Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

The Legacy Continues! Igor Tolic Resmi Pimpin Persib Bandung

Senin, 25 Mei 2026 23:51 WIB

Resmi! Tinggalkan Kursi Pelatih, Bojan Hodak Siap Kawal Masa Depan Persib dari Balik Layar

Senin, 25 Mei 2026 23:45 WIB

Konvoi Juara Persib dan Tanggung Jawab Kolektif Bobotoh dan Manajemen

Senin, 25 Mei 2026 22:46 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • The Legacy Continues! Igor Tolic Resmi Pimpin Persib Bandung
  • Resmi! Tinggalkan Kursi Pelatih, Bojan Hodak Siap Kawal Masa Depan Persib dari Balik Layar
  • Konvoi Juara Persib dan Tanggung Jawab Kolektif Bobotoh dan Manajemen
  • Bojan Hodak Bakal Bertahan di Persib? Ini Kata Umuh Muchtar Soal Ambisi Juara Musim Depan
  • Tarif Ducting Bikin Gaduh! 25 Operator di Bandung Serbu Kantor BUMD
  • Rumah Umuh Muchtar Diserbu Fans, Pesta Juara Persib Rasa Pesta Rakyat
  • Tinggal Tulang! Video Induk Orangutan Kurus Kering Kelaparan Ini Bikin Netizen Ngamuk
  • Liburan ke Bandung Auto Bahagia! Ini 4 Destinasi Keluarga Paling Favorit
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Selasa, 26 Mei 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Opini

Materialisme Media Sosial

By SusanaMinggu, 15 Februari 2026 11:30 WIB3 Mins Read
Ilustrasi Media Sosial (Fixabay)
ADVERTISEMENT

JAGAT maya kembali diramaikan oleh konten dari seorang anak yang melampiaskan kemarahannya, dengan merusak barang-barang di rumah, lantaran permintaannya untuk dibelikan motor ninja ditolak orang tua. Lebih memprihatinkan lagi, ada pula kejadian di mana anak sampai menganiaya sampai membakar rumah orang tua sendiri gara-gara permintaannya tidak dikabulkan.

Informasi terkait dengan anak yang berbuat tidak beradab terhadap orangtuanya tidak hanya kali ini, beberapa konten juga sering kali muncul dan viral. Ini artinya adab anak ke orang tua merupakan masalah yang sudah krusial. Ada keprihatinan dengan fenomena ini, karena betapa bergeser dan hilangnya adab dan hormat anak kepada orang tua.

Dari sisi kajian psikologi, gejala-gejala anak yang ketika meminta sesuatu kepada anaknya dengan memaksa, dan ketika tidak dibelikan marah-marah, merupakan cerminan dari sikap manja, dan menandakan masalah kejiwaan yang memerlukan penanganan mendalam secara psikologis.

Berdasarkan penjelasan Amalia Rachman, bahwa tindakan destruktif yang dilakukan para remaja kepada orang tua akhir-akhir ini, mengindikasikan mereka terganggu dalam pengendalian dirinya, mereka cenderung narsistik yang berlebihan, bahkan gejala gangguan perilaku (conduct disorder).

Ada beberapa faktor yang menyebabkan anak-anak memiliki sifat dan gangguan perilaku seperti itu, di antaranya: Pertama, pola didik dan asuh para orang tua kepada anak-anaknya semasa kecil. Banyak orang tua yang terlalu sayang dan memanjakan anak-anaknya dengan memenuhi semua keinginannya. Kasih sayang yang tidak proporsional dari orang tua kepada anak-anaknya ketika kecil, membuat mental anak menjadi manja dan rentan akan depresi ketika beranjak dewasa.

Faktor lainnya ialah dari terpaan media sosial terkait dengan faham materialisme. Dampak dari tayangan di media sosial terkait dengan budaya konsumtif yang bisa mengajarkan anak-anak tentang hidup hedonis, bermewah-mewahan, glamor, akan membentuk anak-anak dengan pandangan bahwa kebahagiaan dan kesuksesan dilihat dari materi yang dimiliki. Tayangan ini tidak mendidik anak-anak untuk berfikir kreatif, dan bekerja keras meraih impiannya. Banyak yang menayangkan secara instan dan bujuk rayu kuat.

