JAGAT maya kembali diramaikan oleh konten dari seorang anak yang melampiaskan kemarahannya, dengan merusak barang-barang di rumah, lantaran permintaannya untuk dibelikan motor ninja ditolak orang tua. Lebih memprihatinkan lagi, ada pula kejadian di mana anak sampai menganiaya sampai membakar rumah orang tua sendiri gara-gara permintaannya tidak dikabulkan.
Informasi terkait dengan anak yang berbuat tidak beradab terhadap orangtuanya tidak hanya kali ini, beberapa konten juga sering kali muncul dan viral. Ini artinya adab anak ke orang tua merupakan masalah yang sudah krusial. Ada keprihatinan dengan fenomena ini, karena betapa bergeser dan hilangnya adab dan hormat anak kepada orang tua.
Dari sisi kajian psikologi, gejala-gejala anak yang ketika meminta sesuatu kepada anaknya dengan memaksa, dan ketika tidak dibelikan marah-marah, merupakan cerminan dari sikap manja, dan menandakan masalah kejiwaan yang memerlukan penanganan mendalam secara psikologis.
Berdasarkan penjelasan Amalia Rachman, bahwa tindakan destruktif yang dilakukan para remaja kepada orang tua akhir-akhir ini, mengindikasikan mereka terganggu dalam pengendalian dirinya, mereka cenderung narsistik yang berlebihan, bahkan gejala gangguan perilaku (conduct disorder).
Ada beberapa faktor yang menyebabkan anak-anak memiliki sifat dan gangguan perilaku seperti itu, di antaranya: Pertama, pola didik dan asuh para orang tua kepada anak-anaknya semasa kecil. Banyak orang tua yang terlalu sayang dan memanjakan anak-anaknya dengan memenuhi semua keinginannya. Kasih sayang yang tidak proporsional dari orang tua kepada anak-anaknya ketika kecil, membuat mental anak menjadi manja dan rentan akan depresi ketika beranjak dewasa.
Faktor lainnya ialah dari terpaan media sosial terkait dengan faham materialisme. Dampak dari tayangan di media sosial terkait dengan budaya konsumtif yang bisa mengajarkan anak-anak tentang hidup hedonis, bermewah-mewahan, glamor, akan membentuk anak-anak dengan pandangan bahwa kebahagiaan dan kesuksesan dilihat dari materi yang dimiliki. Tayangan ini tidak mendidik anak-anak untuk berfikir kreatif, dan bekerja keras meraih impiannya. Banyak yang menayangkan secara instan dan bujuk rayu kuat.
Berdasarkan hasil riset Bush dan Gilbert bahwa orang yang lebih banyak menghabiskan waktunya untuk scroll konten-konten di media sosial, maka cenderung lebih materialistis, bila dibandingkan dengan mereka yang lebih sering mengkonsumsi media massa. Begitu juga dengan hasil studi Kamal dkk. bahwa level materialisme seseorang cenderung naik seiring meningkatnya penggunaan media sosial (dalam Pellegrino dkk., 2022).
Faktor lainnya ialah tidak adanya edukasi kepada anak tentang melatih kecerdasan emosi dan kepekaan sosial. Kecerdasan emosi anak-anak yang tidak terlatih membuat anak menjadi mudah emosi, tidak sabar dalam mendapatkan sesuatu yang serba ingin cepat, tidak empati pada orang tua yang memang sedang tidak memiliki finansial untuk memenuhi kebutuhan anak.
Kecerdasan emosi anak-anak bisa mengajarkan anak untuk menenangkan diri ketika kecewa akan kegagalan. Kecerdasan emosi bisa membuat anak menjadi lebih bersungguh-sungguh dalam meraih impian.
Sebaiknya para orang tua untuk mengajarkan sejak dini kepada anak-anaknya untuk tidak mendewakan materi dan hidup sederhana. Karena hidup sederhana bisa mengantarkan kepada ketentraman dan kenyaman, dibandingkan dengan hidup yang hedonis bisa menjerumuskan pada gaya hidup yang menyesatkan dan pemborosan.
Peristiwa anak yang melawan sampai merusak rumah orang tua merupakan peringatan bagi kita. Ini merupakan potret krisis moralitas anak-anak di tengah keluarga dan masyarakat. Saatnya kita mengembalikan nilai-nilai lebih baik bersyukur daripada merasa kurang atas materi yang dimiliki, membunuh keinginan untuk hidup konsumtif daripada hidup berwewah-mewah dengan dipaksakan, dan lebih penting ialah bagaimana meningkatkan penghormatan kepada orang tua.
Penulis: Encep Dulwahab, Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











