bukamata.id – Lagu berbahasa Sunda berjudul “Lalaki Langit Lalanang Bejat” tengah menjadi perbincangan hangat di media sosial. Lagu yang ditulis oleh Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein atau Om Zein itu viral setelah liriknya dinilai sebagian pihak mengandung stereotip terhadap perempuan.
Perdebatan semakin meluas setelah anggota DPR RI Atalia Praratya menyampaikan kritik melalui akun Instagram pribadinya. Menurut Atalia, sejumlah bagian lirik lagu tersebut tidak mencerminkan nilai budaya Sunda yang selama ini menjunjung tinggi penghormatan terhadap perempuan.
Seiring viralnya lagu tersebut, banyak warganet yang penasaran dengan isi lirik Lalaki Langit Lalanang Bejat beserta makna di baliknya.
Lirik Lagu Lalaki Langit Lalanang Bejat
Berikut penggalan lirik lagu Lalaki Langit Lalanang Bejat yang ramai beredar di media sosial:
Nuhun Gusti
Tos nyiptakeun kuring jadi lalaki
Cacak mun jadi awewe
Es-em-pe kelas tilu
Tos karuron tujuh kaliNuhun Gusti
Tos nyiptakeun kuring jadi lalaki
Teu kudu meuli kutang
Nu busana leuwih gede batan susuNuhun Gusti
Tos nyiptakeun kuring jadi lalaki
Teu kudu ngaprak-ngaprak apotek
Alatan telat bulanNuhun Gusti
Tos nyiptakeun kuring jadi lalaki
Teu kudu ngalukis halis jeung bulu mata
Sakalina ngiceup hese beuntaLalaki langit
Lalanang bejat
Arti Lirik Lagu Lalaki Langit Lalanang Bejat dalam Bahasa Indonesia
Jika diterjemahkan secara bebas ke dalam Bahasa Indonesia, lirik tersebut memiliki makna sebagai berikut:
- Bersyukur karena terlahir sebagai laki-laki.
- Membandingkan kehidupan laki-laki dengan pengalaman biologis perempuan, seperti menstruasi dan kehamilan.
- Menyinggung penggunaan bra, kosmetik, hingga aktivitas perempuan yang dikaitkan dengan penampilan.
Beberapa bagian lirik juga menggunakan gaya bahasa humor dan satire yang kemudian memunculkan beragam tafsir di tengah masyarakat.
Bagian Lirik yang Menuai Sorotan
Polemik terutama muncul pada bagian lirik yang menyebut:
- pengalaman keguguran,
- menstruasi atau terlambat datang bulan,
- penggunaan bra,
- penggunaan riasan wajah seperti alis dan bulu mata.
Sebagian pihak menilai penggambaran tersebut menjadikan pengalaman biologis perempuan sebagai bahan candaan.
Di sisi lain, ada pula yang berpendapat bahwa lagu tersebut merupakan bentuk ekspresi seni yang terbuka terhadap berbagai penafsiran.
Atalia Praratya: Tidak Mencerminkan Nilai Budaya Sunda
Perdebatan semakin meluas setelah Atalia Praratya mengunggah tanggapannya di media sosial.
Menurutnya, bahasa dan seni Sunda memiliki kekayaan diksi yang mampu menyampaikan kritik maupun humor tanpa harus menyinggung pengalaman biologis perempuan.
Atalia menilai budaya Sunda selama ini dibangun di atas nilai silih asih, silih asah, silih asuh, dan silih wawangi, yang mengedepankan sikap saling menghormati dan memuliakan.
Ia juga menyampaikan bahwa dirinya sulit memaknai lirik lagu tersebut sebagai bentuk penghormatan terhadap perempuan.
Dinilai Menguatkan Stereotip Gender
Selain menuai kritik dari Atalia, lagu Lalaki Langit Lalanang Bejat juga memicu diskusi lebih luas mengenai isu kesetaraan gender.
Sejumlah pihak berpendapat bahwa lirik tersebut berpotensi memperkuat cara pandang patriarkal karena membandingkan pengalaman laki-laki dan perempuan dengan sudut pandang yang dianggap merendahkan perempuan.
Namun, ada pula yang berpandangan bahwa karya seni merupakan ruang ekspresi yang dapat ditafsirkan secara berbeda oleh setiap pendengar.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









