Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Modal Infak Receh Bisa Umrah? Bongkar Rahasia Sukses SMAN 1 Padalarang yang Bikin Warganet Heboh!

Sabtu, 12 September 2026 09:29 WIB
Game Free Fire

Daftar Kode Redeem Free Fire Sabtu 12 September 2026: Amankan Skin Gratis dan Trik Profil Spasi Kosong

Sabtu, 12 September 2026 07:43 WIB

Bansos September 2026 Belum Cair? Begini Cara Cek PKH Lewat HP

Sabtu, 12 September 2026 05:00 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Modal Infak Receh Bisa Umrah? Bongkar Rahasia Sukses SMAN 1 Padalarang yang Bikin Warganet Heboh!
  • Daftar Kode Redeem Free Fire Sabtu 12 September 2026: Amankan Skin Gratis dan Trik Profil Spasi Kosong
  • Bansos September 2026 Belum Cair? Begini Cara Cek PKH Lewat HP
  • GBK Tanpa Bobotoh, Bandung Siap Membara! Ini 6 Lokasi Nobar Persib vs Persija
  • Bansos September 2026 Bisa Dicek Sekarang, Begini Cara Cek Penerima Pakai NIK
  • Gandeng Irfan Hakim, Bos Koi Hartono Soekwanto Cetak Rekor Global Lewat Kontes Ikan Bogel di Bandung
  • Persija vs Persib, Igor Tolic Ingin Persib Bikin Bobotoh Bangga di GBK
  • Timnas Indonesia Siap Gebrak FIFA ASEAN Cup 2026, Ini Jadwal Lengkap Skuad Garuda
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Sabtu, 12 September 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Opini

Menakar Logika Dino Patti di Tengah Lawatan Prabowo: Antara Dompet Rakyat dan Panggung Global

By AdminSabtu, 6 Juni 2026 14:42 WIB4 Mins Read
Ilustrasi. (Foto: AI)
ADVERTISEMENT

BELAKANGAN ini, ruang publik kita disajikan tontonan menarik tentang bagaimana wajah diplomasi Indonesia di luar negeri dipromosikan. Pihak Istana begitu gencar membangun narasi megah mengenai pentingnya jabat tangan fisik antar-pemimpin dunia, upaya mengamankan posisi geopolitik di tengah krisis, hingga misi menjemput investasi besar bagi ketahanan nasional. Namun di balik gemuruh agenda internasional itu, sebuah kritik tajam dari mantan Wakil Menteri Luar Negeri, Dino Patti Djalal, merembes ke lini masa media sosial. Dino mengguncang kenyamanan narasi tersebut dengan mempertanyakan sesuatu yang jauh lebih mendasar, yaitu seberapa efisien, jujur, dan rasional sebenarnya hitung-hitungan anggaran perjalanan dinas yang dibuat oleh pemerintah di tengah kondisi ekonomi masyarakat bawah yang sedang prihatin.

Pertanyaan yang dilemparkan Dino sebenarnya bukan sekadar soal sentimen politik atau perbedaan opini sesaat antar-elite. Jika kita membedahnya melalui kacamata ilmu komunikasi, khususnya Teori Framing yang dikembangkan oleh Robert Entman, setiap peristiwa politik yang sampai ke masyarakat sebenarnya telah melewati proses pembingkaian. Entman menjelaskan bahwa framing adalah cara komunikator memilih aspek-aspek tertentu dari sebuah realitas dan membuatnya lebih menonjol, sementara aspek lain sengaja disembunyikan. Tujuannya adalah untuk mendefinisikan masalah, mendiagnosis penyebabnya, memberikan penilaian moral, dan menawarkan solusi tertentu kepada khalayak. Polemik hari ini antara Dino Patti Djalal dan pihak Istana sebetulnya adalah kontestasi komunikasi untuk memperebutkan kendali atas bingkai isu tersebut.

Melalui video unggahannya yang viral, Dino Patti Djalal secara cerdas melakukan pembingkaian isu (issue framing) dengan menonjolkan aspek “efisiensi anggaran

domestik”. Sebagai seorang diplomat karier senior, Dino memilih untuk memperlihatkan realitas yang sengaja tidak ditonjolkan oleh Istana, yaitu tingginya kuantitas lawatan fisik Presiden Prabowo Subianto, besarnya rombongan delegasi, serta bengkaknya biaya protokoler yang membebani negara. Dalam bingkai komunikasi Dino, masalah utamanya adalah pemborosan di tengah situasi ekonomi rakyat yang sedang sulit, penyebabnya adalah ketidakmampuan Istana dalam menyusun skala prioritas, dan solusi yang ia tawarkan adalah optimalisasi teknologi seperti video call. Bingkai ini berhasil menyentuh sensitivitas publik karena langsung menghubungkan agenda elite pusat dengan dompet masyarakat bawah.

