bukamata.id – Jagat maya kembali dibuat geger oleh sebuah video yang menampilkan kerangka besar menyerupai lift kaca berdiri di tebing ikonik Pantai Kelingking, Nusa Penida, Bali. Video yang beredar di media sosial itu memperlihatkan bagaimana besi-besi logam raksasa mulai menempel di dinding tebing yang selama ini dikenal dengan keindahan bentuknya yang menyerupai kepala dinosaurus.
Bukan kekaguman yang muncul, melainkan gelombang kekecewaan dari publik. Banyak yang menyayangkan keputusan pembangunan tersebut karena dinilai merusak pemandangan alam Nusa Penida yang telah menjadi salah satu simbol keindahan Bali di mata dunia.
“View seindah ini malah dibangun bangunan seperti ini,” tulis akun Instagram @pembasmi.kehaluan.reall pada Rabu (29/10/2025). Komentar itu mencerminkan perasaan banyak orang yang merasa kehilangan pesona alami Kelingking Beach—ikon wisata yang selama ini menjadi magnet bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.
Simbol Keindahan Bali yang Terancam
Pantai Kelingking selama ini dikenal sebagai salah satu destinasi paling ikonik di Nusa Penida. Tebingnya yang menjulang membentuk siluet seperti T-Rex, berpadu dengan laut biru jernih dan pasir putih di bawahnya, menjadikannya spot foto wajib bagi wisatawan yang berkunjung ke Bali.
Tak heran, Kelingking disebut-sebut sebagai “mahakarya alam” yang membuat Nusa Penida terkenal hingga ke mancanegara. Pulau ini bahkan menjadi simbol pariwisata Bali yang lebih alami, berbeda dengan suasana urban di Kuta atau Seminyak.
Namun kini, pemandangan dramatis itu mulai terganggu oleh kehadiran kerangka besi yang mencolok di sisi tebing. Proyek lift kaca yang diklaim akan mempermudah akses wisatawan menuju pantai justru dianggap merusak karakter alami Nusa Penida yang terkenal dengan kesunyian dan tantangan medan alaminya.
Banyak netizen yang menilai bahwa keindahan Kelingking justru terletak pada perjuangan untuk mencapainya. “Pantai Kelingking itu indah karena butuh usaha buat ke sana. Harus turun tangga curam, tapi hasilnya luar biasa,” tulis akun @arz*** di kolom komentar.
Komentar serupa juga datang dari warganet lain yang merasa kecewa, “Ya ampun belum sempat ke sana sudah digituin saja, tega bener jadi nggak bagus,” ujar @ald***.
Proyek Ambisius yang Menuai Tanda Tanya
Berdasarkan informasi yang beredar, pembangunan lift kaca ini sudah dimulai sejak Juli 2023. Proyek setinggi 182 meter itu disebut akan dilengkapi dengan platform kaca setiap 20 meter, tempat wisatawan bisa berhenti berfoto dan menikmati pemandangan dari ketinggian.
Lift tersebut dikerjakan oleh investor asal Tiongkok melalui kerja sama antara PT BNP dan Banjar Adat Karang Dawa. Pihak pengelola mengklaim bahwa proyek ini telah mengantongi izin resmi dan telah melalui kajian lingkungan yang ketat.
Namun publik tak mudah percaya. Banyak pihak mempertanyakan transparansi proses perizinan, termasuk apakah benar sudah ada kajian geoteknik dan konservasi yang komprehensif. Pasalnya, struktur batuan kapur di Kelingking dikenal rapuh dan rentan terhadap erosi. Tambahan beban dari bangunan logam besar dikhawatirkan dapat mengganggu stabilitas tebing dan mempercepat kerusakan alam.
“Kalau sampai tebingnya retak atau runtuh, siapa yang mau tanggung jawab? Ini kan ikon Bali,” tulis seorang pengguna media sosial dalam unggahan lain yang membahas proyek tersebut.
Pembelaan Pihak Pengelola dan Respons Pemerintah
Menanggapi kritik yang meluas, pihak pengelola proyek menyatakan bahwa pembangunan lift kaca dilakukan dengan mempertimbangkan keselamatan pengunjung. Mereka menegaskan bahwa material yang digunakan ramah lingkungan dan tidak akan merusak alam sekitar.
Namun, pernyataan itu belum mampu meredam gelombang protes. Banyak yang beranggapan bahwa alasan “mempermudah akses wisatawan” tidak sebanding dengan risiko kerusakan lanskap yang sudah terkenal di seluruh dunia.
Di tengah polemik tersebut, Gubernur Bali I Wayan Koster ikut menyinggung soal lemahnya pengawasan tata ruang dan perizinan di sejumlah wilayah. “Saya sudah mengikuti langkah-langkah dan upaya yang dilakukan Pansus TRAP di sejumlah wilayah serta tindakan sesuai kewenangan,” ujar Koster dalam pernyataan resminya pada Selasa (28/10/2025).
Ia menegaskan, pembangunan di kawasan wisata strategis seperti Nusa Penida harus dilakukan secara transparan dan berlandaskan kajian ilmiah. Pemerintah, kata Koster, sedang memperketat tata ruang dan menata ulang arah pembangunan Bali menuju masa depan yang lebih berkelanjutan.
Meski demikian, hingga kini publik masih menunggu tindak lanjut nyata dari pemerintah daerah terhadap proyek kontroversial tersebut.
Suara dari Dunia Maya: Keindahan yang Tak Tergantikan
Media sosial menjadi ruang tempat masyarakat meluapkan kekecewaan mereka. Unggahan tentang proyek lift kaca di Pantai Kelingking dipenuhi ribuan komentar yang bernada serupa: menyesalkan, kecewa, bahkan marah.
“Padahal tinggal buat jalur yang aman daripada dibikin lift,” tulis @eri***. Komentar lain menyebut bahwa proyek semacam itu seharusnya tidak dilakukan di area seindah Nusa Penida.
Beberapa netizen bahkan menyindir bahwa “pariwisata Bali mulai kehilangan jiwanya” karena terlalu berorientasi pada kenyamanan modern, bukan pada keaslian alam dan budaya yang justru menjadi daya tarik utamanya.
Nusa Penida, Permata Bali yang Harus Dijaga
Sebagai destinasi wisata unggulan, Nusa Penida memang memiliki banyak daya tarik selain Kelingking Beach. Ada Broken Beach dengan lengkungan karang alaminya, Angel’s Billabong yang terkenal dengan kolam alami berair jernih, hingga Pantai Atuh yang menampilkan panorama laut lepas.
Semua keindahan itu berpadu membentuk lanskap khas Bali bagian tenggara—liar, dramatis, namun memikat. Justru itulah yang membuat wisatawan jatuh cinta: kesederhanaan alam yang masih murni.
Kini, dengan adanya proyek lift kaca, banyak pihak khawatir Nusa Penida kehilangan karakter alaminya. Jika keindahan yang menjadi daya tarik utama dirusak oleh pembangunan yang tidak bijak, maka pariwisata Bali bisa kehilangan salah satu permata paling berharga.
Karena itu, seruan publik agar proyek ini dievaluasi bukan sekadar keluhan emosional. Ini adalah bentuk kepedulian agar Bali, khususnya Nusa Penida, tetap menjadi destinasi yang mempertahankan esensi utamanya—keindahan alam yang lahir dari keseimbangan, bukan dari beton dan kaca.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











