Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Harga Emas Pegadaian Hari Ini 7 Maret 2026: Galeri 24 dan UBS Stabil, Cek Daftar Lengkapnya

Sabtu, 7 Maret 2026 08:42 WIB

Endingnya Bikin Nangis! Nenek di Magetan Bayar Utang Pakai Beras, Akhirnya Dilunasi Netizen

Sabtu, 7 Maret 2026 07:52 WIB

PSSI Ungkap Alasan Elkan Baggott Lama Absen dari Timnas Indonesia, Bukan Gara-gara Pelatih

Sabtu, 7 Maret 2026 06:43 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Harga Emas Pegadaian Hari Ini 7 Maret 2026: Galeri 24 dan UBS Stabil, Cek Daftar Lengkapnya
  • Endingnya Bikin Nangis! Nenek di Magetan Bayar Utang Pakai Beras, Akhirnya Dilunasi Netizen
  • PSSI Ungkap Alasan Elkan Baggott Lama Absen dari Timnas Indonesia, Bukan Gara-gara Pelatih
  • Purbaya Blak-blakan Soal Ramai THR Swasta Kena Pajak Tapi ASN Tidak
  • Jadwal Pekan 25 BRI Super League 2026: Persib Bandung Incar Kemenangan, Borneo FC Tantang Persebaya
  • Liverpool Bungkam Wolves 3-1 di Molineux, The Reds Jadi Tim Pertama Lolos ke Perempat Final Piala FA
  • TikTok Heboh, Ini Fakta di Balik Video ‘Chindo Adidas’ yang Viral
  • Cek Aturan THR PNS 2026: Cair Sebelum atau Setelah Lebaran?
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Sabtu, 7 Maret 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Lomba Desain Logo Projo yang Berubah Jadi Parade Satir

By Aga GustianaKamis, 6 November 2025 09:22 WIB5 Mins Read
Logo Projo. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Kongres III Projo yang digelar di Hotel Grand Sahid, Jakarta, awal November 2025, seharusnya menjadi ajang konsolidasi politik. Namun yang justru paling menyedot perhatian publik bukanlah pidato politik, melainkan keputusan organisasi relawan pendukung Jokowi itu untuk mengganti logo lama mereka—logo yang selama bertahun-tahun menampilkan wajah sang presiden.

Keputusan itu diumumkan langsung oleh Ketua Umum Projo, Budi Arie Setiadi, yang baru saja terpilih kembali memimpin organisasi tersebut. Ia mengungkapkan bahwa Projo akan menggelar sayembara desain logo baru, mengundang partisipasi publik untuk ikut berkreasi menentukan wajah baru gerakan yang pernah menjadi simbol militansi pendukung Jokowi itu.

Namun, seperti biasa, dunia maya punya caranya sendiri untuk merespons. Belum sempat panitia sayembara resmi membuka pendaftaran, linimasa media sosial sudah lebih dulu ramai oleh “karya” para netizen—sebuah festival satir yang tak kalah kreatif dari lomba resmi mana pun.

Dari “Pro Jokowi” ke “Pro Judi Online”

Langkah Budi Arie mengganti logo sekaligus menjelaskan ulang makna nama “Projo” rupanya menjadi pemantik utama ledakan reaksi publik. Dalam pidatonya, Budi menegaskan bahwa perubahan logo bukan berarti Projo memutus hubungan dengan Jokowi.

“Saya ingin menjelaskan kepada teman-teman media sekalian karena dari perkembangan berita ini seolah-olah disampaikan terkesan Projo putus hubungan dengan Pak Jokowi. Jangan di-framing,” kata Budi dalam sambutannya, Minggu (2/11/2025).

Namun, yang paling mencuri perhatian adalah klaim barunya soal arti nama Projo. Menurut Budi, “Projo itu sendiri artinya negeri dalam bahasa Sanskerta dan dalam bahasa Jawa Kawi itu artinya rakyat.” Ia menambahkan bahwa kepanjangan Pro Jokowi hanyalah interpretasi media. “Memang nggak ada (akronim Pro Jokowi), cuma teman-teman media itu (mempopulerkan) Projo (menjadi) Pro Jokowi itu kan karena gampang dilafalkan saja,” ujarnya.

