bukamata.id – Konten giveaway di media sosial selama ini identik dengan kejutan, spontanitas, dan empati. Salah satu nama yang paling sering muncul dalam format tersebut adalah Willie Salim, kreator konten yang dikenal luas melalui aksi berbagi kepada masyarakat kecil, dari pengemudi ojek online hingga pedagang kaki lima.
Namun, citra itu mulai bergeser setelah muncul pengakuan mengejutkan dari seorang pria bernama Risky, yang mengaku pernah terlibat langsung sebagai talent dalam konten giveaway Willie Salim.
Pengakuan ini membuka tabir proses produksi konten yang selama ini tersembunyi dari publik dan memicu perdebatan luas soal keaslian, transparansi, dan etika konten sosial digital.
Pengakuan Risky Muncul ke Publik
Risky mengungkapkan pengalamannya melalui kanal YouTube Denny Sumargo pada Sabtu, 24 Januari 2026. Dalam tayangan tersebut, Risky menyatakan bahwa keterlibatannya dalam konten Willie Salim bukan terjadi secara kebetulan, melainkan melalui kesepakatan awal dengan pihak internal tim Willie.
“Menurut saya settingan, karena awalnya kita perjanjian dulu sama dia. Perjanjian saya sama pihak orang yang kerja di Willie,” ujar Risky.
Ia menegaskan bahwa sejak awal sudah ada komunikasi dan kesepakatan terkait peran yang harus ia jalani di dalam konten tersebut.
Direkrut Jadi ‘Ojol’, Disiapkan Jadi Adegan Spontan
Risky mengaku dihubungi oleh asisten Willie Salim dan ditawari untuk terlibat sebagai talent dengan peran pengemudi ojek online. Konsep yang dijelaskan kepadanya adalah pertemuan seolah-olah terjadi secara spontan di jalan.
“Awalnya bilang, ‘Mas cariin saya pisang sama pohonnya kalau bisa saya kasih 2 juta’,” kata Risky menirukan permintaan dari tim.
Dalam praktiknya, Risky diminta mencari pohon pisang di sekitar lokasi syuting. Namun proses tersebut tidak sepenuhnya alami. Ia mengaku dibantu oleh tim produksi, bahkan disebutkan bahwa tim telah lebih dulu berkoordinasi dengan pemilik kebun untuk keperluan pengambilan properti konten.
Skenario Produksi: Duduk di Motor, Tunggu Willie Datang
Risky menjelaskan secara detail bagaimana adegan dalam video tersebut dirancang.
“Caranya duduk di motor diam. Kak Willie nyamperin. Seolah lu lagi narik, disamperin sama Willie. Seolah-olah ketemu mendadak,” jelasnya.
Narasi ini kemudian diperkuat dengan adegan lanjutan, di mana Risky membawa pohon pisang ke rumah Willie Salim, sesuai alur cerita yang telah disepakati sebelumnya.
Uang Rp2 Juta di Depan Kamera
Dalam video yang diunggah ke publik, Risky terlihat menerima uang tunai Rp2 juta dari Willie Salim. Momen ini menjadi titik emosional konten, sebuah simbol bantuan dan kebaikan yang menyentuh.
Namun, menurut pengakuan Risky, realitas di balik layar sangat berbeda.
“Dikasih ke saya duitnya, saya terima. Pas salaman saya disuruh bilang ‘jangan lupa follow IG Willie Salim’,” ujarnya.
Tak berhenti di situ, Risky mengungkap bahwa uang tersebut bukan benar-benar untuknya.
“Duitnya kita kasih dia lagi. Diambil timnya,” kata Risky.
Fakta Setelah Syuting: Honor Rp500 Ribu
Sebagai bentuk kompensasi, Risky mengaku menerima bayaran terpisah dari pihak tim. Namun nominalnya jauh dari yang ditampilkan di video.
“Kok gopek. Ya udah. Saya pikir dua juta beneran, tapi alhamdulillah senang,” ucap Risky.
