bukamata.id – Di tengah pesatnya perkembangan kawasan Ciumbuleuit dengan deretan gedung mewah, apartemen tinggi, dan kafe estetik, terselip kisah haru di balik sebuah rumah tua yang hampir rubuh.
Rumah itu milik Aye Sutisna (79), warga Kampung Kebon 7, Kecamatan Cidadap, Kota Bandung. Bangunan sederhana yang dibangun sejak 1977 ini kini nyaris tak layak huni dan telah runtuh sebagian karena faktor usia dan minimnya perawatan.
Ironisnya, rumah tersebut sudah masuk dalam program bantuan Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) pada 2023.
Semua dokumen seperti sertifikat tanah, Kartu Keluarga, hingga KTP sudah diserahkan ke RT, RW, dan kelurahan. Bahkan, tiga hari sebelum runtuh, petugas sempat datang untuk mendokumentasikan kondisi rumah. Namun, janji perbaikan sampai saat ini belum terealisasi.
Pada pagi hari, runtuhan plafon bagian depan rumah mengagetkan keluarga. Alvin, saudara Aye yang tinggal tak jauh dari lokasi, bercerita, “Kaget banget, langsung beberes supaya tidak ada paku jatuh yang bisa melukai anak-anak.”
Rumah yang dihuni oleh kakak laki-laki ayah Alvin ini sudah tidak direnovasi selama 48 tahun. Kayu penyangga telah lapuk, atap rapuh, dan ventilasi yang minim menyebabkan kondisi lembap. Dapur tradisional dengan tungku api menjadi satu-satunya ruang memasak.
Kini, Kakek Aye tinggal bersama satu anak dan tiga cucu dalam ruang sempit yang hanya memiliki satu kamar tidur tanpa kamar mandi. Pada malam hari, mereka tidur berdesakan di ruang yang sebagian atapnya sudah bocor.
Kesulitan ekonomi membuat Aye hanya bisa mengandalkan bantuan tetangga dan keluarga untuk kebutuhan sehari-hari. “Kalau makan seadanya, kadang cuma tahu, tempe, atau ikan asin,” katanya lirih.
Cucu pertamanya yang menjadi pengemudi ojek online berusaha membantu, namun penghasilannya belum cukup untuk memperbaiki rumah.
Kondisi rumah yang memprihatinkan turut memengaruhi kesehatan keluarga. Salah satu cucunya mengidap TBC, sedangkan Aye sendiri sudah lanjut usia dengan berbagai penyakit.
“Abah mah sudah tua, mungkin sebentar lagi meninggal. Saya berharap rumah ini bisa diperbaiki agar anak cucu punya tempat tinggal yang layak,” tuturnya.
Kisah Kakek Aye menggambarkan kontras nyata perkembangan Ciumbuleuit hari ini: di satu sisi penuh dengan gedung pencakar langit dan properti mewah, namun di sisi lain masih ada warga asli yang bertahan dalam kondisi rumah yang memprihatinkan, menunggu janji bantuan yang belum juga datang.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











