bukamata.id – Kongres III Projo yang digelar di Hotel Grand Sahid, Jakarta, awal November 2025, seharusnya menjadi ajang konsolidasi politik. Namun yang justru paling menyedot perhatian publik bukanlah pidato politik, melainkan keputusan organisasi relawan pendukung Jokowi itu untuk mengganti logo lama mereka—logo yang selama bertahun-tahun menampilkan wajah sang presiden.
Keputusan itu diumumkan langsung oleh Ketua Umum Projo, Budi Arie Setiadi, yang baru saja terpilih kembali memimpin organisasi tersebut. Ia mengungkapkan bahwa Projo akan menggelar sayembara desain logo baru, mengundang partisipasi publik untuk ikut berkreasi menentukan wajah baru gerakan yang pernah menjadi simbol militansi pendukung Jokowi itu.
Namun, seperti biasa, dunia maya punya caranya sendiri untuk merespons. Belum sempat panitia sayembara resmi membuka pendaftaran, linimasa media sosial sudah lebih dulu ramai oleh “karya” para netizen—sebuah festival satir yang tak kalah kreatif dari lomba resmi mana pun.
Dari “Pro Jokowi” ke “Pro Judi Online”
Langkah Budi Arie mengganti logo sekaligus menjelaskan ulang makna nama “Projo” rupanya menjadi pemantik utama ledakan reaksi publik. Dalam pidatonya, Budi menegaskan bahwa perubahan logo bukan berarti Projo memutus hubungan dengan Jokowi.
“Saya ingin menjelaskan kepada teman-teman media sekalian karena dari perkembangan berita ini seolah-olah disampaikan terkesan Projo putus hubungan dengan Pak Jokowi. Jangan di-framing,” kata Budi dalam sambutannya, Minggu (2/11/2025).
Namun, yang paling mencuri perhatian adalah klaim barunya soal arti nama Projo. Menurut Budi, “Projo itu sendiri artinya negeri dalam bahasa Sanskerta dan dalam bahasa Jawa Kawi itu artinya rakyat.” Ia menambahkan bahwa kepanjangan Pro Jokowi hanyalah interpretasi media. “Memang nggak ada (akronim Pro Jokowi), cuma teman-teman media itu (mempopulerkan) Projo (menjadi) Pro Jokowi itu kan karena gampang dilafalkan saja,” ujarnya.
Sayangnya, internet tak pernah lupa. Warganet segera membongkar video lama Budi Arie ketika masih berapi-api mendukung Jokowi. Dalam video yang kembali viral di platform X, ia berkata lantang, “Udah jelas Projo itu Pro Jokowi, kalau Projo enggak Pro Jokowi bukan projo berarti.”
Politikus PDIP Mohamad Guntur Romli tak ketinggalan menyindir keras perubahan arah Budi Arie. Melalui akun X @GunRomli, ia menulis: “Saat Budi Arie jilat Jokowi, Projo: Pro Jokowi. Saat Budi Arie muntahin Jokowi, Projo: Bukan Pro Jokowi, bisa-bisanya media aja…”
Sindiran tajam itu seolah menjadi sinyal pembuka bagi banjir kreativitas netizen di linimasa.
Lomba Logo yang Berubah Jadi Parade Satir
Begitu kabar sayembara logo diumumkan, netizen langsung “menyambar” ide tersebut dan menjadikannya bahan lelucon nasional. Desain-desain bermunculan di X, Instagram, hingga TikTok—bukan dalam konteks lomba serius, melainkan dalam bentuk meme dan sindiran politik.
Salah satu desain yang paling viral memperlihatkan wajah Budi Arie berlatar merah menyala, dengan tulisan besar “PROJO” berwarna putih. Di bawahnya, muncul teks tambahan yang membuat banyak orang tersenyum miris: “Pro Judi Online.”
Desain itu jelas merupakan satire terhadap isu yang belakangan melekat pada nama Budi Arie, terutama setelah posisinya sebagai Menteri Kominfo dikaitkan oleh publik dengan maraknya praktik judi daring. Meskipun tudingan tersebut tidak terbukti secara hukum, imajinasi netizen sudah telanjur liar dan cerdas dalam mengekspresikan kritiknya.
