Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Langit Jakarta dan Jawa Barat Dirayapi Asap Karhutla Kalimantan, Kualitas Udara Mulai Terancam?

Sabtu, 17 Oktober 2026 14:59 WIB

Bukti Bakat Indonesia Itu Real! Dari Lapangan Semen Kampung, Devina Digodok Pelatih Berlisensi UEFA

Sabtu, 17 Oktober 2026 14:51 WIB

Usai Debut Manis di ACL Two, Sandy Walsh Siap Tempur di Laga Persib vs Persik Kediri

Sabtu, 17 Oktober 2026 14:05 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Langit Jakarta dan Jawa Barat Dirayapi Asap Karhutla Kalimantan, Kualitas Udara Mulai Terancam?
  • Bukti Bakat Indonesia Itu Real! Dari Lapangan Semen Kampung, Devina Digodok Pelatih Berlisensi UEFA
  • Usai Debut Manis di ACL Two, Sandy Walsh Siap Tempur di Laga Persib vs Persik Kediri
  • Ironi Gubernur Konten: Pamer Aduan di Medsos, Tapi Gagap Saat Diadang Warga
  • Geger Dugaan Pelecehan Verbal Dosen UIN Bandung: Mahasiswa Gelar Aksi, Rektor Sampaikan Permohonan Maaf
  • Terjerat Skandal Naturalisasi, Malaysia Malah Masuk Nominasi Federasi Terbaik AFC 2026
  • Rekomendasi Restoran Sunda Legendaris di Garut: Nikmat Kulineran di Tengah Saung dan Udara Sejuk
  • Misi Amankan Poin Penuh di SJH, Ini Jadwal Nonton dan Link Streaming Persib vs Persik Kediri
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Sabtu, 17 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Langit Jakarta dan Jawa Barat Dirayapi Asap Karhutla Kalimantan, Kualitas Udara Mulai Terancam?

By Aga GustianaSabtu, 17 Oktober 2026 14:59 WIB3 Mins Read
Citra sebaran asap dari karhutla Kalimantan. (Foto: BMKG)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Partikel asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda wilayah Kalimantan dilaporkan telah bermigrasi hingga menutupi ruang udara Jakarta, Banten, serta Jawa Barat. Peristiwa pergerakan asap lintas pulau ini berhasil direkam oleh instrumen pencitraan satelit milik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Meskipun bentangan asapnya cukup luas, BMKG memastikan bahaya tersebut saat ini belum berada di zona yang dihirup warga secara langsung, melainkan masih melayang di ketinggian.

“Bila dilihat petanya (asap berasal) dari Kalimantan. Masih di lapisan atmosfer atas,” kata Sekretaris Utama BMKG Guswanto mengonfirmasi pada Jumat (16/10/2026).

Dorongan Angin Kencang Jadi Pemicu

Faktor utama di balik terlemparnya polutan asap hingga ratusan kilometer menyeberangi lautan adalah dinamika cuaca skala regional. Perbedaan tekanan serta laju angin di berbagai zona udara menjadi “kendaraan” utama bagi material partikulat karhutla untuk sampai ke daratan Jawa.

Baca Juga:  Peduli Konservasi Alam, Yayasan Paseban Bersama SLI UI Survei Keanekaragaman Hayati di Mega Mendung

“Kondisi ini terjadi karena transport asap yang dipengaruhi arah serta kecepatan angin di berbagai lapisan udara,” jelas Guswanto.

Pihak otoritas meteorologi menegaskan, pengukuran lanjutan masih terus dilakukan guna memverifikasi apakah kabut tipis di atas sana berpotensi merembes turun ke darat dan memperburuk Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di kawasan perkotaan.

Mekanisme Sains: Mungkinkah Asap Atas Turun Menjadi Polusi Darat?

Secara kajian ilmiah, material asap pembakaran memang memiliki karakteristik mikro yang memungkinkannya melayang sangat jauh mengikuti arus sirkulasi udara global.

