bukamata.id – Dr. Hj. Teti Ratnasih, M.Ag., terpilih sebagai Koordinator Presidium Majelis Wilayah Forum Alumni HMI-Wati (MW FORHATI) Jawa Barat periode 2026–2031. Teti Ratnasih ditetapkan bersama empat presidium lainnya dalam sidang pleno Musyawarah Wilayah (MUSWIL) VII KAHMI Jawa Barat Tahun 2026 yang digelar di Grand Asrilia, Kota Bandung.
Selain Dr. Hj. Teti Ratnasih, M.Ag., yang berasal dari Kabupaten Bandung, empat presidium MW FORHATI Jawa Barat yang terpilih yakni Dr. Hj. Mela Rusdiana, M.Pd.I. dari Bekasi, Hj. Retno Ernawati, S.Sos., M.M. dari Sumedang, Sri Wulan, M.Pd. dari Ciamis, serta Dr. Hj. Thoriqoh Nashrullah Fitriyah, S.T., M.E.Sy. dari Kabupaten Bandung.
Kelima presidium tersebut akan mengemban amanah kepemimpinan MW FORHATI Jawa Barat untuk periode 2026–2031. Kepemimpinan baru ini diharapkan membawa energi baru dalam konsolidasi gerakan perempuan alumni HMI sekaligus memperkuat kontribusi FORHATI terhadap kehidupan keumatan, kebangsaan, dan pembangunan Jawa Barat.
Teti Ratnasih Hadapi Tantangan Gerakan Perempuan di Jawa Barat
Terpilihnya kepemimpinan baru FORHATI Jawa Barat berlangsung di tengah perubahan sosial yang semakin kompleks. Perempuan Muslimah menghadapi berbagai tantangan yang tidak hanya berkaitan dengan persoalan domestik dan sosial, tetapi juga pendidikan, ekonomi, politik, teknologi digital, lingkungan, ketahanan keluarga, hingga masa depan generasi muda.
Dalam kondisi tersebut, FORHATI Jawa Barat dituntut tidak berhenti pada kerja administratif organisasi maupun seremoni kelembagaan. FORHATI perlu tampil sebagai kekuatan intelektual sekaligus gerakan sosial yang mampu menerjemahkan nilai-nilai keislaman dan ke-HMI-an ke dalam agenda perubahan yang konkret.
Transformasi keumatan menjadi salah satu kata kunci penting bagi gerakan HMI-Wati di Jawa Barat. Transformasi tersebut berarti keberanian mengubah potensi menjadi kekuatan, gagasan menjadi kebijakan, serta pengetahuan menjadi kebermanfaatan bagi masyarakat.
Gerakan perempuan alumni HMI juga diharapkan mampu bergerak dari sekadar menjadi penonton perubahan menjadi aktor yang ikut menentukan arah perubahan. Perempuan tidak cukup hanya diberikan ruang untuk berpartisipasi, tetapi juga harus memiliki kapasitas untuk memimpin, memproduksi gagasan, membangun kebijakan, dan menciptakan solusi atas berbagai persoalan umat dan bangsa.
Konsolidasi Alumni HMI-Wati Menuju Gerakan Peradaban
Jawa Barat memiliki modal sosial yang besar dengan jumlah penduduk, keragaman budaya, kekuatan komunitas keagamaan, serta dinamika intelektual dan ekonomi yang tinggi. Dalam ruang sosial yang kompleks tersebut, FORHATI memiliki posisi strategis untuk memperkuat kontribusi perempuan Muslimah dalam pembangunan daerah.
Alumni HMI-Wati tersebar di berbagai bidang profesi dan pengabdian. Mereka berkiprah sebagai akademisi, birokrat, politisi, pengusaha, profesional, pendidik, aktivis sosial, tokoh masyarakat, hingga penggerak komunitas.
Potensi tersebut perlu dikonsolidasikan menjadi ekosistem gerakan yang lebih terarah. FORHATI Jawa Barat periode 2026–2031 diharapkan mampu membangun jejaring lintas profesi, lintas generasi, dan lintas daerah.
