Izin: Gubernur Mualem Menolak Permohonan Keberangkatan
Polemik makin memanas setelah Pemprov Aceh mengungkap bahwa Mirwan sebelumnya mengajukan izin ke luar negeri pada 24 November 2025, namun ditolak oleh Gubernur Aceh, Muzakir Manaf (Mualem).
Jubir Pemerintah Aceh, Muhammad MTA, mengonfirmasi bahwa penolakan dilakukan karena Aceh sedang berada dalam situasi darurat banjir dan longsor.
“Permohonan tersebut ditolak karena fokus pemerintah sedang pada penanganan bencana,” tegas MTA.
Pemprov kemudian berencana memanggil dan menegur Mirwan karena dianggap mengabaikan penolakan tersebut.
Kritik Tajam Warganet: ‘Surga Jauh Dikejar, Surga Dekat Dilupakan’
Di media sosial, unggahan foto umrah Mirwan memicu reaksi luas. Puluhan komentar bernada sinis dan kecewa dibanjiri warganet, seperti dikutip dari kolom komentar Instagram @pembasmi.kehaluan.real, Sabtu (6/12/2025).
“Emg gk bisa di-cancel apa ya? Daerahnya sendiri gk peduli,” tulis akun nad***.
“Mengejar surga yang jauh, surga yang dekat jadi terlupakan,” kritik akun @len***.
Sementara akun lain menyoroti empati dan tanggung jawab seorang pemimpin.
“Gak ada hatinya ya Allah. Umrah itu baik untuk ibadah, tapi di daerah sekitar Bapak itu mengalami musibah, perlu bantuan dan dukungan dari pejabatnya,” tulis akun @lai***.
Komentar senada juga muncul dari akun @nur* yang menilai tindakan sang bupati sebagai bentuk pengabaian.
“Lepas dari tanggung jawab, sebagai wakil rakyat, padahal rakyatnya sedang menderita terkena musibah…”
Kekecewaan warga muncul karena banjir masih menyisakan kerusakan besar, terutama di wilayah Trumon Raya dan Bakongan Raya yang menjadi titik terdampak terparah.
Penjelasan Pemkab Aceh Selatan
Kabag Prokopim Pemkab Aceh Selatan, Denny Herry Safputra, menepis anggapan bahwa Mirwan meninggalkan warganya saat kondisi darurat. Ia menegaskan bahwa:
- debit air sudah surut di sejumlah titik,
- sebagian besar warga pengungsi sudah kembali ke rumah,
- Bupati telah turun langsung meninjau lokasi terdampak sebelum berangkat.
“Situasi wilayah sudah stabil. Logistik juga telah disalurkan, dan bantuan dari pemerintah tidak kurang,” ujarnya.
Mirwan sendiri kemudian mengunggah klarifikasi di media sosial pada 5 Desember 2025, menyebut bahwa kondisi banjir di Trumon dan Bakongan sudah berangsur membaik sebelum ia bertolak ke Mekah.
Gerindra Bertindak: Mirwan Dicopot sebagai Ketua DPC
Puncak dari kontroversi ini adalah keputusan tegas Partai Gerindra. Sekjen Partai Gerindra, Sugiono, mengumumkan bahwa Mirwan dicopot dari jabatan Ketua DPC Gerindra Aceh Selatan.
“Sangat disayangkan sikap dan kepemimpinan yang bersangkutan. DPP Gerindra memutuskan memberhentikan Mirwan dari posisi Ketua DPC,” ujar Sugiono.
Pencopotan ini merupakan dampak langsung dari tindakan umrah saat bencana dan penerbitan surat ketidaksanggupan sebelum ia memutuskan melakukan perjalanan ke luar negeri.
Profil Singkat Mirwan MS
Mirwan sebelumnya dikenal sebagai politisi Gerindra yang cukup berpengaruh di Aceh Selatan hingga akhirnya dicopot dari jabatan Ketua DPC akibat kontroversi ini.
Mirwan MS merupakan politikus Partai Gerindra kelahiran 9 Maret 1975. Ia resmi menjabat sebagai Bupati Aceh Selatan untuk periode 2025–2030 setelah dilantik oleh Gubernur Aceh Muzakir Manaf pada 17 Februari 2025 di Kantor DPRK Aceh Selatan. Selain sebagai kepala daerah, Mirwan juga memegang jabatan Ketua DPC Gerindra Kabupaten Aceh Selatan.
Pada Pilkada 2024, Mirwan maju sebagai calon bupati berpasangan dengan politikus Partai Demokrat, Baital Mukadis. Pasangan ini berhasil meraih 51.609 suara atau 36,32 persen dari total suara sah, sehingga menghantarkan mereka memimpin Aceh Selatan untuk lima tahun ke depan.
Karier Panjang di Dunia Usaha
Sebelum terjun ke politik, Mirwan dikenal sebagai pengusaha yang sudah lama berkiprah di Jakarta. Ia meniti karier sejak tahun 1995 di berbagai perusahaan, mulai dari posisi pelaksana hingga menduduki kursi direktur dan komisaris. Beberapa rekam jejak kariernya antara lain:
- Pelaksana Husni Utama Group (1995–1997)
- Pelaksana PT Alfindo Jaya Abadi Jakarta (1998–1999)
- Pengawas PT Lampiri Jakarta Utara (1999–2021)
- Direktur PT Ariesta (APM) (2002–2011)
- Direktur PT Desindo Putra Mandiri (2011–2014)
- Direktur PT Ariesta Motor (Showroom) sejak 2010
- Komisaris PT Ariesta Aldundo Venturer sejak 2011
Pengalaman panjang di dunia bisnis ini yang kemudian menjadi modal Mirwan untuk masuk ke dunia politik dan mengikuti kontestasi Pilkada Aceh Selatan.
Riwayat Pendidikan
Mirwan menempuh pendidikan dasar hingga menengah di Aceh sebelum melanjutkan pendidikan tinggi di Jakarta. Berikut riwayat pendidikannya:
- SDN 1 Peulumat (1983–1989)
- SMP Labuhanhaji Timur (1989–1992)
- STMN 1 Banda Aceh (1992–1995)
- Sarjana Ekonomi – STIE ISM (2010–2014)
- Magister Ilmu Politik – Universitas Nasional (UNNAS), Jakarta (2020–2021)
Dengan latar belakang pendidikan ekonomi dan ilmu politik, Mirwan terus memperkuat kiprahnya sebagai pejabat publik.
Penutup
Kontroversi umrah Bupati Aceh Selatan Mirwan MS menunjukkan bahwa sensitivitas publik terhadap etika kepemimpinan semakin tinggi, terutama ketika sebuah daerah sedang menghadapi bencana besar.
Meski Pemkab menegaskan keberangkatan dilakukan setelah situasi dinilai stabil, fakta bahwa izin ditolak Gubernur serta adanya korban terdampak yang masih dalam masa pemulihan membuat polemik ini tak bisa dihindari.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