Ia menyebut hanya menerima Rp500 ribu sebagai honor talent, angka yang kemudian memicu kemarahan dan kekecewaan warganet, karena dinilai tidak sesuai dengan narasi bantuan yang ditampilkan ke publik.
Reaksi Warganet: Konten Sosial atau Ilusi Kebaikan?
Pengakuan Risky dengan cepat menyebar dan memicu perdebatan luas di media sosial. Sebagian warganet merasa tertipu dan mempertanyakan kejujuran konten giveaway. Sebagian lain membela dengan alasan bahwa konten digital adalah hiburan, bukan realitas murni.
Isu ini berkembang menjadi diskusi yang lebih besar:
- Apakah konten sosial wajib transparan?
- Apakah dramatization boleh dilakukan tanpa penjelasan ke audiens?
- Di mana batas antara storytelling dan manipulasi empati?
Willie Salim Akhirnya Buka Suara
Menanggapi polemik yang kian membesar, Willie Salim memberikan klarifikasi resmi melalui Instagram Story pada Minggu, 25 Januari 2026. Ia menyatakan jarang menanggapi isu, namun merasa perlu meluruskan karena sudah menjadi konsumsi publik.
“Aku jarang menanggapi isu, tapi karena ini sudah jadi konsumsi publik, aku merasa perlu meluruskan beberapa hal dengan kepala dingin,” tulis Willie.
Willie menegaskan bahwa dalam dunia konten digital dikenal istilah storytelling, dramatization, dan reenactment.
“Itu adalah format hiburan untuk menyampaikan cerita, bukan niat untuk menipu atau merugikan siapa pun,” jelasnya.
Ia juga menekankan bahwa dirinya tidak pernah berniat membohongi publik soal hadiah.
“Satu prinsip yang aku pegang: aku tidak pernah berniat membohongi soal hadiah atau merugikan orang,” tulis Willie.
Konten Lama Tahun 2023
Willie mengungkap bahwa konten yang kini dipersoalkan merupakan karya lama yang dibuat pada 2023, bagian dari proses belajarnya sebagai kreator.
Ia menyatakan terbuka terhadap kritik, namun memberi penegasan keras terkait dampak yang dialaminya.
“Ketika kritik berubah menjadi doxxing, penyebaran data pribadi, atau tindakan nyata mendatangi rumah seseorang hingga membuat orang merasa terancam dan tidak aman, itu bukan lagi kritik,” tegasnya.
Willie menyebut saat ini memilih fokus melanjutkan karya yang menurutnya memberi dampak positif.
Nama Bobon Santoso Ikut Diseret
Di tengah polemik, publik kembali mengingat pernyataan Bobon Santoso, kreator konten masak besar, yang sebelumnya secara terbuka mengaku tidak menyukai Willie Salim.
Bobon mengungkapkan kekecewaannya terkait konten hilangnya 200 kilogram rendang di Palembang, yang menurutnya merugikan nama daerah tersebut.
“Gue nggak suka sama dia. Dari kontennya, tingkah lakunya kan terwakilkan di situ,” ujar Bobon, mengutip podcast Deddy Corbuzier, Minggu (25/1/2026).
Bobon juga menceritakan pengalaman kolaborasi mereka di Bali, di mana ia menilai Willie bersikap kurang etis, bahkan di luar kamera.
“Gue nggak suka dengan adab dan etika dia, suka nyuruh-nyuruh, bentak, bahkan off-cam ke kru gue,” kata Bobon.
Refleksi Akhir: Konten, Etika, dan Kepercayaan Publik
Kasus ini menegaskan satu hal penting: konten sosial bukan sekadar hiburan. Ia membangun emosi, empati, dan kepercayaan publik. Ketika narasi kebaikan dipertanyakan, dampaknya jauh lebih besar dari sekadar views atau engagement.
Di era digital, batas antara hiburan, realita, dan pencitraan semakin tipis. Transparansi menjadi kunci agar konten sosial tidak kehilangan makna dan kepercayaan audiens.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










