bukamata.id – Musyawarah Wilayah (MUSWIL) VII KAHMI Jawa Barat berlangsung dinamis hingga tahapan akhir pemilihan Presidium Majelis Wilayah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MW KAHMI) Jawa Barat periode 2026–2031.
Kontestasi yang sejak awal diikuti 16 calon mengalami perubahan konfigurasi selama persidangan. Tiga calon menyatakan mengundurkan diri saat Sidang Pleno IV, sementara satu calon lainnya mundur setelah proses pemungutan dan penghitungan suara berlangsung.
Pada akhirnya, tujuh nama ditetapkan sebagai Presidium MW KAHMI Jawa Barat periode 2026–2031 dalam MUSWIL VII yang digelar di Hotel Grand Asrilia, Kota Bandung, Jumat (7/8/2026).
Pemilihan tersebut tidak hanya menjadi agenda pergantian kepemimpinan organisasi. Lebih dari itu, MUSWIL VII menjadi ruang bertemunya berbagai latar belakang, jejaring, pengalaman, serta gagasan alumni HMI di Jawa Barat.
16 Calon, Konfigurasi Berubah hingga Akhir
Sebelum memasuki tahapan pemilihan, Panitia Seleksi (Pansel) telah menetapkan 16 calon Presidium MW KAHMI Jawa Barat.
Para calon memiliki latar belakang yang beragam, mulai dari akademisi, politisi, birokrat, pengusaha, profesional hingga tokoh yang aktif dalam organisasi dan pelayanan publik.
Keragaman tersebut membuat peta dukungan dalam pemilihan tidak berjalan secara sederhana. Setiap kandidat membawa pengalaman, jaringan, dan basis dukungan masing-masing.
Dinamika semakin terlihat ketika MUSWIL memasuki Sidang Pleno IV. Tiga kandidat memutuskan mengundurkan diri sehingga jumlah calon yang mengikuti tahapan berikutnya berubah.
Setelah pemungutan suara dilakukan, dinamika kembali terjadi. Satu calon lainnya menyatakan mundur setelah proses penghitungan suara.
Situasi tersebut memperlihatkan bahwa konfigurasi pemilihan Presidium KAHMI Jawa Barat terus bergerak hingga tahapan akhir.
Tujuh Presidium KAHMI Jawa Barat Terpilih
Dari seluruh rangkaian proses tersebut, tujuh nama akhirnya memperoleh mandat untuk memimpin MW KAHMI Jawa Barat periode 2026–2031.
Mereka adalah:
- Ahmad Hidayat, dari MD KAHMI Kota Bandung, anggota DPRD Jawa Barat sekaligus Sekretaris DPD Partai Golkar Jawa Barat.
- Saepul Bahri Bin Zein, dari MD KAHMI Kabupaten Purwakarta, yang menjabat Bupati Purwakarta.
- Suprih Rozikin, S.H., M.H., dari MD KAHMI Kabupaten Garut, Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Garut.
- H. Agus Asri Sabana, S.Ag., M.Si., C.Me., CPArb., dari MD KAHMI Kabupaten Majalengka, Ketua BAZNAS sekaligus mantan Ketua Bawaslu Kabupaten Majalengka.
- Husni Farhani M., S.H., M.Si., C.Me., dari MD KAHMI Kabupaten Bandung, Ketua Komisi Informasi Provinsi Jawa Barat.
- Dodi Ferdiana Kusnandar, S.Pd.I., dari MD KAHMI Kota Tasikmalaya, yang berkiprah sebagai politisi Partai Gerindra.
- Prof. Dr. H. Ahmad Sarbini, M.Ag., dari MD KAHMI Kabupaten Bandung, Guru Besar sekaligus Direktur Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
Komposisi tersebut mempertemukan berbagai kekuatan. Di dalamnya terdapat kepala daerah, politisi, anggota legislatif, pejabat lembaga publik, profesional, hingga akademisi.
Keberagaman ini dapat menjadi modal penting bagi KAHMI Jawa Barat. Namun, pada saat yang sama, perbedaan latar belakang juga membutuhkan kemampuan membangun konsolidasi dan menjaga keseimbangan kepentingan organisasi.
Tantangan KAHMI Jawa Barat Setelah MUSWIL
Terpilihnya tujuh presidium bukan menjadi akhir dari dinamika MUSWIL VII. Justru setelah kontestasi selesai, pekerjaan yang lebih besar menanti.
KAHMI Jawa Barat memiliki jaringan alumni yang tersebar di berbagai sektor, mulai dari pemerintahan, parlemen, perguruan tinggi, dunia usaha, lembaga profesi, organisasi masyarakat hingga ruang pengambilan kebijakan publik.
Potensi tersebut membutuhkan orkestrasi agar tidak berhenti sebagai jaringan silaturahmi alumni. KAHMI dituntut mampu mengubah kekuatan jejaring tersebut menjadi kontribusi nyata bagi masyarakat dan pembangunan Jawa Barat.
Karena itu, tantangan tujuh presidium bukan hanya menjaga soliditas internal organisasi, tetapi juga menyusun agenda yang mampu menjawab persoalan keumatan dan kebangsaan.
Dari Kontestasi Menuju Kerja Nyata
MUSWIL VII KAHMI Jawa Barat mengusung tema “Transformasi Keumatan Menuju Jawa Barat Istimewa.”
Tema tersebut kini memasuki tahap pembuktian. Energi yang sebelumnya digunakan dalam kontestasi perlu diarahkan menjadi energi kolaborasi.
Transformasi keumatan juga tidak cukup berhenti pada slogan. Agenda tersebut membutuhkan program nyata, antara lain dalam bidang pendidikan, pemberdayaan ekonomi umat, peningkatan kualitas sumber daya manusia, teknologi dan inovasi, serta penguatan kehidupan keagamaan yang moderat.
Di sinilah legitimasi tujuh presidium terpilih akan diuji.
Rangkaian MUSWIL VII dikawal Ketua Steering Committee (SC) dr. Asad, Sp.THTBKL dan Ketua Organizing Committee (OC) Yoga Rahardiansyah bersama jajaran kepanitiaan. Seluruh tahapan mulai dari proses seleksi, persidangan hingga pemungutan dan penghitungan suara menjadi bagian dari proses pergantian kepemimpinan organisasi.
Kini, kontestasi telah berakhir. Tujuh presidium telah memperoleh mandat untuk periode 2026–2031.
Pekerjaan berikutnya adalah membuktikan apakah keberagaman latar belakang dan jaringan yang dimiliki para presidium tersebut mampu disatukan menjadi kekuatan kolektif untuk membawa KAHMI Jawa Barat lebih adaptif, kolaboratif, dan transformatif.
Dari ruang musyawarah, tantangan berikutnya adalah menghadirkan kerja nyata bagi umat dan masyarakat Jawa Barat.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










