Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Dua Talenta Muda Persib Dipanggil Timnas U-20, Siap Tampil di Kualifikasi Piala Asia 2027

Kamis, 13 Agustus 2026 11:02 WIB

Baru Pecat Paul Munster, Bhayangkara FC Langsung Umumkan Pelatih Baru dari Spanyol

Kamis, 13 Agustus 2026 10:55 WIB

Demi Menit Bermain, Henhen Herdiana Tinggalkan Persib Lagi

Kamis, 13 Agustus 2026 10:30 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Dua Talenta Muda Persib Dipanggil Timnas U-20, Siap Tampil di Kualifikasi Piala Asia 2027
  • Baru Pecat Paul Munster, Bhayangkara FC Langsung Umumkan Pelatih Baru dari Spanyol
  • Demi Menit Bermain, Henhen Herdiana Tinggalkan Persib Lagi
  • Real Madrid Kembali ‘Menggoda’, Man City Langsung Bentengi Haaland dengan Pagar Rp4,5 Triliun
  • TC Persib di Bali Dimulai, Danijel Loncar Langsung Berlatih dan 3 Pemain Masih Cedera
  • Panduan Chord Gitar dan Lirik Hymne dan Mars Pramuka: Resonansi Janji Pandu Menuju Indonesia Emas
  • Harga Emas Hari Ini Stabil! Cek Harga Galeri 24, Antam dan UBS di Pegadaian
  • Ini Rapat Apa Tempat Curhat? Dosa-dosa Politik Bupati Gowa yang Bikin 45 Anggota Dewan Kompak Mendepaknya!
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Kamis, 13 Agustus 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Tinggal Tulang! Video Induk Orangutan Kurus Kering Kelaparan Ini Bikin Netizen Ngamuk

By SusanaSenin, 25 Mei 2026 19:47 WIB4 Mins Read
Video viral memperlihatkan induk orangutan kurus bersama anaknya di Kutai Timur, Kalimantan Timur, memicu keprihatinan publik. Foto: Ist.
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Sebuah video yang memperlihatkan seekor orangutan betina berjalan perlahan sambil membawa anaknya dengan kondisi tubuh sangat kurus kembali mengguncang media sosial.

Rekaman yang diunggah akun Instagram Instagram melalui akun @nasehat_pendaki itu memicu gelombang emosi publik, karena menampilkan satwa liar yang tampak lemah, tulang-tulangnya terlihat jelas, seolah berjuang keras untuk bertahan hidup di habitat yang kian menyempit.

Dalam video tersebut, sosok orangutan terlihat bergerak pelan di tengah lanskap hutan yang diduga berada di wilayah Kutai Timur, salah satu kawasan yang selama beberapa tahun terakhir menjadi sorotan akibat masifnya alih fungsi lahan.

Potret Pilu di Tengah Hutan yang Tak Lagi Utuh

Orangutan betina itu tampak memegang erat anaknya sambil berjalan tertatih. Gerakannya lambat, tubuhnya kurus, dan sorot matanya seolah menggambarkan kelelahan panjang akibat keterbatasan makanan dan ruang hidup.

Bagi banyak warganet, gambar ini bukan sekadar video viral, melainkan simbol nyata dari krisis ekologi yang sedang berlangsung. Di balik keheningan hutan Kalimantan, tersimpan kisah panjang tentang hilangnya rumah bagi satwa endemik yang sangat bergantung pada hutan tropis.

Orangutan Kalimantan dengan nama ilmiah Pongo pygmaeus morio merupakan spesies yang hanya hidup di pulau Kalimantan. Ketergantungannya pada hutan membuat spesies ini sangat rentan terhadap perubahan lingkungan sekecil apa pun.

Hutan Menyusut, Satwa Kehilangan Arah Hidup

Dalam dua dekade terakhir, Kalimantan Timur menjadi salah satu wilayah dengan laju alih fungsi hutan tercepat di Indonesia. Pembukaan lahan untuk perkebunan, pertambangan, dan infrastruktur membuat banyak kawasan hutan primer berubah menjadi area terbuka.

Kondisi ini berdampak langsung pada penurunan populasi orangutan di alam liar. Data berbagai lembaga konservasi menunjukkan bahwa populasi orangutan terus mengalami tekanan akibat fragmentasi habitat dan minimnya sumber pakan alami.

Ketika hutan berubah menjadi kawasan industri, orangutan tidak hanya kehilangan pohon tempat bersarang, tetapi juga jalur jelajah dan sumber buah-buahan yang menjadi makanan utama mereka.

Akibatnya, tidak sedikit orangutan yang terpaksa keluar dari hutan dan memasuki area aktivitas manusia, seperti perkebunan atau bahkan pinggir jalan. Situasi ini meningkatkan risiko konflik manusia dan satwa liar.

Konflik Manusia dan Orangutan Semakin Sering Terjadi

Fenomena orangutan memasuki wilayah manusia bukan hal baru. Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai laporan menunjukkan peningkatan kasus satwa liar yang tersesat ke permukiman warga di Kalimantan.

Sebagian besar kasus ini terjadi di kawasan yang berbatasan langsung dengan area konsesi. Hutan yang terfragmentasi membuat satwa kehilangan arah navigasi alami mereka.

Dalam kondisi tertentu, orangutan betina dengan anaknya menjadi kelompok yang paling rentan karena membutuhkan asupan makanan lebih besar untuk bertahan hidup sekaligus merawat keturunannya.