Desain lain yang tak kalah kreatif menampilkan dadu merah dengan tulisan “Pro Judi Onlie” (sengaja salah eja). Di sekelilingnya, terdapat gambar kartu remi dan simbol mesin slot “777”. Visual itu menjelma simbol baru—bukan sekadar lelucon, tapi juga bentuk kegetiran publik terhadap moralitas politik yang dianggap lentur.
Ada pula karya yang menonjol karena tampilannya nyaris artistik. Seorang pengguna menggambarkan sosok Zeus, dewa petir Yunani, menggenggam kilat yang bertransformasi menjadi tuas mesin slot. Di bawah gambar itu, tertulis besar-besar “Projo”, diapit tiga ikon petir khas simbol jackpot. Campuran mitologi dan satir itu membuat warganet terpingkal sekaligus mengernyit.
Unggahan-unggahan itu cepat menjadi viral. Komentar publik pun tak kalah tajam.
“Hahah kok bisa pas gitu ya Projo (Pro Judi Online),” tulis akun @ari_gu***.
“Bagus-bagus karya sayembara ini, ayo Budi Arie cepat pilih salah satu,” ujar @drss***.
Sementara akun lain, @woi***, menulis, “Desainnya keren-keren, jujur, dan sangat sesuai dengan kondisi asli.”
Antara Politik dan Persepsi Publik
Sindiran publik itu tak bisa dilepaskan dari manuver politik Budi Arie belakangan ini. Setelah secara terbuka menyatakan kesetiaannya kepada Prabowo Subianto dan membawa gerbong Projo ke lingkaran Gerindra, Budi mencoba menegaskan bahwa arah baru Projo tidak berarti meninggalkan Jokowi. Namun, di mata banyak netizen, perubahan arah itu dianggap terlalu drastis untuk sekadar disebut penyesuaian politik.
Pernyataan Budi yang menuding media telah mem-framing situasi hanya menambah bahan bakar bagi ironi yang sudah menyala di dunia maya. “Saya ingin menjelaskan kepada teman-teman media sekalian karena dari perkembangan berita ini seolah-olah disampaikan terkesan Projo putus hubungan dengan Pak Jokowi. Jangan diframing,” ujarnya, mencoba menenangkan situasi.
Namun tak lama berselang, ia sendiri menegaskan kembali bahwa “Projo ini lahir dari semangat perlunya lahirnya pemimpin rakyat yang ada yang bernama Bapak Joko Widodo.” Kalimat itu, meski dimaksudkan sebagai klarifikasi, justru memperlihatkan kontradiksi yang kembali menjadi bahan lelucon netizen.
Rebranding atau Reputasi yang Berubah?
Keputusan mengganti logo sebetulnya bisa saja dibaca sebagai langkah wajar: organisasi ingin bertransformasi setelah lebih dari satu dekade berdiri. Tapi dalam konteks politik yang sarat simbol, setiap perubahan visual punya makna ideologis.
Bagi sebagian publik, mengganti wajah Jokowi di logo Projo berarti menghapus jejak sejarah gerakan relawan yang dulu militan memperjuangkan sosok “rakyat jelata” dari Solo itu. Bagi yang lain, langkah ini justru mencerminkan pragmatisme politik yang dingin—siap berpindah arah demi relevansi baru.
Dan di antara tafsir serius itu, netizen hadir sebagai komentator paling jujur, menggunakan humor dan sindiran untuk menyampaikan pesan yang sulit diucapkan secara langsung: bahwa perubahan simbolik tanpa kejujuran makna hanya akan berakhir sebagai bahan meme.
Dalam era digital, politik tak lagi hanya bertarung di panggung konvensi, tetapi juga di linimasa. Di sana, satir, meme, dan sindiran bisa jauh lebih mematikan ketimbang kritik formal.
Sayembara logo Projo, tanpa disadari, menjadi ajang rebranding yang justru memunculkan citra baru yang mungkin tak diharapkan Budi Arie: bukan sekadar perubahan wajah organisasi, tapi juga cermin dari bagaimana publik menilai loyalitas dan integritas seorang politisi di era meme.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











