bukamata.id – Video TikTok berjudul “cukur kumis” yang viral sejak awal Februari 2026 memicu rasa penasaran warganet. Pencarian terkait video ini dilaporkan meningkat pesat di berbagai mesin pencari.
Namun, pakar keamanan digital mengingatkan masyarakat untuk berhati-hati. Konten viral seperti ini kerap dijadikan trik untuk menyebarkan tautan berbahaya, penipuan phishing, atau konten tidak pantas.
Cuplikan Singkat dan Strategi Curiosity Gap
Hasil pemantauan media sosial pada Rabu (4/2/2026) menunjukkan, video yang beredar hanya berdurasi kurang dari 15 detik. Cuplikan menampilkan seorang perempuan berhijab hitam dalam adegan yang sengaja dipotong tanpa konteks jelas, memancing rasa ingin tahu pengguna.
Potongan singkat ini diduga sengaja diedit untuk mendorong warganet mencari versi “full” melalui tautan yang tersebar di komentar atau platform lain. Sayangnya, banyak dari tautan itu mengarah ke situs mencurigakan yang bisa membahayakan perangkat dan data pribadi.
Ahmad Fauzi, Kepala Divisi Siber Kominfo Jawa Barat, menegaskan praktik ini umum digunakan pelaku kejahatan siber.
“Kami mendeteksi lonjakan akses ke domain yang mengklaim menyimpan video lengkap. Sebagian besar mengandung malware atau mengarah ke situs dewasa ilegal,” ujarnya, Rabu (4/2/2026).
Tren yang Sudah Berulang
Kasus semacam ini bukan hal baru. Sejak 2024, Kominfo mencatat lebih dari 200 ribu tautan serupa diblokir. Judul provokatif seperti “cukur kumis”, “video full”, hingga “link rahasia” kerap dimanfaatkan untuk mengeksploitasi rasa ingin tahu pengguna.
Pakar psikologi digital Universitas Padjadjaran, Dr. Siti Nurhaliza, menjelaskan fenomena ini memanfaatkan konsep curiosity gap.
“Celah informasi yang disengaja membuat otak terdorong mencari tahu lebih jauh. Algoritma media sosial memperkuat efek ini dengan menampilkan konten yang mendapat interaksi tinggi,” jelasnya.
Konten Asli Belum Terbukti Eksplisit
Hingga sore Rabu, belum ada bukti bahwa video asli mengandung konten eksplisit. Cuplikan yang viral kemungkinan besar hasil editan atau rekayasa untuk meningkatkan klik semata.
Imbauan untuk Warganet
Kominfo meminta masyarakat tidak mengklik tautan mencurigakan atau mengunduh aplikasi pihak ketiga untuk menonton versi “full”.
Masyarakat juga dianjurkan melaporkan akun atau konten mencurigakan melalui fitur pelaporan media sosial atau situs aduankonten.id.
“Jangan biarkan rasa penasaran mengorbankan keamanan digital Anda. Viral tidak selalu berarti nyata,” tegas Ahmad Fauzi.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










