bukamata.id – Mojang Bandung, Tika Tazkya Nurdyawati, terus menorehkan prestasi di bidang akademik internasional. Perempuan asal Bandung ini baru saja menyelesaikan studi Master of International Relations di University of Melbourne, Australia, dan kini tengah mempersiapkan diri untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang doktoral (PhD) dengan spesialisasi politik.
Hal tersebut disampaikan Tika saat berbagi cerita perjalanan studinya dalam sebuah kegiatan yang digelar di rooftop Hotel Zest Bandung, Sabtu (8/3/2026).
“Perkenalkan, aku Tika, asli Bandung. Sekarang sedang menempuh studi di University of Melbourne, Australia. Aku baru saja lulus dari program Master of International Relations, dan sekarang alhamdulillah sedang dalam proses untuk melanjutkan ke PhD dengan spesialisasi politik,” ujarnya.
Perjalanan Studi Penuh Tantangan
Tika mengungkapkan, perjalanan menuju studi di luar negeri tidak selalu mudah. Ia harus melewati berbagai fase, mulai dari penolakan beasiswa hingga proses adaptasi di lingkungan baru.
Menurutnya, tantangan sudah dimulai sejak tahap pendaftaran. Ia sempat beberapa kali mengalami kegagalan sebelum akhirnya berhasil melanjutkan studi di Australia.
“Dari awal pendaftaran saja aku melewati banyak fase kegagalan. Beberapa kali mengalami penolakan beasiswa, lalu harus berjuang lagi sampai akhirnya diterima,” katanya.
Setelah tiba di Melbourne, tantangan berikutnya adalah proses adaptasi dengan ritme kehidupan yang berbeda. Selain itu, tuntutan akademik yang tinggi juga menjadi ujian tersendiri.
“Ekspektasi mereka terhadap critical thinking sangat tinggi agar kita bisa menjadi versi terbaik dari diri kita,” jelasnya.
Menghadapi Culture Shock
Selama tinggal di Australia, Tika juga merasakan perbedaan budaya yang cukup signifikan. Ia menilai pengalaman tersebut memberikan banyak pelajaran, terutama mengenai toleransi dan penghargaan terhadap perbedaan.
“Sisi positifnya, aku belajar banyak tentang toleransi. Kita diajarkan menghargai orang lain bukan dari siapa dia, tapi dari nilai yang dia bawa,” ujarnya.
Namun di sisi lain, ia juga menghadapi tantangan karena menjadi bagian dari kelompok minoritas, baik dari segi ras, budaya, maupun agama.
“Karena aku memakai hijab, tentu ada penyesuaian dalam pergaulan dan ibadah. Kita harus bisa menavigasi bagaimana tetap mempertahankan identitas kita tapi juga bisa beradaptasi dengan lingkungan,” katanya.
Selain itu, ia juga merasakan perbedaan budaya kerja yang lebih disiplin dibandingkan di Indonesia.
Membangun Komunitas Pemuda
Saat ini Tika tengah menjalani masa transisi sebelum melanjutkan studi doktoralnya. Ia memanfaatkan waktu tersebut dengan kembali ke Indonesia dan aktif berkolaborasi dengan berbagai komunitas.
Selain bekerja sama dengan NGO dan media untuk membuat program inspiratif bagi pemuda, Tika juga mendirikan komunitas bernama Muda Empati yang berfokus pada isu pembangunan berkelanjutan atau SDGs.
Komunitas tersebut menekankan pentingnya empati sebagai dasar bagi generasi muda untuk memahami sekaligus terlibat dalam berbagai persoalan sosial.
“Kami fokus pada delapan dari 17 poin SDGs, dengan empati sebagai dasar bagi pemuda untuk belajar secara kognitif sekaligus terlibat secara emosional dalam isu sosial,” ujarnya.
Bandung sebagai Kota Inspirasi
Sebagai lulusan Universitas Padjadjaran, Tika mengaku memiliki banyak kenangan di Kota Bandung. Salah satu yang paling membekas adalah masa sekolah di SMA Negeri 8 Bandung yang menurutnya menjadi fondasi penting dalam perjalanan hidupnya.
Menurut Tika, Bandung memiliki potensi besar sebagai kota kreatif sekaligus kota pendidikan. Banyak tokoh besar lahir dan berkembang dari kota ini, termasuk Soekarno yang pernah menempuh pendidikan di Institut Teknologi Bandung.
“Bandung bukan hanya kota perjuangan, tapi juga kota kreatif dan kota pendidikan. Banyak ide besar lahir dari kota ini,” katanya.
Meski demikian, ia menilai Bandung masih menghadapi berbagai tantangan perkotaan seperti transportasi publik, pengelolaan sampah, hingga banjir.
“Bandung adalah work in progress. Perjuangan untuk kota ini masih panjang,” ujarnya.
Pesan untuk Generasi Muda
Jika mendapat kesempatan berkontribusi untuk kota kelahirannya, Tika ingin membangun konektivitas antar komunitas pemuda di Bandung agar berbagai potensi yang ada dapat diberdayakan secara maksimal.
Menurutnya, kekuatan sebuah kota tidak hanya terletak pada potensi ekonomi atau kreatifnya, tetapi juga pada kualitas generasi mudanya.
Ia pun berpesan kepada generasi muda Bandung untuk terus percaya pada potensi diri sekaligus menumbuhkan empati terhadap sesama.
“Jangan lupa dengan potensi diri sendiri, tapi juga jangan lupa memiliki empati kepada sesama. Karena pada akhirnya sukses bukan tentang berapa banyak piala yang kita kumpulkan, tetapi tentang seberapa besar dampak yang kita tinggalkan bagi orang lain,” pungkasnya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News








