Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Konflik Sarwendah dan Ruben Onsu Memanas, Pendiri Cherrybelle Bongkar Fakta Mengejutkan?

Kamis, 4 Juni 2026 21:06 WIB

Authentic Blast Bandung: 6 Dekade Vans Dirayakan sebagai Simbiosis Liar Seni, Musik, dan Skate

Kamis, 4 Juni 2026 20:46 WIB

Maxwell Souza Resmi Tinggalkan Persija, Akankah Sang Striker Merapat ke Persib?

Kamis, 4 Juni 2026 20:30 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Konflik Sarwendah dan Ruben Onsu Memanas, Pendiri Cherrybelle Bongkar Fakta Mengejutkan?
  • Authentic Blast Bandung: 6 Dekade Vans Dirayakan sebagai Simbiosis Liar Seni, Musik, dan Skate
  • Maxwell Souza Resmi Tinggalkan Persija, Akankah Sang Striker Merapat ke Persib?
  • Musim Kemarau 2026, Seluruh Kelurahan di Cimahi Berpotensi Alami Krisis Air Bersih
  • Detik-Detik Truk Tangki Terbakar di Cisumdawu, Arus Lalu Lintas Tersendat
  • GBLA Dibongkar Total demi Standar Asia, Persib Bandung Bersiap Jadi Musafir?
  • Meski Dunia Gelap Gulita, Mantan Musisi Ini Sukses Jadi Barista Handal, Omzet Jutaan!
  • Federico Barba Jadi Rebutan Klub Eropa, Sampdoria Siap Bajak Bek Andalan Persib
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Kamis, 4 Juni 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Cuaca Ekstrem atau Kerusakan Lingkungan? Menelisik Penyebab Bencana Sumatra

By Aga GustianaJumat, 28 November 2025 10:44 WIB4 Mins Read
Banjir bandang dan longsor melanda Sibolga . Foto: Ist.
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Sumatra tengah berduka setelah banjir dan tanah longsor melanda puluhan kabupaten dan kota di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh. Cuaca ekstrem yang terjadi beberapa hari terakhir memicu musibah ini, menimpa puluhan ribu warga, dan menelan puluhan korban jiwa.

Daftar Wilayah Terdampak Bencana Sumatra

Berbagai kabupaten dan kota terdampak bencana alam ini, antara lain:

Sumatera Utara: Kota Medan, Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, Humbang Hasudutan, Sibolga, Mandailing Natal, Deli Serdang, Pakpak Barat, Serdang Bedagai, Padang Sidempuan, Nias.

Sumatera Barat: Kota Padang, Padang Pariaman, Solok, Agam, Pariaman, Bukittinggi, Padang Panjang, Tanah Datar, Solok, Pasaman, Pasaman Barat, Limapuluh Kota.

Aceh: Lhokseumawe, Aceh Barat, Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Singkil, Bireun, Langsa, Bener Meriah, Gayo Lues.

Banjir di Sumatera Utara terus meluas. Hingga Kamis (27/11/2025) malam, tercatat 48 orang meninggal dunia. Data Polda Sumatera Utara menunjukkan 81 orang luka-luka dan 88 warga masih dalam pencarian. Secara keseluruhan, korban bencana mencapai 212 orang, sementara 1.168 warga terpaksa mengungsi.

Dampak Bencana di Sumatera Utara

Beberapa kejadian banjir dan longsor di Sumut antara lain:

  • Tapanuli Utara (25/11/2025): 50 rumah terendam, 250 warga terdampak.
  • Padang Sidempuan (25/11/2025): 17 rumah, 220 warga terdampak.
  • Tapanuli Selatan (24/11/2025): 1,5 rumah (dihitung unit/ribuan?), korban jiwa 17 orang, 73 luka-luka, 500 mengungsi.
  • Tapanuli Tengah (23/11/2025): 1.902 rumah terendam, 9.510 warga terdampak.
Baca Juga:  BMKG Prediksi Cuaca Ekstrem Berpotensi Terjadi hingga April 2025

Polda Sumut mencatat 221 kejadian bencana di seluruh provinsi, mulai dari longsor, banjir, puting beliung, hingga pohon tumbang. Tapanuli Utara dan Tapanuli Tengah mencatat jumlah bencana terbanyak, masing-masing 54 dan 44 kejadian.

Berdasarkan data BNPB, jumlah banjir di Sumut meningkat drastis dalam lima tahun terakhir, dari 22 kasus (2019) menjadi 121 kasus pada 2024. Hingga November 2025, tercatat 71 kejadian banjir. Gangguan komunikasi juga terjadi akibat banjir, melumpuhkan 495 site telekomunikasi atau 1,42% dari total 34.660 site.

Kondisi Sumatera Barat dan Aceh

Di Sumatera Barat, 13 kabupaten/kota terdampak banjir dan tanah longsor. Pemerintah setempat menetapkan status Tanggap Darurat Bencana Alam. Hingga Kamis (27/11/2025), 17 korban meninggal tercatat, dengan dampak paling parah di Kabupaten Agam dan Pasaman Barat.

