bukamata.id – Aktivitas gempa bumi kembali terjadi di wilayah Kabupaten Bandung, Jawa Barat, pada Rabu (12/8/2026) sore. Dalam waktu sekitar satu jam, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat dua gempa tektonik yang berpusat di daratan.
Kedua gempa tersebut memiliki magnitudo relatif kecil. Namun, getarannya tetap dirasakan masyarakat, terutama di Pangalengan. Salah satu faktor yang membuat guncangan terasa adalah lokasi episenter yang berada pada kedalaman sangat dangkal.
Berdasarkan catatan BMKG, gempa pertama Kabupaten Bandung terjadi pada pukul 15.01.36 WIB. Sekitar 69 menit kemudian, gempa kembali terjadi pada pukul 16.10.32 WIB.
Meski berlangsung berdekatan, kedua gempa tersebut merupakan kejadian terpisah dengan parameter masing-masing.
Gempa Pertama Kabupaten Bandung Berkekuatan M3,0
Guncangan pertama terjadi pada Rabu sore pukul 15.01.36 WIB.
Hasil analisis terbaru BMKG menunjukkan gempa tersebut memiliki kekuatan magnitudo 3,0.
Pusat gempa atau episenter berada pada koordinat 7,25 Lintang Selatan dan 107,60 Bujur Timur. Lokasinya berada di daratan, sekitar 27 kilometer sebelah selatan Kabupaten Bandung.
Gempa tersebut tergolong sangat dangkal karena hiposenternya berada pada kedalaman sekitar 4 kilometer.
Kondisi ini menjadi salah satu alasan mengapa guncangan dapat dirasakan oleh masyarakat di sekitar wilayah episenter meskipun kekuatan gempa tidak tergolong besar.
BMKG menyebut gempa pertama tersebut merupakan gempabumi dangkal yang berkaitan dengan aktivitas sesar aktif di wilayah setempat.
Setelah kejadian pertama, pemantauan BMKG hingga pukul 15.30 WIB belum menunjukkan adanya gempa susulan.
Gempa Kedua M2,3 Kembali Mengguncang
Guncangan berikutnya terjadi pada pukul 16.10.32 WIB.
Hasil pemutakhiran data BMKG mencatat gempa kedua memiliki kekuatan magnitudo 2,3.
Episenter gempa berada di koordinat 7,26 LS dan 107,59 BT. Lokasinya berada di daratan, sekitar 27 kilometer tenggara Kabupaten Bandung.
Menariknya, gempa kedua memiliki kedalaman yang lebih dangkal dibandingkan gempa pertama, yakni sekitar 3 kilometer.
Dengan karakteristik tersebut, gempa kedua juga dikategorikan sebagai gempa dangkal yang berkaitan dengan aktivitas sesar aktif.
Data mengenai dua kejadian gempa di Kabupaten Bandung tersebut disampaikan oleh Kepala BBMKG Wilayah II Tangerang, Hartanto.
Pangalengan Rasakan Dua Kali Getaran
Rangkaian gempa Kabupaten Bandung hari ini turut dirasakan oleh masyarakat di wilayah Pangalengan.
BMKG mencatat intensitas gempa yang dirasakan warga berada pada Skala II-III Modified Mercalli Intensity (MMI).
Pada tingkat intensitas tersebut, getaran dapat dirasakan secara nyata, terutama oleh orang yang sedang berada di dalam rumah atau bangunan.
Gambaran getaran yang dirasakan masyarakat disebut menyerupai sensasi ketika kendaraan berat melintas.
“Terasa getaran seakan-akan ada truk berlalu,” demikian gambaran terhadap getaran yang dirasakan warga.
Kedalaman episenter yang hanya beberapa kilometer dari permukaan bumi membuat energi gempa relatif lebih mudah dirasakan di kawasan sekitar pusat gempa.
Belum Ada Laporan Kerusakan
Meski dua gempa terjadi dalam waktu berdekatan, hingga laporan pemantauan pada pukul 17.00 WIB belum terdapat informasi mengenai kerusakan bangunan akibat guncangan tersebut.
BMKG juga belum mendeteksi adanya aktivitas gempa susulan setelah dua kejadian yang terjadi pada sore hari tersebut.
Kondisi ini menjadi kabar baik bagi masyarakat di wilayah terdampak. Namun, warga tetap diminta tidak mengabaikan potensi aktivitas gempa berikutnya.
Masyarakat yang merasakan guncangan juga diimbau tetap tenang dan tidak mudah mempercayai informasi yang beredar di media sosial apabila sumbernya tidak jelas.
Mengapa Gempa Kecil Bisa Terasa?
Magnitudo bukan satu-satunya faktor yang menentukan apakah sebuah gempa dapat dirasakan masyarakat.
Kedalaman gempa dan jarak suatu wilayah dari episenter turut memengaruhi kuat atau lemahnya getaran yang dirasakan.
Dalam kasus gempa Kabupaten Bandung ini, kedua kejadian memiliki kedalaman yang sangat dangkal, masing-masing 4 kilometer dan 3 kilometer.
Karena itu, meskipun magnitudonya hanya M3,0 dan M2,3, getaran tetap dapat dirasakan oleh masyarakat di sekitar wilayah episenter.
Kondisi tersebut sekaligus menjelaskan mengapa laporan mengenai getaran dapat muncul dari wilayah Pangalengan.
Warga Diminta Mengikuti Informasi Resmi BMKG
Rangkaian gempa yang terjadi dalam waktu kurang lebih satu jam ini menjadi perhatian karena kedua episenternya berada di wilayah yang berdekatan dan sama-sama tergolong dangkal.
Gempa pertama tercatat berkekuatan M3,0 dengan kedalaman 4 kilometer, sementara gempa kedua berkekuatan M2,3 dengan kedalaman 3 kilometer.
Keduanya berpusat di daratan dan dilaporkan dirasakan masyarakat Pangalengan pada intensitas II-III MMI.
Meski sejauh ini belum ada laporan kerusakan bangunan maupun gempa susulan, masyarakat tetap perlu waspada terhadap potensi aktivitas seismik.
BMKG mengingatkan masyarakat agar memperoleh informasi gempa melalui kanal resmi dan tidak menyebarkan kabar yang belum terverifikasi.
Dengan demikian, warga dapat mengetahui perkembangan aktivitas gempa secara akurat sekaligus menghindari kepanikan akibat informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










