KEMENANGAN Persib Bandung menjuarai Liga Indonesia 3 kali berturut-turut, memberikan kebahagiaan yang tak terbendung bagi masyarakat Jawa Barat khususnya Kota Bandung. Sabtu, 23 Mei 2026 Persib Bandung berhasil mengunci gelar juara dengan menahan imbang lawannya Persijap Jepara dengan skor 0-0 di Stadion Gelora Bandung Lautan Api dan memastikan puncak klasmen tidak bisa digeser oleh pesaing Persib yakni Borneo FC Samarinda, dengan unggul head to head.
Hal ini turut mengundang para Bobotoh Persib merayakan kemenangan tersebut dengan tradisi yang biasa dilakukan yaitu Konvoi atau iring-iringan di sepanjang jalan Kota Bandung dengan membawa atribut Persib, ini menyebabkan beberapa titik di Kota Bandung mengalami kemacetan total, salah satunya perjalanan dari Cibiru menuju Dipatiukur yang jika normal bisa ditempuh dengan waktu 30 sampai 45 menit, tetapi pada malam itu berdasarkan pengalaman pribadi perjalanan harus ditempuh selama 3 jam.
Euforia kejuaraan Persib yang disebut sebagai Hattrick Champions, tidak sampai pada malam itu saja, keesokan harinya Manajemen Persib Bandung didukung oleh pemerintah Kota Bandung dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengadakan konvoi besar-besaran bersama seluruh pemain dan juga official dengan titik start dari mulai Gedung sate hingga Asia Afrika. Sama seperti semalam jalanan di Kota Bandung lumpuh total, ambulans atau kendaraan umum sulit melintas, banyak warga yang terjebak macet.
Meskipun demikian perayaan konvoi ini memang telah menjadi budaya yang biasa dilakukan di Kota Bandung, karena Persib ini bukan hanya sekedar tim sepakbola saja, melainkan budaya yang diwariskan secara turun-temurun, istilah sunda yang melekat yaitu Persib nu Aing. namun tentu pada pelaksanaan di lapangan Manajemen dan Bobotoh harus tetap tanggung jawab terhadap keamanan dan kenyamanan antar sesama.
Sebagai seorang mahasiswa yang memiliki peran sebagai social control. Melihat banyak sekali kejadian yang sangat disayangkan, seperti hilangnya HP salah satu pemain Persib yaitu Frans Putros, banyaknya bobotoh yang berdesakan sampai pingsan, hingga pengawalan keamanan dari pihak kepolisian yang kurang terhadap pemain. Ini tentu adalah hal yang sangat disayangkan, budaya fanatisme jangan sampai menghilangan kesadaran publik. Banyak orang menganggap chaos sebagai “bagian dari perayaan” padahal kota modern seharusnya memiliki budaya selebrasi yang tertib.
Dengan begitu harapan kita semua sama, ingin Persib Kembali juara di musim depan, seandainya begitu, Pemerintah Kota, Aparat keamanan, Suppporter, harus evaluasi secara besarbesaran, Konvoi resmi dengan jalur yang jelasm edukasi budaya supporter yang aman, penyediaan ruang pelayanan publik yang terorganisir, dan kampanye “Rayakan tanpa merusak. Persib adalah kebanggaan warga Jawa Barat, tetapi kemenangan sejati bukan hanya soal trofi, kota yang nyaman, aman, dan tertib juga bentuk kemenangan Bersama.
Penulis adalah Ananda Hierofani Ahmad, Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam Unisba.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