Risiko penurunan asap dari zona atas ke zona napas manusia biasanya melibatkan fenomena fisika atmosfer yang dikenal dengan istilah boundary layer entrainment—sebuah proses percampuran udara dari lapisan atas yang menerobos masuk ke dalam lapisan batas atmosfer tempat aktivitas manusia berlangsung.

Baca Juga:  Fakta Tragis Pelajar SMA di Garut Jadi Korban Penembakan Airgun, Peluru Logam Bersarang di Mata

Sebagai gambaran analogi:

  • Sebuah studi dalam jurnal Atmospheric Environment (2020) pernah mencatat kasus serupa di Amerika Serikat, di mana asap kebakaran hutan melayang pada ketinggian 2 hingga 5 kilometer hingga menjangkau New York.
  • Ketika partikel tersebut akhirnya terserap turun ke lapisan batas bumi, kadar partikel berbahaya PM2.5 di daratan melonjak drastis hampir tiga kali lipat, dari angka rata-rata 8,4 menjadi 24,8 mikrogram per meter kubik.

Meski demikian, BMKG mengingatkan bahwa fenomena di Amerika tidak bisa langsung disamaratakan dengan kondisi atmosfer Metropolitan Jakarta hari ini.

Baca Juga:  Efisiensi APBD Ancam Keselamatan Pesisir Jabar: Anggaran Mitigasi Tsunami Sangat Terbatas

Langkah Pemantauan Lanjutan

Guna memastikan apakah napas warga di Jabodetabek dan Jawa Barat ikut terancam, data lintas instrumen sedang dicocokkan. BMKG tidak hanya mengandalkan pantauan visual dari luar angkasa, tetapi juga mengintegrasikannya dengan:

  1. Sensor PM2.5 di Stasiun Darat: Untuk mengukur apakah ada lonjakan pencemaran nyata di level permukaan.
  2. Model Dinamika Angin Vertikal: Mengetahui potensi dorongan udara ke bawah (downdraft).

Untuk saat ini, masyarakat diimbau tidak panik. Terdeteksinya asap Kalimantan di langit Jawa Barat dan Jakarta baru memverifikasi adanya migrasi polutan jarak jauh, sementara dampak riilnya terhadap kualitas udara harian masih terus dipantau secara ketat.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

BMKG Jakarta jawa barat kalimantan Karhutla
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Ironi Gubernur Konten: Pamer Aduan di Medsos, Tapi Gagap Saat Diadang Warga

Geger Dugaan Pelecehan Verbal Dosen UIN Bandung: Mahasiswa Gelar Aksi, Rektor Sampaikan Permohonan Maaf

bsu.kemnaker.go.id untuk mengecek penerima BSU 2025 secara resmi dari Kemnaker.

BSU Rp900 Ribu untuk Pekerja Kembali Jadi Sorotan, Ini Syarat yang Perlu Diketahui

Segera cair bansos KLJ Agustus 2025,

Nama Pernah Terdaftar sebagai Penerima Bansos? Cek Lagi Status PKH dan BPNT Oktober 2026

Bansos

Menunggu BLT Kesra Rp900 Ribu? Ini Fakta Terbaru dan Link Cek Bansos Kemensos

IHSG Terjun ke Level 5.185, Kapolri Perintahkan Bareskrim Selidiki Dugaan Pidana

Terpopuler
  • Humas Era Digital Tak Cukup Viral! Mahasiswa UIN Bandung Dibekali Strategi Algoritma hingga Etika
  • Ramai Kritik Ornamen Candi di Gedung Sate, Warga Sentil Dedi Mulyadi: Estetik Henteu, Fungsional Komo!
  • Viral! Dana Donasi Pak Santoso Tercatat Rp14,3 Juta, Disebut Hanya Terima Rp600 Ribu
  • Kontroversi Jalan Diponegoro Bandung: Demi Ruang Publik atau Menabrak Tata Ruang?
  • 100 Persen Pulih, Beckham Putra Bakal Jadi Senjata Persib Kontra Persik Kediri?
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.