Berdasarkan hasil riset Bush dan Gilbert bahwa orang yang lebih banyak menghabiskan waktunya untuk scroll konten-konten di media sosial, maka cenderung lebih materialistis, bila dibandingkan dengan mereka yang lebih sering mengkonsumsi media massa. Begitu juga dengan hasil studi Kamal dkk. bahwa level materialisme seseorang cenderung naik seiring meningkatnya penggunaan media sosial (dalam Pellegrino dkk., 2022).

Faktor lainnya ialah tidak adanya edukasi kepada anak tentang melatih kecerdasan emosi dan kepekaan sosial. Kecerdasan emosi anak-anak yang tidak terlatih membuat anak menjadi mudah emosi, tidak sabar dalam mendapatkan sesuatu yang serba ingin cepat, tidak empati pada orang tua yang memang sedang tidak memiliki finansial untuk memenuhi kebutuhan anak.

Kecerdasan emosi anak-anak bisa mengajarkan anak untuk menenangkan diri ketika kecewa akan kegagalan. Kecerdasan emosi bisa membuat anak menjadi lebih bersungguh-sungguh dalam meraih impian.

Sebaiknya para orang tua untuk mengajarkan sejak dini kepada anak-anaknya untuk tidak mendewakan materi dan hidup sederhana. Karena hidup sederhana bisa mengantarkan kepada ketentraman dan kenyaman, dibandingkan dengan hidup yang hedonis bisa menjerumuskan pada gaya hidup yang menyesatkan dan pemborosan.

Peristiwa anak yang melawan sampai merusak rumah orang tua merupakan peringatan bagi kita. Ini merupakan potret krisis moralitas anak-anak di tengah keluarga dan masyarakat. Saatnya kita mengembalikan nilai-nilai lebih baik bersyukur daripada merasa kurang atas materi yang dimiliki, membunuh keinginan untuk hidup konsumtif daripada hidup berwewah-mewah dengan dipaksakan, dan lebih penting ialah bagaimana meningkatkan penghormatan kepada orang tua.

Penulis: Encep Dulwahab, Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

anak merusak rumah orang tua conduct disorder remaja dampak media sosial pada anak gangguan perilaku remaja kecerdasan emosional anak materialisme remaja perilaku anak manja
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Konvoi Juara Persib dan Tanggung Jawab Kolektif Bobotoh dan Manajemen

Menyatukan Ruang atau Memenuhi Hasrat? Catatan Kritis atas Rencana Integrasi Gedung Sate-Gasibu

Bekerja Tidak Sesuai Jurusan? Tenang Kamu Tidak Sendiri, Lengkapi Diri dengan Long Life Learning Skills

Mudik Lebaran: Ritual Pulang sebagai Bahasa Sosial yang Tak Tergantikan

MBG

Makan Bergizi Gratis: Antara Angka Nutrisi dan Realitas “Perut Kenyang” di Mata Masyarakat

Pers Bukan Sekadar Industri Klik, Kita Adalah Penjaga Nalar Publik

Terpopuler
  • Diduga Hina Bos Persib Umuh Muchtar, Pemilik Akun Facebook Ini Diburu Netizen!
  • Link ‘Guru Bahasa Inggris Viral’ Ramai Dicari, Pakar Ingatkan Bahaya Phishing dan Malware
  • Tebing Keraton
    Menjelajahi Pesona “Swiss van Java”: 5 Destinasi Unggulan di Bandung Barat yang Wajib Dikunjungi
  • Fenomena Video Guru Bahasa Inggris Viral 2026: Warganet Diburu Rasa Penasaran, Link Berbahaya Mengintai
  • Kejutan Bursa Transfer: Bintang Liga Singapura Beri Sinyal Gabung Persib Bandung, Bakal Jadi Pemain Termahal?
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.