Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Pro-Kontra Razia Outfit Jogging di Aceh: Aturan Daerah vs Gaya Hidup Modern, Siapa yang Salah?

Minggu, 14 Juni 2026 14:39 WIB

Drama Besar Timnas Jepang! Moriyasu Minta Maaf Usai Coret Wataru Endo

Minggu, 14 Juni 2026 14:07 WIB
Persib

Terungkap! Ini Penyebab Persib Sempat Kacau di Awal Musim 2023/24

Minggu, 14 Juni 2026 13:54 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Pro-Kontra Razia Outfit Jogging di Aceh: Aturan Daerah vs Gaya Hidup Modern, Siapa yang Salah?
  • Drama Besar Timnas Jepang! Moriyasu Minta Maaf Usai Coret Wataru Endo
  • Terungkap! Ini Penyebab Persib Sempat Kacau di Awal Musim 2023/24
  • Hasil PCMB Jabar 2026 Resmi Diumumkan, Ini Aturan Wajib Daftar Ulang atau Calon Siswa Bisa Gugur
  • Heboh Video Cut Salwa Viral! Warganet Penasaran, Sebenarnya Isinya Apa?
  • Mantan Kiper Timnas U-23 Nuri Agus Wibowo Hilang Misterius! Keluarga Ungkap Dugaan Mengejutkan
  • Persib Gagal Dekati Tommaso Cassandro? Jurnalis Italia Ungkap Fakta Sebenarnya
  • Harga Emas Hari Ini Mengejutkan! Antam Naik Tipis Tembus Rp2,82 Juta per Gram
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Minggu, 14 Juni 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Opini

Menyatukan Ruang atau Memenuhi Hasrat? Catatan Kritis atas Rencana Integrasi Gedung Sate-Gasibu

By Aga GustianaSenin, 27 April 2026 15:05 WIB4 Mins Read
Gedung Sate. (Foto: bukamata.id/M Rafki)
ADVERTISEMENT

SEPERTI yang telah banyak diketahui, Kota Bandung merupakan ibu kota Jawa Barat. Bagi saya, Bandung adalah kota yang meminjam istilah anak muda telah memiliki “filter” estetiknya sendiri. Tanpa pembangunan yang secara drastis mengubah tata ruang, Bandung tetap memiliki daya tarik visual dan kultural yang kuat.

Jika tujuan pembangunan adalah meningkatkan estetika kota, maka pendekatannya tidak harus dengan mengubah atau mengintervensi bangunan yang telah ada, terlebih yang berstatus cagar budaya seperti Gedung Sate.

Sebaliknya, pembenahan dapat difokuskan pada aspek yang lebih mendasar, seperti tata kelola sampah yang hingga kini belum menemukan solusi signifikan, atau rekayasa lalu lintas di titik-titik kemacetan seperti Pasteur, Pasar Baru, Bojongsoang, Moh. Toha, Cibiru, dan Kopo. Bahkan, persoalan kapasitas penduduk yang kian padat juga layak menjadi prioritas utama. Hal-hal tersebut, dalam pandangan saya, jauh lebih mendesak dibandingkan rencana menyatukan Gedung Sate dengan Gasibu.
Gagasan integrasi kawasan Gedung Sate–Gasibu yang digagas oleh Dedi Mulyadi memunculkan sejumlah pertanyaan mendasar.

Di atas kertas, proyek ini tampak menjanjikan: menghadirkan ruang terbuka yang lebih luas, estetis, dan terintegrasi. Namun, di balik narasi pembangunan yang progresif, terdapat persoalan yang perlu dikritisi secara serius, terutama dari perspektif keadilan sosial dan tata kelola ruang publik.

Baca Juga:  Pangkas Anggaran Media Massa, Dedi Mulyadi Andalkan Kekuatan Emak-Emak TikTok

Sebagai mahasiswa sekaligus bagian dari elemen gerakan sosial kampus, saya memandang bahwa kebijakan ini tidak dapat semata dilihat sebagai proyek penataan fisik. Ia merupakan keputusan politik yang menyangkut arah pembangunan kota, prioritas anggaran, serta relasi antara negara dan warganya dalam mengelola ruang publik. Dalam konteks ini, menjadikan Bandung lebih “estetik” melalui integrasi kawasan bukanlah langkah yang tepat, mengingat tanpa intervensi tersebut pun Bandung telah memiliki identitas visual yang kuat.

Adapun beberapa catatan kritis yang perlu menjadi perhatian:

Pertama, aspek tata kota. Integrasi kawasan berpotensi menyederhanakan persoalan yang sesungguhnya kompleks. Kemacetan, kepadatan aktivitas, dan dinamika penggunaan ruang tidak cukup diselesaikan melalui pendekatan estetika semata. Tanpa kajian komprehensif dan partisipasi publik yang memadai, perubahan ini justru berisiko melahirkan persoalan baru.

