bukamata.id – Iran memasuki awal 2026 dengan tekanan besar dari dalam negeri. Krisis ekonomi yang kian parah memicu gelombang demonstrasi di berbagai wilayah, di tengah melemahnya nilai mata uang dan lonjakan harga kebutuhan pokok. Pemerintahan Presiden Masoud Pezeshkian kini menghadapi ujian serius akibat kombinasi inflasi tinggi dan kepercayaan publik yang terus menurun.
Mengutip laporan Al Jazeera pada Senin (12/1), aksi protes tercatat berlangsung di sejumlah kota. Salah satu yang paling menonjol terjadi pada Selasa malam di Abdanan, sebuah kota di Provinsi Ilam, wilayah tengah Iran. Rekaman yang beredar memperlihatkan ribuan warga turun ke jalan, membentuk arak-arakan panjang sambil melontarkan teriakan protes.
Unjuk rasa tersebut melibatkan berbagai kelompok usia. Anak-anak yang digandeng orang tua hingga warga lanjut usia terlihat memenuhi ruas jalan kota kecil itu, mencerminkan luasnya dampak krisis ekonomi yang dirasakan masyarakat.
Merespons situasi tersebut, pemerintah Iran segera meningkatkan pengawasan keamanan dan memberlakukan pembatasan akses internet sejak Kamis (8/1/2026). Namun langkah itu dinilai tidak efektif. Aksi demonstrasi tetap berlangsung meski ruang digital dibatasi.
Tekanan Ekonomi dan Kejatuhan Rial
Akar persoalan demonstrasi ini berawal dari kondisi ekonomi yang terus memburuk. Nilai tukar rial mengalami tekanan berat, sementara daya beli masyarakat merosot tajam. Kenaikan harga kebutuhan sehari-hari menjadi pemicu utama kemarahan publik.
Bloomberg melaporkan bahwa mata uang Iran telah lama berada dalam posisi rapuh akibat sanksi Barat dan praktik korupsi yang menggerogoti sistem ekonomi. Situasi ini semakin memperlemah kepercayaan masyarakat terhadap stabilitas finansial negara.
Pada akhir Desember 2025, nilai rial tercatat anjlok sekitar 45 persen terhadap dolar Amerika Serikat. Kepanikan mendorong warga mengalihkan tabungan mereka ke mata uang asing, emas, maupun aset properti sebagai langkah penyelamatan nilai kekayaan.
Kondisi tersebut diperparah oleh kebijakan nilai tukar bertingkat. Pemerintah memberikan subsidi impor kepada entitas tertentu, namun sistem ini justru membuka celah penyalahgunaan dan memperkuat persepsi ketidakadilan ekonomi di kalangan publik.
“Selama inflasi masih menjadi masalah kronis dalam perekonomian, berharap nilai tukar yang stabil tidaklah realistis,” terang Ekonom Mohammad Kohandal, dikutip CNBC.
Selain persoalan domestik, tekanan eksternal turut memperburuk situasi. Sanksi internasional terkait program nuklir Iran membatasi ekspor minyak dan mempersempit akses ke sistem perbankan global. Akibatnya, kemampuan negara dalam memperoleh serta mengelola devisa menjadi sangat terbatas.
Harga minyak dunia yang melemah turut menekan anggaran negara. Minyak mentah Brent tercatat turun 18 persen sepanjang 2025, berada di kisaran USD60 per barel. Angka ini jauh dari kebutuhan Iran yang diperkirakan mencapai USD165 per barel untuk menyeimbangkan anggaran negara, menurut perhitungan Dana Moneter Internasional (IMF) pada Mei lalu.
Sikap Pemerintah dan Ketegangan Geopolitik
Presiden Masoud Pezeshkian akhirnya angkat bicara menanggapi gelombang protes tersebut. Dalam wawancara di televisi pemerintah pada Minggu, ia menuding campur tangan asing sebagai faktor pemicu instabilitas.
Pezeshkian menyebut Amerika Serikat dan Israel berupaya “menabur kekacauan dan ketidaktertiban” di Iran dengan mengarahkan “kerusuhan”. Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak terprovokasi dan menjauh dari pihak yang disebutnya sebagai “perusuh dan teroris”.
Nada serupa disampaikan Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf. Ia memperingatkan Washington agar tidak salah langkah dalam membaca situasi kawasan.
“Mari kita perjelas, jika terjadi serangan terhadap Iran, wilayah pendudukan (Israel) serta semua pangkalan dan kapal AS akan menjadi target sah kita,” kata Qalibaf, mantan komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Pernyataan keras ini muncul di tengah memori konflik bersenjata yang masih segar. Tahun lalu, Iran terlibat perang selama 12 hari dengan Israel dan Amerika Serikat setelah serangan mendadak Israel pada Juni. Dalam konflik tersebut, fasilitas nuklir Iran menjadi sasaran serangan udara AS.
Serangan itu menelan korban ratusan orang, termasuk warga sipil, pejabat militer, dan ilmuwan. Iran membalas dengan meluncurkan ratusan rudal balistik ke sejumlah kota di Israel, yang mengakibatkan 28 orang tewas di pihak Israel.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