Baca Juga:  Prabowo Pasang Badan untuk Jokowi: Beliau Pekerja Paling Keras untuk Rakyat

Menyadari bingkai utamanya mulai digoyang dan mendapat sentimen negatif dari netizen, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya bersama jajaran Istana merespons dengan melakukan pembingkaian ulang (reframing). Melalui video klarifikasi di media sosial, Seskab Teddy sengaja membelokkan perhatian publik dengan memunculkan aspek “kedaruratan geopolitik global dan pengorbanan moral pemimpin”. Istana menyembunyikan perdebatan teknis soal anggaran APBN dengan menonjolkan klaim bahwa jumlah delegasi telah dipangkas hingga 50%, serta memunculkan narasi populis bahwa sisa kelebihan biaya perjalanan ditanggung langsung dari kantong pribadi Presiden Prabowo. Melalui teknik komunikasi ini, Istana mencoba mengubah definisi masalah dari yang tadinya “isu pemborosan uang rakyat” versi Dino, menjadi “isu ketulusan hati Presiden Prabowo yang rela berkorban demi nama baik bangsa di kancah dunia”.

Baca Juga:  Timnas Indonesia Dapat Hadiah Jam Mewah dari Presiden Prabowo Usai Kalahkan China

Namun, perang komunikasi di media sosial ini memiliki risiko berbahaya jika dilakukan secara defensif dengan menyerang balik rekam jejak personal pengkritik. Ketika pihak Istana mulai membandingkan masa lalu Dino untuk menjatuhkan reputasinya, ruang komunikasi publik mengalami pendangkalan substansi. Perdebatan yang seharusnya menguji akuntabilitas riil dan efisiensi pengelolaan keuangan negara, pada akhirnya terdistorsi menjadi sekadar tontonan kosmetik tentang pihak mana yang paling piawai memainkan emosi penonton di depan kamera.

Sebagai jalan keluar untuk menciptakan komunikasi politik yang sehat, pemerintah sudah saatnya menghentikan ketergantungan pada strategi pembingkaian yang artifisial dan defensif. Legitimasi kebijakan luar negeri Presiden Prabowo harus dibuka secara transparan tanpa ada aspek data yang sengaja disembunyikan dari rakyat. Hal ini bisa dimulai dengan membuka laporan akuntabilitas hasil diplomasi secara jujur, menetapkan indikator kunjungan yang terukur, serta melakukan audit publik yang tegas untuk memisahkan dana negara dan dana pribadi agar tidak membingungkan masyarakat. Potensi diplomasi luar negeri kita memang besar, namun ia tidak akan pernah mendapatkan kepercayaan yang tulus jika hanya dikelola sebagai komoditas pencitraan lewat pembingkaian isu.

Baca Juga:  Harapan Prabowo Usai Bertemu Jokowi dan Kedua Lawannya

Pada akhirnya, polemik antara Dino Patti Djalal dan Presiden Prabowo menunjukkan bahwa akuntabilitas negara tidak boleh disembunyikan di balik pembingkaian citra atau tameng “dana pribadi”. Kepercayaan publik yang tulus hanya akan terbangun ketika Istana berani membuka transparansi data secara jujur. Menghargai kritik dari

tokoh berpengalaman seperti Dino adalah bukti bahwa pemerintah siap membawa diplomasi Indonesia terbang tinggi di panggung global, tanpa harus kehilangan pijakan pada realitas ekonomi rakyatnya.

Penulis: Ervina Rizqi Purwaningrum, Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Prabowo Subianto
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Mindshift 4: PKM-PM IPB University Bekali Perempuan Pekerja Migran Purna dengan Budidaya Terpadu Menuju Kemandirian Ekonomi

Komunikasi Profetik di Era Digital: Arah Baru Pengembangan Ilmu Komunikasi

Doomposting Film “Ghost In The Cell”: Analisis Perilaku Netizen Lewat Cognitive Dissonance Theory

Banjir Konten UGC dari Brand Team,yang Dijual Produk apa Kisah Palsu?

Aksi Nyata Remaja Jawa Barat untuk Indonesia: Program Genesis Libatkan RibuanRemaja Cegah Stunting dan Krisis Fatherless Sejak Dini

SOLUSI MACET BANDUNG, ANGKUTAN UMUM TERINTEGRASI

Terpopuler
  • Aksi Sosial PT MBK Ventura di Purwakarta: Hadirkan Layanan Kesehatan Gratis dan Donor Darah untuk Warga
  • Heboh Video Viral Kasir Indomaret, Lylia Beri Klarifikasi dan Bongkar Hal Ini
  • Link Full 7 Menit Kasir Indomaret Coolmax Viral, Benarkah Ada Video Utuh?
  • Viral Rekaman Air Pesisir Surut Dekat Anak Krakatau, Begini Kata BMKG
  • Uang Pendidikan Mengalir ke Mana? Bongkar Manfaat Rp6,3 Triliun Jabar vs Rp351 Miliar Sulteng
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.