Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru
MotoGP

Tampil Agresif di Phillip Island, Marc Marquez Rajai Sprint Race MotoGP Australia Pasca-Insiden Jorge Martin

Sabtu, 24 Oktober 2026 20:32 WIB

Gempuran Padatnya Jadwal Menguras Fisik Skuad Persib, Marc Klok Minta Doa Bobotoh

Sabtu, 24 Oktober 2026 20:12 WIB

Aksi Anarkis di Garut Viral, Pemotor Dikeroyok Sekelompok Pemuda Hingga Terjatuh

Sabtu, 24 Oktober 2026 19:07 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Tampil Agresif di Phillip Island, Marc Marquez Rajai Sprint Race MotoGP Australia Pasca-Insiden Jorge Martin
  • Gempuran Padatnya Jadwal Menguras Fisik Skuad Persib, Marc Klok Minta Doa Bobotoh
  • Aksi Anarkis di Garut Viral, Pemotor Dikeroyok Sekelompok Pemuda Hingga Terjatuh
  • Kisah Bayi Surili yang Selamat dari Kobaran Api Karhutla Ciremai: Terpisah dari Induk dan Butuh Penanganan Khusus
  • Gemparkan Paris! Mengenal The Sacred Riana: Pesulap Indonesia Pertama yang Raih ‘Oscar Dunia Sulap’
  • Garudayaksa vs Persib: Adu Taktik Skuad Mewah Ratusan Miliar di Pakansari
  • Intip 5 Wisata Curug Hits di Kuningan, Ada yang Punya Pemandian Air Panas Alami!
  • Darurat Karhutla Jawa Barat: Lebih dari 1.100 Hektare Lahan Hangus, Subang Jadi Wilayah Paling Parah!
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Sabtu, 24 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Gaya Hidup

Kisah Nyata Bu Guru Cantik Pilih Hidup Susah Demi Anak-anak Kaki Langit!

By Aga GustianaSabtu, 16 Mei 2026 09:48 WIB5 Mins Read
Kisah Riska Andriani, bu guru cantik mengajar di sekolah pelosok daerah. (Foto: Instagram @rskdrian)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – “Jadi guru di kota kayaknya enak banget. Tapi kalo semua guru di kota, siapa yang mengajar anak-anak di wilayah terpencil ini?” Kalimat retoris itu tertulis lembut di salah satu unggahan video Instagram milik Riska Andriani melalui akun pribadinya, @rskdrian. Di balik parasnya yang ayu dan pembawaannya yang tenang, tersimpan ketangguhan luar biasa. Perempuan muda ini memilih jalan sunyi yang jarang dilirik generasi seusianya: melintasi jalanan setapak yang curam, menembus rimbunnya hutan, dan mendedikasikan hidupnya demi masa depan anak-anak di wilayah pedalaman.

Di sebuah sudut terpencil di Sulawesi Tengah, tepatnya di Dusun Ogolau, Desa Tibu, berdiri sebuah bangunan sederhana bernama Sekolah Dasar Kecil Terpencil (SDKT) Ogulau. Sekolah ini menjadi saksi bisu bagaimana potret pendidikan di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) masih terus berjuang di tengah keterbatasan fasilitas dan akses yang sangat minim.

Sepotong Ruang Kelas yang Terbelah Tirai

Memasuki lingkungan SDKT Ogulau, siapa pun akan langsung disuguhi realitas yang menggetarkan dada. Sekolah ini bukanlah bangunan megah dengan laboratorium komputer atau perpustakaan yang nyaman. Sekolah ini hanya memiliki dua ruang kelas yang kondisinya jauh dari kata ideal. Atap-atap plafonnya terlihat mulai rapuh dan jebol di beberapa sudut.

Namun, keterbatasan ruang tidak menyurutkan langkah kaki Riska untuk mengajar. Solusi kreatif sekaligus memilukan pun terpaksa diambil. Guna menyiasati kekurangan ruangan, satu ruang kelas terpaksa dibagi dua untuk digunakan oleh dua kelas yang berbeda. Bahkan, jika situasi mendesak, satu ruangan harus disekat demi menampung empat kelas sekaligus. Pembatasnya? Hanya selembar tirai kain sederhana berwarna ungu dan terpal plastik bermotif garis biru-putih yang digantung seadanya.

Baca Juga:  Di Balik Viral Rumah Megah Tukang Cilok: Kisah Nyata yang Jauh Lebih Mahal dari Istananya!

Saat proses belajar mengajar berlangsung, suara Riska yang sedang menjelaskan materi di balik tirai kerap kali bersahutan dengan riuh suara anak-anak dari kelas sebelah. Konsentrasi adalah kemewahan di sini, namun bagi para siswa, bisa duduk di dalam kelas dan mendengarkan penjelasan guru sudah menjadi anugerah yang tak terkira.

“Kalau soal semangat, mereka lebih bersemangat dari saya,” tulis Riska dengan nada haru saat menggambarkan antusiasme anak-anak didiknya.

Setiap pagi, anak-anak Dusun Ogolau harus berjalan kaki berkilo-kilometer membelah perbukitan hijau untuk sampai ke sekolah. Karena jarak tempuh yang sangat jauh dan melelahkan, ada pemandangan unik sekaligus menyentuh yang terekam dalam keseharian mereka. Anak-anak tersebut kerap membawa jeriken atau drum bekas berukuran besar yang diisi air dari rumah. Jeriken-jeriken itu mereka bawa untuk stok bekal air minum bersama di kelas. Mereka meminumnya beramai-ramai menggunakan gayung atau gelas plastik bergantian, saling berbagi dahaga setelah menempuh perjalanan panjang di bawah terik matahari.