Baca Juga:  Apa Akun IG dan TikTok Salsa Erwina? Penantang Debat Tunjangan DPR ke Ahmad Sahroni

Sayangnya, internet tak pernah lupa. Warganet segera membongkar video lama Budi Arie ketika masih berapi-api mendukung Jokowi. Dalam video yang kembali viral di platform X, ia berkata lantang, “Udah jelas Projo itu Pro Jokowi, kalau Projo enggak Pro Jokowi bukan projo berarti.”

Politikus PDIP Mohamad Guntur Romli tak ketinggalan menyindir keras perubahan arah Budi Arie. Melalui akun X @GunRomli, ia menulis: “Saat Budi Arie jilat Jokowi, Projo: Pro Jokowi. Saat Budi Arie muntahin Jokowi, Projo: Bukan Pro Jokowi, bisa-bisanya media aja…”

Sindiran tajam itu seolah menjadi sinyal pembuka bagi banjir kreativitas netizen di linimasa.

Lomba Logo yang Berubah Jadi Parade Satir

Begitu kabar sayembara logo diumumkan, netizen langsung “menyambar” ide tersebut dan menjadikannya bahan lelucon nasional. Desain-desain bermunculan di X, Instagram, hingga TikTok—bukan dalam konteks lomba serius, melainkan dalam bentuk meme dan sindiran politik.

Salah satu desain yang paling viral memperlihatkan wajah Budi Arie berlatar merah menyala, dengan tulisan besar “PROJO” berwarna putih. Di bawahnya, muncul teks tambahan yang membuat banyak orang tersenyum miris: “Pro Judi Online.”

Desain itu jelas merupakan satire terhadap isu yang belakangan melekat pada nama Budi Arie, terutama setelah posisinya sebagai Menteri Kominfo dikaitkan oleh publik dengan maraknya praktik judi daring. Meskipun tudingan tersebut tidak terbukti secara hukum, imajinasi netizen sudah telanjur liar dan cerdas dalam mengekspresikan kritiknya.

Baca Juga:  Viral! Video Diduga Ricky Harun Karaoke Bareng LC Jadi Sorotan Publik

Desain lain yang tak kalah kreatif menampilkan dadu merah dengan tulisan “Pro Judi Onlie” (sengaja salah eja). Di sekelilingnya, terdapat gambar kartu remi dan simbol mesin slot “777”. Visual itu menjelma simbol baru—bukan sekadar lelucon, tapi juga bentuk kegetiran publik terhadap moralitas politik yang dianggap lentur.

Ada pula karya yang menonjol karena tampilannya nyaris artistik. Seorang pengguna menggambarkan sosok Zeus, dewa petir Yunani, menggenggam kilat yang bertransformasi menjadi tuas mesin slot. Di bawah gambar itu, tertulis besar-besar “Projo”, diapit tiga ikon petir khas simbol jackpot. Campuran mitologi dan satir itu membuat warganet terpingkal sekaligus mengernyit.

Unggahan-unggahan itu cepat menjadi viral. Komentar publik pun tak kalah tajam.

“Hahah kok bisa pas gitu ya Projo (Pro Judi Online),” tulis akun @ari_gu***.

“Bagus-bagus karya sayembara ini, ayo Budi Arie cepat pilih salah satu,” ujar @drss***.

Sementara akun lain, @woi***, menulis, “Desainnya keren-keren, jujur, dan sangat sesuai dengan kondisi asli.”

Antara Politik dan Persepsi Publik

Sindiran publik itu tak bisa dilepaskan dari manuver politik Budi Arie belakangan ini. Setelah secara terbuka menyatakan kesetiaannya kepada Prabowo Subianto dan membawa gerbong Projo ke lingkaran Gerindra, Budi mencoba menegaskan bahwa arah baru Projo tidak berarti meninggalkan Jokowi. Namun, di mata banyak netizen, perubahan arah itu dianggap terlalu drastis untuk sekadar disebut penyesuaian politik.