Dalam perspektif sustainable urban planning, Jane Jacobs menekankan bahwa kota yang sehat tidak hanya ditentukan oleh desain fisik, tetapi juga oleh keberagaman fungsi dan interaksi sosial. Kawasan Gasibu selama ini telah berfungsi sebagai ruang multifungsi mulai dari aktivitas olahraga, ekonomi informal, hingga ekspresi publik. Perubahan tata ruang harus memastikan keberlanjutan fungsi-fungsi tersebut agar tidak terjadi disrupsi sosial.

Baca Juga:  Bayi Nyaris Tertukar, Dedi Mulyadi Desak Sanksi Tegas untuk Perawat RSHS

Kedua, partisipasi publik. Dalam kerangka good governance, partisipasi masyarakat bukan sekadar pelengkap, melainkan prasyarat utama. Data dari UN-Habitat menunjukkan bahwa proyek penataan kota yang melibatkan masyarakat sejak tahap perencanaan memiliki tingkat keberhasilan yang lebih tinggi. Oleh karena itu, dialog yang terbuka, transparan, dan inklusif harus menjadi fondasi utama kebijakan ini, sejalan dengan prinsip demokrasi: dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat.

Ketiga, keadilan sosial dan prioritas anggaran. Setiap kebijakan pembangunan harus selaras dengan kebutuhan masyarakat secara luas. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, persoalan ketimpangan ekonomi dan akses terhadap layanan dasar masih menjadi tantangan serius. Dalam konteks ini, alokasi anggaran untuk penataan kawasan harus ditempatkan secara proporsional dalam kerangka pembangunan yang berorientasi pada kesejahteraan, bukan semata estetika.
Keempat, dimensi historis dan kultural.

Gedung Sate sebagai cagar budaya memiliki nilai simbolik yang kuat bagi masyarakat Jawa Barat. Penataan kawasan di sekitarnya harus tetap menjaga nilai tersebut, sesuai dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya yang menekankan perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan secara bijak. Secara klasifikasi, Gedung Sate termasuk dalam kategori cagar budaya tingkat A, yang tidak boleh diubah secara drastis dan harus direstorasi ke bentuk aslinya apabila mengalami kerusakan.
Dengan mempertimbangkan berbagai aspek tersebut, rencana integrasi Gedung Sate–Gasibu perlu dikaji secara mendalam dan dilaksanakan melalui pendekatan yang partisipatif, transparan, serta berbasis kebutuhan masyarakat. Dukungan terhadap pembangunan tetap relevan, selama prosesnya menjunjung tinggi prinsip keadilan sosial, keberlanjutan, dan inklusivitas.

Baca Juga:  Fraksi PDIP Desak Dedi Mulyadi Klarifikasi, Ancam Tak Mau Terlibat Apapun!

Sebagai penutup, kota yang baik tidak hanya diukur dari keindahan fisiknya, tetapi juga dari sejauh mana ruang tersebut mampu menghadirkan rasa memiliki bagi seluruh warganya. Sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan elemen akademik menjadi kunci dalam mewujudkan pembangunan kota yang tidak hanya maju secara infrastruktur, tetapi juga kuat secara sosial.

Terakhir, apabila integrasi ini dimaksudkan sebagai upaya menyediakan ruang ekspresi bagi demonstrasi, perlu ditegaskan bahwa gerakan massa bukanlah aktivitas yang dapat dibatasi secara kaku pada ruang tertentu. Aspirasi publik membutuhkan ruang yang terbuka, terlihat, dan didengar bukan sekadar difasilitasi secara simbolik dalam batas-batas yang ditentukan.

Penulis: Rafi Ahad, Menteri Sosial Politik, BEM Universitas Islam Bandung

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

BEM Unisba Dedi Mulyadi Gedung Sate Lapangan Gasibu opini Rafi Ahad tata ruang Bandung
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

SOLUSI MACET BANDUNG, ANGKUTAN UMUM TERINTEGRASI

Bandara Husein Sastranegara

Dilema Bandara Husein Sastranegara Antara Kenyamanan Turis dan Nasib Bandara Kertajati

Metro Jabar Trans, Menjawab Macet Dan Menghadapi Tantangan Keberlanjutan

Menakar Logika Dino Patti di Tengah Lawatan Prabowo: Antara Dompet Rakyat dan Panggung Global

Konvoi Juara Persib dan Tanggung Jawab Kolektif Bobotoh dan Manajemen

Bekerja Tidak Sesuai Jurusan? Tenang Kamu Tidak Sendiri, Lengkapi Diri dengan Long Life Learning Skills

Terpopuler
  • Viral! Link Video Full Durasi Cut Salwa Ramai Diburu Netizen, Apa Isinya?
  • Dari Buku ‘Broken Strings’ Sampai Urusan Istri: Mengapa Eza Gionino dan Robby Tremonti Mendadak Panas?
  • Link Telegram Video Cut Salwa Full Durasi Ramai Dicari, Benarkah Ada?
  • Link Video Cut Salwa Viral di TikTok dan X, Ini Fakta Sebenarnya yang Mengejutkan
  • Link Video Cut Salwa Viral ‘No Sensor’, Warganet Diminta Jangan Asal Klik!
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.