Sinergi Pengabdian Bersama Najib Nadir

Perjuangan merawat nyala api pendidikan di Dusun Ogolau tidak dilakukan Riska seorang diri. Di wilayah yang sama, terdapat sosok guru inspiratif lainnya bernama Najib Nadir (melalui akun @najib_nadir). Nama Najib sempat viral di jagat maya beberapa waktu lalu setelah aksi heroiknya terekam sedang memperbaiki ruang kelas yang rusak secara mandiri dengan alat seadanya demi memastikan anak-anak bisa belajar dengan aman.

Baca Juga:  Tamparan Keras Buat Anak Muda! Pemuda Ini Dobrak Gengsi, Jualan Cireng Sebelum Masuk Ruang UTBK 2026!

Kehadiran Najib dan Riska menjadi duet pengabdi yang menghidupkan asa di SDKT Ogulau. Ketika sarana fisik sekolah lambat mendapatkan sentuhan perubahan, mereka berdua memilih bergerak sendiri. Mulai dari menambal dinding kayu yang bolong, merapikan meja kursi yang bergoyang, hingga menuntun anak-anak mengeja huruf demi huruf di papan tulis yang mulai memudar.

Bagi mereka, mengajar di pelosok bukan sekadar mentransfer ilmu dari buku paket ke dalam ingatan siswa. Ini adalah tentang bagaimana memberikan ruang bagi anak-anak pedalaman agar tetap berani bermimpi setinggi anak-anak yang beruntung di kota besar.

Apresiasi Tertinggi di Hari Pendidikan Nasional

Ketulusan yang menembus batas hutan dan bukit ini akhirnya terdengar hingga ke pusat pemerintahan daerah. Tepat pada peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), 2 Mei 2026, perjuangan sunyi Riska Andriani dan Najib Nadir mendapatkan panggung kehormatan.

Atas dedikasi, loyalitas, dan pengorbanan mereka yang tak terhitung nilainya, Bupati setempat secara langsung memberikan penghargaan khusus kepada kedua guru hebat ini. Penghargaan tersebut menjadi simbol pengakuan negara bahwa di tempat paling tersembunyi sekalipun, dedikasi seorang guru tetaplah sebuah mutiara yang bernilai tinggi. Bagi Riska dan Najib, penghargaan ini bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan bahan bakar baru untuk terus melangkah membelah belantara Ogolau.

Baca Juga:  Dunia Akui Kreativitas Indonesia! Alat Sederhana Ini Jadi Incaran Warga Asing

Riuh Simpati dan Doa dari Ruang Digital

Kisah yang dibagikan Riska melalui media sosial pribadinya langsung memantik simpati luar biasa dari warganet. Kolom komentarnya dibanjiri oleh ribuan pesan hangat yang mengaku terharu dan bangga atas pilihan hidup yang diambil oleh sang guru.

Banyak netizen yang menyoroti bagaimana panggilan jiwa mengalahkan segalanya di tengah zaman yang serba materialistis.

“Tidak semua orang kerja karena materi tapi panggilan hati,” tulis salah seorang netizen yang kagum dengan keteguhan hati Riska.

Doa-doa kebaikan juga mengalir deras dari netizen yang berharap agar perjuangan Riska dicatat sebagai ladang pahala yang tak terputus.

“Semoga selalu sehat, kuat, selamat, dan dimudahkan, dilancarkan segala urusan. Pahala jariyah untukmu nak… Aamiin ya rabb,” ujar netizen lainnya dalam bait doa yang tulus.

Tidak sedikit pula warganet yang memuji kepribadian Riska. Di mata mereka, kecantikan sejati seorang wanita terpancar saat ia bersedia mengulurkan tangan bagi mereka yang membutuhkan di tempat terpencil.

“Semoga ibu diberikan kesehatan selalu dan dimudahkan rejekinya, pekerjaannya… beruntung sekali cowo mendapatkan perempuan seperti ibu,” puji netizen yang lain.

Dari bilik kelas bersekat tirai di Dusun Ogolau, Riska Andriani dan Najib Nadir telah menuliskan sebuah pesan penting bagi bangsa ini: bahwa pendidikan tidak boleh berhenti hanya karena ketiadaan gedung yang megah, sebab esensi dari pendidikan adalah ketulusan hati yang menolak untuk menyerah.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Kisah Inspiratif
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Gemparkan Paris! Mengenal The Sacred Riana: Pesulap Indonesia Pertama yang Raih ‘Oscar Dunia Sulap’

Intip 5 Wisata Curug Hits di Kuningan, Ada yang Punya Pemandian Air Panas Alami!

Stop Sok Ngatur Hidup Orang! Petuah Berkelas Luna Maya di Tengah Kasus Juan Eve

Lagi-lagi Bikin Haru! Perhatian Amanda Manopo ke Fajar Sadboy Usai Beli Rumah Cash di Usia 19 Tahun

Pakai Akun IKD, Begini Alur Pembaruan Profil Penerima Bansos 2027 Lewat HP

Bangga! Jajanan Kaki Lima Bandung Ini Jadi Gorengan Terbaik Kedua di Dunia

Terpopuler
  • Momen HUT ke-62: Golkar Jabar Minta Kader Fokus Bantu Ekonomi Warga
  • Dedi Mulyadi Marah Ditagih Jalan Rusak, Pengamat: Batas Wewenang Bukan Alasan!
  • Balita 3 Tahun di Bandung Diduga Jadi Korban Kekerasan Seksual Ayah Kandung, Kuasa Hukum Minta Penanganan Kasus Dipercepat
  • Kisah Santri Cipasung yang Berhasil Mengubah Sejarah Pendidikan Islam Indonesia
  • Rapimnas PII 2026 Anugerahkan Penghargaan Narendra Dharma Abiyanta kepada Tiga Gubernur
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.