Pernyataan Budi yang menuding media telah mem-framing situasi hanya menambah bahan bakar bagi ironi yang sudah menyala di dunia maya. “Saya ingin menjelaskan kepada teman-teman media sekalian karena dari perkembangan berita ini seolah-olah disampaikan terkesan Projo putus hubungan dengan Pak Jokowi. Jangan diframing,” ujarnya, mencoba menenangkan situasi.

Baca Juga:  Dianggap Eksploitasi Tragedi, Poster Film Vina Sebelum 7 Hari Banjir Kritik Netizen

Namun tak lama berselang, ia sendiri menegaskan kembali bahwa “Projo ini lahir dari semangat perlunya lahirnya pemimpin rakyat yang ada yang bernama Bapak Joko Widodo.” Kalimat itu, meski dimaksudkan sebagai klarifikasi, justru memperlihatkan kontradiksi yang kembali menjadi bahan lelucon netizen.

Rebranding atau Reputasi yang Berubah?

Keputusan mengganti logo sebetulnya bisa saja dibaca sebagai langkah wajar: organisasi ingin bertransformasi setelah lebih dari satu dekade berdiri. Tapi dalam konteks politik yang sarat simbol, setiap perubahan visual punya makna ideologis.

Bagi sebagian publik, mengganti wajah Jokowi di logo Projo berarti menghapus jejak sejarah gerakan relawan yang dulu militan memperjuangkan sosok “rakyat jelata” dari Solo itu. Bagi yang lain, langkah ini justru mencerminkan pragmatisme politik yang dingin—siap berpindah arah demi relevansi baru.

Dan di antara tafsir serius itu, netizen hadir sebagai komentator paling jujur, menggunakan humor dan sindiran untuk menyampaikan pesan yang sulit diucapkan secara langsung: bahwa perubahan simbolik tanpa kejujuran makna hanya akan berakhir sebagai bahan meme.

Dalam era digital, politik tak lagi hanya bertarung di panggung konvensi, tetapi juga di linimasa. Di sana, satir, meme, dan sindiran bisa jauh lebih mematikan ketimbang kritik formal.

Sayembara logo Projo, tanpa disadari, menjadi ajang rebranding yang justru memunculkan citra baru yang mungkin tak diharapkan Budi Arie: bukan sekadar perubahan wajah organisasi, tapi juga cermin dari bagaimana publik menilai loyalitas dan integritas seorang politisi di era meme.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Budi Arie Setiadi Logo Projo media sosial Meme Politik netizen Projo rebranding Satir Politik
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa

Purbaya Blak-blakan Soal Ramai THR Swasta Kena Pajak Tapi ASN Tidak

Cek Aturan THR PNS 2026: Cair Sebelum atau Setelah Lebaran?

Hari ke-17 Ramadhan 1447 H: Jadwal Imsak di Bandung Hari Ini!

Persis Ramadan Expo 2026: Ajang UMKM Lokal Tembus Pasar Lebaran di Bandung!

Data Mudik 2026: Lebih dari 25 Juta Warga Jabar Siap Mudik, Bogor Jadi Titik Terpadat

Resmi Diumumkan! THR Pensiunan 2026 Mulai Dibayar 5 Maret, Simak Rincian Lengkapnya

Terpopuler
  • Link Video Mukena Pink ‘No Sensor’ Viral, Netizen Ramai Cari Versi Asli
  • Jadwal Penukaran Uang Baru di Bandung 2026 Resmi Dibuka, Ini 4 Lokasi Program SERAMBI BI
  • ‘Mukena Pink’ Viral di TikTok: Pencarian Link Video Tanpa Sensor Ramai Jadi Sorotan
  • ‎Jangan Sampai Terlewat! Ini Waktu Adzan Maghrib Bandung Minggu 1 Maret 2026
  • Link Video No Sensor Ukhti Mukena Pink Viral, Versi Panjang Apa Isinya?
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.