bukamata.id – Gelombang kekhawatiran melanda pasar keuangan Indonesia seiring dengan anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Per Senin (7/4/2025), mata uang Indonesia terpantau menembus Rp16.856 per dollar AS, mengalami pelemahan signifikan sebesar 1,22% atau 203 poin dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.
Data dari platform Bloomberg menunjukkan bahwa rupiah bergerak liar dalam rentang perdagangan hari ini, menyentuh level terendah di Rp17.224 per dollar AS.
Jika dibandingkan dengan awal tahun ini, rupiah telah kehilangan sekitar 4,45% nilainya. Bahkan, dalam setahun terakhir, setelah sempat menyentuh level terkuat di Rp15.060, kini rupiah justru menunjukkan tren pelemahan yang mengkhawatirkan.
Para analis pasar meyakini bahwa tekanan berat pada rupiah ini bersumber dari eskalasi perang dagang global yang dipicu oleh kebijakan kontroversial mantan Presiden AS, Donald Trump.
Pemberlakuan tarif impor resiprokal sebesar 32% terhadap berbagai negara, termasuk Indonesia, dinilai menjadi katalis utama sentimen negatif di pasar.
Pengamat pasar uang, Ariston Tjendra menilai, penyebab pelemahan nilai tukar (kurs) rupiah hari ini karena pengaruh respons negatif negara-negara atas kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat.
“Sentimen negatif dari pengumuman kebijakan tarif Trump (Presiden AS Donald Trump) yang direspons negatif oleh negara-negara yang dinaikkan tarifnya menjadi pemicu utama pelemahan rupiah,” ucap dilansir Antara, Senin (7/4/2025).
Menurutnya, pasar memiliki kekhawatiran bahwa ekonomi global tak akan baik-baik saja. Penurunan akibat perang dagang yang didorong kebijakan tarif resiprokal AS memicu pelaku pasar keluar dari aset berisiko dan masuk ke aset aman.
Selain itu, pelemahan kurs rupiah juga dipengaruhi data tenaga kerja nonfarm payrolls AS yang lebih bagus dari proyeksi. Adanya sentimen negatif untuk pergerakan aset berisiko juga dipicu oleh perang yang masih berlangsung di sejumlah wilayah dengan tensi yang meningkat.
“Perang di Timur Tengah di mana Israel meningkatkan serangan di jalur Gaza dan AS menyerang Yaman, serta perang di Ukraina di mana Rusia dan Ukraina saling meningkatkan serangan belakangan ini,” katanya.
Pada hari ini, operasi moneter rupiah dan valas diketahui masih libur.
“Kita masih nunggu respons pasar terhadap hasil negosiasi, bisa saja Trump melunak, dan positif lagi untuk harga aset berisiko,” ungkapnya.
Kondisi ini tentu menimbulkan kekhawatiran terhadap berbagai aspek perekonomian nasional. Melemahnya rupiah berpotensi mendongkrak harga barang impor, meningkatkan biaya utang dalam denominasi dollar, hingga mempengaruhi daya beli masyarakat.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