Reaksi Emosional Warganet: Antara Sedih dan Marah

Video ini langsung memicu reaksi luas di media sosial. Banyak warganet mengekspresikan kesedihan mendalam, bahkan kemarahan terhadap kondisi lingkungan yang dinilai semakin rusak.

Sebagian komentar bernada emosional menyuarakan kekecewaan terhadap perusakan alam, sementara lainnya menyoroti lemahnya perlindungan terhadap satwa liar yang dilindungi undang-undang, seperti dikutip dari kolom komentar Instagram @oxpopuler.id, Senin (25/5/2026).

“Semoga tuhan menghukum siapapun yang mendukung kerusakan, baik itu pimpinan tertinggi maupun hanya yang mencari uang haram jadi buzzer..” tulis akun @pra***

“kalian serakah,,, smg Allah datangkan azab bt kalian,, rakyat Indonesia byk yg kecewa, manusia aja di jajah apalagi hewan tak berdaya,, zholim kalian ga akan berkah hdp nya msh disegerakan di lihatkan,” tulis akun @win***

“Alam dirusak ,, korupsi merajalela…begini amat nasib bangsa tercinta,” tulis akun @id***

Fenomena ini menunjukkan bahwa isu lingkungan masih memiliki daya sentuh emosional yang kuat di ruang digital, terutama ketika menyangkut satwa yang memiliki kedekatan visual dengan manusia seperti orangutan.

Krisis yang Sudah Lama Diperingatkan Para Ahli

Para peneliti telah lama memperingatkan bahwa tekanan terhadap habitat orangutan di Kalimantan terus meningkat. Aktivitas pembukaan lahan dalam skala besar telah menyebabkan penyempitan ruang hidup yang signifikan.

Beberapa kajian konservasi mencatat bahwa dalam kurun waktu tertentu, konflik antara manusia dan orangutan di Kalimantan Timur terjadi puluhan kali setiap tahun, terutama di wilayah yang berbatasan dengan perkebunan dan tambang.

Kondisi ini diperparah oleh tidak adanya zona konservasi wajib di beberapa konsesi tambang, sehingga satwa liar tidak memiliki koridor aman untuk berpindah.

Ancaman Nyata bagi Masa Depan Orangutan

Orangutan bukan hanya satwa ikonik Indonesia, tetapi juga indikator kesehatan ekosistem hutan tropis. Ketika populasi mereka menurun, itu menandakan adanya kerusakan serius pada keseimbangan alam.

Jika tren ini terus berlanjut, para ahli memperkirakan risiko kepunahan lokal bisa terjadi di beberapa wilayah Kalimantan dalam beberapa dekade mendatang.

Upaya konservasi sebenarnya sudah dilakukan melalui berbagai lembaga, termasuk evakuasi satwa dan rehabilitasi di pusat konservasi. Namun, tantangan terbesar tetap berada pada perlindungan habitat alami mereka.

Antara Viral dan Kesadaran Lingkungan

Hingga kini belum ada konfirmasi resmi terkait lokasi pasti dan waktu perekaman video tersebut. Namun terlepas dari itu, video ini telah berhasil membuka kembali diskusi penting tentang hubungan manusia dan alam.

Di tengah derasnya arus pembangunan, kisah seekor induk orangutan kurus yang berjuang bersama anaknya menjadi pengingat sunyi: bahwa setiap pohon yang tumbang bukan hanya kehilangan kayu, tetapi juga rumah bagi kehidupan yang tak bisa digantikan.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

alih fungsi lahan Kalimantan Timur Konservasi Orangutan krisis hutan Kalimantan Kutai Timur orangutan orangutan Kalimantan viral Pongo pygmaeus morio satwa liar Indonesia video orangutan kurus
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Ini Rapat Apa Tempat Curhat? Dosa-dosa Politik Bupati Gowa yang Bikin 45 Anggota Dewan Kompak Mendepaknya!

Bansos

PKH dan BPNT Agustus 2026 Cair Bertahap, Segera Cek Status Penerima dan Saldo

Cara cek bansos PKH tahap 4 2025 pakai KTP.

Bansos Beras 30 Kg Cair Lagi, Benarkah Bisa Diambil di Kopdes Merah Putih? Cek Caranya

Hilang 12 Hari, Warga Tasikmalaya Ditemukan Meninggal di Sumur Tua yang Dihuni King Kobra

Goreng Saham Pakai Uang Umat? Polemik Panas Wakaf Istiqlal Masuk Bursa

gempa

Bukan Sekali! Dua Gempa Dangkal Guncang Bandung, Getarannya Dirasakan Warga Pangalengan

Terpopuler
  • Genap 1 Tahun, PRI Jawa Barat Tegaskan Komitmen Jadi Rumah Rakyat
  • MUSWIL VII KAHMI Jabar Tuntas, 7 Presidium Terpilih Bawa Mandat Baru
  • Teti Ratnasih Terpilih Pimpin FORHATI Jabar, Bawa Misi Besar Transformasi Keumatan
  • 10 Pohon Hilang di Jalan Riau Bandung, Pemkot Kecolongan? Pengamat Bongkar Lemahnya Pengawasan
  • FOTO: Lebih dari Sepak Bola: Momen Hangat Penuh Respek di Final Piala Presiden 2026
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.