bukamata.id – “Jadi guru di kota kayaknya enak banget. Tapi kalo semua guru di kota, siapa yang mengajar anak-anak di wilayah terpencil ini?” Kalimat retoris itu tertulis lembut di salah satu unggahan video Instagram milik Riska Andriani melalui akun pribadinya, @rskdrian. Di balik parasnya yang ayu dan pembawaannya yang tenang, tersimpan ketangguhan luar biasa. Perempuan muda ini memilih jalan sunyi yang jarang dilirik generasi seusianya: melintasi jalanan setapak yang curam, menembus rimbunnya hutan, dan mendedikasikan hidupnya demi masa depan anak-anak di wilayah pedalaman.
Di sebuah sudut terpencil di Sulawesi Tengah, tepatnya di Dusun Ogolau, Desa Tibu, berdiri sebuah bangunan sederhana bernama Sekolah Dasar Kecil Terpencil (SDKT) Ogulau. Sekolah ini menjadi saksi bisu bagaimana potret pendidikan di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) masih terus berjuang di tengah keterbatasan fasilitas dan akses yang sangat minim.
Sepotong Ruang Kelas yang Terbelah Tirai
Memasuki lingkungan SDKT Ogulau, siapa pun akan langsung disuguhi realitas yang menggetarkan dada. Sekolah ini bukanlah bangunan megah dengan laboratorium komputer atau perpustakaan yang nyaman. Sekolah ini hanya memiliki dua ruang kelas yang kondisinya jauh dari kata ideal. Atap-atap plafonnya terlihat mulai rapuh dan jebol di beberapa sudut.
Namun, keterbatasan ruang tidak menyurutkan langkah kaki Riska untuk mengajar. Solusi kreatif sekaligus memilukan pun terpaksa diambil. Guna menyiasati kekurangan ruangan, satu ruang kelas terpaksa dibagi dua untuk digunakan oleh dua kelas yang berbeda. Bahkan, jika situasi mendesak, satu ruangan harus disekat demi menampung empat kelas sekaligus. Pembatasnya? Hanya selembar tirai kain sederhana berwarna ungu dan terpal plastik bermotif garis biru-putih yang digantung seadanya.
Saat proses belajar mengajar berlangsung, suara Riska yang sedang menjelaskan materi di balik tirai kerap kali bersahutan dengan riuh suara anak-anak dari kelas sebelah. Konsentrasi adalah kemewahan di sini, namun bagi para siswa, bisa duduk di dalam kelas dan mendengarkan penjelasan guru sudah menjadi anugerah yang tak terkira.
“Kalau soal semangat, mereka lebih bersemangat dari saya,” tulis Riska dengan nada haru saat menggambarkan antusiasme anak-anak didiknya.
Setiap pagi, anak-anak Dusun Ogolau harus berjalan kaki berkilo-kilometer membelah perbukitan hijau untuk sampai ke sekolah. Karena jarak tempuh yang sangat jauh dan melelahkan, ada pemandangan unik sekaligus menyentuh yang terekam dalam keseharian mereka. Anak-anak tersebut kerap membawa jeriken atau drum bekas berukuran besar yang diisi air dari rumah. Jeriken-jeriken itu mereka bawa untuk stok bekal air minum bersama di kelas. Mereka meminumnya beramai-ramai menggunakan gayung atau gelas plastik bergantian, saling berbagi dahaga setelah menempuh perjalanan panjang di bawah terik matahari.
Sinergi Pengabdian Bersama Najib Nadir
Perjuangan merawat nyala api pendidikan di Dusun Ogolau tidak dilakukan Riska seorang diri. Di wilayah yang sama, terdapat sosok guru inspiratif lainnya bernama Najib Nadir (melalui akun @najib_nadir). Nama Najib sempat viral di jagat maya beberapa waktu lalu setelah aksi heroiknya terekam sedang memperbaiki ruang kelas yang rusak secara mandiri dengan alat seadanya demi memastikan anak-anak bisa belajar dengan aman.
Kehadiran Najib dan Riska menjadi duet pengabdi yang menghidupkan asa di SDKT Ogulau. Ketika sarana fisik sekolah lambat mendapatkan sentuhan perubahan, mereka berdua memilih bergerak sendiri. Mulai dari menambal dinding kayu yang bolong, merapikan meja kursi yang bergoyang, hingga menuntun anak-anak mengeja huruf demi huruf di papan tulis yang mulai memudar.
Bagi mereka, mengajar di pelosok bukan sekadar mentransfer ilmu dari buku paket ke dalam ingatan siswa. Ini adalah tentang bagaimana memberikan ruang bagi anak-anak pedalaman agar tetap berani bermimpi setinggi anak-anak yang beruntung di kota besar.
Apresiasi Tertinggi di Hari Pendidikan Nasional
Ketulusan yang menembus batas hutan dan bukit ini akhirnya terdengar hingga ke pusat pemerintahan daerah. Tepat pada peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), 2 Mei 2026, perjuangan sunyi Riska Andriani dan Najib Nadir mendapatkan panggung kehormatan.
Atas dedikasi, loyalitas, dan pengorbanan mereka yang tak terhitung nilainya, Bupati setempat secara langsung memberikan penghargaan khusus kepada kedua guru hebat ini. Penghargaan tersebut menjadi simbol pengakuan negara bahwa di tempat paling tersembunyi sekalipun, dedikasi seorang guru tetaplah sebuah mutiara yang bernilai tinggi. Bagi Riska dan Najib, penghargaan ini bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan bahan bakar baru untuk terus melangkah membelah belantara Ogolau.
Riuh Simpati dan Doa dari Ruang Digital
Kisah yang dibagikan Riska melalui media sosial pribadinya langsung memantik simpati luar biasa dari warganet. Kolom komentarnya dibanjiri oleh ribuan pesan hangat yang mengaku terharu dan bangga atas pilihan hidup yang diambil oleh sang guru.
Banyak netizen yang menyoroti bagaimana panggilan jiwa mengalahkan segalanya di tengah zaman yang serba materialistis.
“Tidak semua orang kerja karena materi tapi panggilan hati,” tulis salah seorang netizen yang kagum dengan keteguhan hati Riska.
Doa-doa kebaikan juga mengalir deras dari netizen yang berharap agar perjuangan Riska dicatat sebagai ladang pahala yang tak terputus.
“Semoga selalu sehat, kuat, selamat, dan dimudahkan, dilancarkan segala urusan. Pahala jariyah untukmu nak… Aamiin ya rabb,” ujar netizen lainnya dalam bait doa yang tulus.
Tidak sedikit pula warganet yang memuji kepribadian Riska. Di mata mereka, kecantikan sejati seorang wanita terpancar saat ia bersedia mengulurkan tangan bagi mereka yang membutuhkan di tempat terpencil.
“Semoga ibu diberikan kesehatan selalu dan dimudahkan rejekinya, pekerjaannya… beruntung sekali cowo mendapatkan perempuan seperti ibu,” puji netizen yang lain.
Dari bilik kelas bersekat tirai di Dusun Ogolau, Riska Andriani dan Najib Nadir telah menuliskan sebuah pesan penting bagi bangsa ini: bahwa pendidikan tidak boleh berhenti hanya karena ketiadaan gedung yang megah, sebab esensi dari pendidikan adalah ketulusan hati yang menolak untuk menyerah.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