Dengan demikian, kekuatan perempuan alumni HMI tidak berjalan secara sporadis, tetapi berkembang menjadi gerakan kolektif yang memiliki agenda strategis dan berdampak bagi masyarakat.
Kepemimpinan Dr. Hj. Teti Ratnasih bersama empat presidium lainnya diharapkan mampu membawa FORHATI menjadi rumah besar intelektual, spiritual, dan gerakan perempuan Muslimah Jawa Barat.
FORHATI bukan sekadar ruang silaturahmi alumni. Organisasi ini dapat menjadi ruang produksi gagasan, penguatan kapasitas perempuan, pengembangan kepemimpinan, pemberdayaan ekonomi, pendidikan, hingga pengabdian sosial yang berorientasi pada kemaslahatan umat.
FORHATI dan Agenda Jawa Barat Istimewa
Dalam konteks perempuan dan agenda Jawa Barat Istimewa, gagasan transformasi keumatan memiliki hubungan erat dengan cita-cita membangun Jawa Barat yang lebih maju, inklusif, berkeadilan, dan berkeadaban.
Jawa Barat Istimewa tidak mungkin dibangun hanya melalui pembangunan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi. Keistimewaan sebuah daerah juga ditentukan oleh kualitas sumber daya manusianya, ketahanan keluarga, kualitas pendidikan, keberdayaan perempuan, serta kemampuan masyarakat merawat kebersamaan di tengah perbedaan.
Dalam konteks tersebut, perempuan memiliki posisi penting. Perempuan bukan hanya penerima dampak pembangunan, tetapi juga salah satu aktor utama yang menentukan kualitas pembangunan itu sendiri.
FORHATI Jawa Barat diharapkan dapat mengambil bagian dalam agenda tersebut melalui gerakan yang berbasis pengetahuan, nilai, kolaborasi, dan inovasi.
Penguatan literasi digital, kepemimpinan perempuan, kewirausahaan, pendidikan keluarga, moderasi beragama, pemberdayaan ekonomi, serta penguatan peran perempuan di ruang publik dapat menjadi bagian dari agenda strategis FORHATI Jawa Barat periode 2026–2031.
FORHATI Jabar Dituntut Adaptif terhadap Teknologi
Tantangan zaman juga menuntut FORHATI Jawa Barat untuk semakin adaptif terhadap perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) dan transformasi digital.
HMI-Wati diharapkan tidak hanya menjadi perempuan yang melek teknologi, tetapi juga memiliki kecakapan etis dalam memanfaatkan teknologi untuk kepentingan masyarakat dan kemaslahatan umat.
Kepemimpinan baru MW FORHATI Jawa Barat periode 2026–2031 menghadapi pekerjaan besar, yakni bagaimana menjaga akar nilai HMI-Wati sekaligus berani membaca masa depan.
Idealisme tidak boleh kehilangan relevansi, sementara pragmatisme tidak boleh menghilangkan prinsip. Di antara keduanya, FORHATI membutuhkan kepemimpinan yang mampu menerjemahkan nilai menjadi strategi dan strategi menjadi gerakan nyata.
Kepemimpinan Baru FORHATI Jawa Barat
Terpilihnya Dr. Hj. Teti Ratnasih sebagai Koordinator Presidium MW FORHATI Jawa Barat bersama Dr. Hj. Mela Rusdiana, Hj. Retno Ernawati, Sri Wulan, dan Dr. Hj. Thoriqoh Nashrullah Fitriyah diharapkan menjadi awal fase baru bagi organisasi perempuan alumni HMI tersebut.
Kepemimpinan FORHATI Jawa Barat periode 2026–2031 juga diharapkan mampu melahirkan gerakan perempuan yang strategis, cerdas, kolaboratif, dan transformatif.
Gerakan tersebut diharapkan menjadikan keilmuan sebagai kekuatan, keislaman sebagai nilai, ke-HMI-an sebagai tradisi intelektual, dan pengabdian sebagai jalan perjuangan.
Dari sinilah FORHATI Jawa Barat diharapkan mampu memperkuat transformasi keumatan, memberdayakan perempuan, menguatkan generasi, serta ikut menggerakkan peradaban menuju Jawa Barat Istimewa.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