Baca Juga:  Sentil BRIN, BMKG Imbau Tak Gunakan Istilah Tornado untuk Peristiwa Bencana di Sumedang-Bandung

Di Aceh, BPBA mencatat 16 kabupaten/kota terdampak hidrometeorologi, dengan 46.893 jiwa terdampak dan 1.497 jiwa mengungsi. Gangguan telekomunikasi tercatat 799 site mati, ditambah robohnya tower transmisi 150 kV di Aruen–Bireuen, memperparah kondisi darurat.

BMKG Jelaskan Penyebab: Siklon Tropis

BMKG menegaskan bahwa banjir dan longsor ini dipicu oleh cuaca ekstrem akibat dua sistem siklon: Siklon Tropis KOTO di Laut Sulu dan Bibit Siklon 95B di Selat Malaka. Kedua fenomena ini menyebabkan hujan lebat dan angin kencang di wilayah Sumatra bagian utara sejak 25 November 2025.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan: “Dalam 24 jam ke depan, Siklon Tropis Senyar bergerak ke arah barat hingga barat daya dan masih di daratan Aceh. Dalam 48 jam kedepan diperkirakan menurun intensitasnya menjadi Depresi Tropis.”

Deputi BMKG, Guswanto, menambahkan: “Syukur alhamdulillah hari ini dia [Siklon Tropis Senyar] sudah punah tadi siang. Artinya, dia sudah tidak menjadi ancaman.”

Meski demikian, potensi hujan ekstrem masih harus diwaspadai di Aceh, Sumut, Sumbar, Riau, dan Kepulauan Riau dalam 2–3 hari ke depan.

Baca Juga:  Menteri PU Minta Jajaran Siap Siaga Hadapi Cuaca Ekstrem

WALHI Soroti Kerusakan Ekosistem

Melva Harahap, Manajer Pencegahan dan Penanganan Bencana WALHI, menegaskan: “Meskipun intensitas hujan meningkat akibat krisis iklim, kerusakan ekologis di buffer zone di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh lebih menjadi pemicu utama bencana besar.”

Contohnya adalah Hutan Batang Toru, yang kehilangan fungsi penyangga hidrologis akibat alih fungsi lahan. Padahal, hutan ini mencegah banjir, erosi, dan menjadi pusat DAS.

Melva menambahkan: “Kini, dari Aceh hingga Sumatera Barat, tercatat 33 kabupaten/kota terdampak banjir. Daerah hulu dan hilir sudah tidak terjaga, sehingga dampak banjir jauh lebih parah.”

BRIN: Cuaca Ekstrem Jadi Faktor Dominan

Profesor Erma Yulihastin dari BRIN menjelaskan bahwa hujan hampir 400 mm dalam dua hari di Sumatra merupakan fenomena ekstrem:

“Kalau dijumlah itu hampir 400 mm turun dalam waktu 2 hari. Jelas, kalau dari hujan kan ekstrem.”

Menurut Erma, faktor cuaca ekstrem mendominasi hingga 80%, sementara kerusakan lingkungan sekitar berkontribusi sisanya. Akumulasi hujan dari siklon tropis menyebabkan flash flood dan banjir bandang, terutama di Tapanuli Tengah dan Aceh.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

banjir Sumatra bencana Sumatra BMKG Cuaca Ekstrem kerusakan ekologis longsor Sumatra Walhi
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Authentic Blast Bandung: 6 Dekade Vans Dirayakan sebagai Simbiosis Liar Seni, Musik, dan Skate

Musim Kemarau 2026, Seluruh Kelurahan di Cimahi Berpotensi Alami Krisis Air Bersih

Detik-Detik Truk Tangki Terbakar di Cisumdawu, Arus Lalu Lintas Tersendat

Sadis! Lansia di Cigadung Ditodong Cutter, Polisi Ungkap Modusnya

Punya Aset Rp9 Miliar, Segini Rincian Kekayaan Eks Kepala Badan Gizi Dadan Hindayana

Viral! Truk Box Tabrak Palang Pintu KA di Cimindi, Perlintasan Sempat Terganggu

Terpopuler
  • Video Rok Hijau Tosca di Dapur Viral! Ini Fakta Sebenarnya di TikTok
  • Video ‘Rok Hijau Tosca’ 3 Menit Bikin Heboh Warganet, Ternyata Ini yang Terjadi
  • Video ‘Rok Hijau 3 Menit’ Viral, Link Mencurigakan Mulai Menjebak Warganet
  • Rok Hijau Tosca Viral Gegerkan TikTok, Link Asli Bikin Penasaran Warganet
  • Nama Vell Mendadak Trending Lagi, Benarkah Ada Video Viral Berdurasi 10 Menit?
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.