Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru
ilustrasi bansos

Saldo KKS Masih Nol? Ini Daftar Penyebab Baru Bansos PKH & BPNT 2026 Tidak Cair Lagi

Sabtu, 2 Mei 2026 20:22 WIB

Rezeki Diatur Tuhan, Tapi Dihambat Manusia! Viral Pedagang Kreatif Diduga Diusir Karena Terlalu Laris

Sabtu, 2 Mei 2026 18:48 WIB

Bursa Transfer Memanas! Persib Bandung Dikabarkan Kunci Kesepakatan dengan Striker Tajam Asal Brasil

Sabtu, 2 Mei 2026 16:50 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Saldo KKS Masih Nol? Ini Daftar Penyebab Baru Bansos PKH & BPNT 2026 Tidak Cair Lagi
  • Rezeki Diatur Tuhan, Tapi Dihambat Manusia! Viral Pedagang Kreatif Diduga Diusir Karena Terlalu Laris
  • Bursa Transfer Memanas! Persib Bandung Dikabarkan Kunci Kesepakatan dengan Striker Tajam Asal Brasil
  • Heboh Video ‘Skandal Moral’ Amien Rais Raib: Istana Bereaksi, Partai Ummat Sebut ‘Offside’
  • Klarifikasi Panas! Marc Klok Bantah Tuduhan Rasisme Terhadap Henry Doumbia di Laga Persib vs Bhayangkara FC
  • Perkuat Warisan Lokal, DPRD Jabar Konsultasi ke Menteri Kebudayaan Terkait Raperda Baru
  • Bikin Haru! Aksi Teller Bank bjb Fasih Bahasa Isyarat Layani Nasabah Spesial, Warganet Angkat Jempol
  • Netizen Dukung TNI, Pro-Kontra Penertiban Rumah Dinas yang Ditempati Anak Cucu
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Sabtu, 2 Mei 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Opini

Krisis Ekologi dan Tantangan Baru Dakwah

By SusanaMinggu, 25 Januari 2026 18:38 WIB3 Mins Read
Ilustrasi Krisis lingkungan Nusantara menuntut dakwah Islam berbasis ekoteologi. Foto: Chatgpt.
ADVERTISEMENT

Nusantara kini menghadapi krisis lingkungan yang semakin serius. Banjir, kekeringan ekstrem, deforestasi, dan polusi berulang serta berdampak langsung pada keberlangsungan hidup manusia (Astuti et al., 2024; Thamrin, 2017). Ironisnya, di tengah situasi ini, orientasi dakwah kelembagaan masih dominan ritual dan individualistik (Pardi, 2020).

Dakwah kerap berhenti pada penguatan ibadah personal tanpa dikaitkan dengan tanggung jawab ekologis. Padahal Al-Qur’an telah mengingatkan bahwa kerusakan di darat dan laut merupakan akibat perbuatan manusia sendiri (QS. Ar-Rum: 41). Tanpa perubahan orientasi, dakwah berisiko kehilangan daya jawab sosial di era krisis iklim.

Ekoteologi menawarkan koreksi penting atas situasi ini. Ibadah tidak hanya dimaknai sebagai relasi transenden dengan Tuhan, tetapi juga sebagai tanggung jawab moral menjaga bumi ciptaan-Nya (Hidayat, 2023). Kesalehan tidak cukup diukur dari intensitas ritual, melainkan dari dampaknya bagi keberlanjutan kehidupan (Runtuwene, 2025).

Dalam perspektif ini, kerusakan lingkungan bukan sekadar persoalan teknis, tetapi cermin kegagalan etika dan spiritual. Dakwah yang abai terhadap dimensi ekologis akan terputus dari realitas penderitaan umat yang hidup di wilayah rawan bencana.

Paradigma manusia sebagai khalifah fil ardh juga belum terinternalisasi secara kelembagaan (Julaeha & Kurniawan, 2018). Konsep kekhalifahan sering hadir sebagai wacana normatif, tetapi jarang menjadi dasar strategis program dakwah. Padahal Al-Qur’an menegaskan kekhalifahan sebagai amanah besar untuk menjaga dan melindungi kehidupan (QS. Al-Baqarah: 30). Konsep ini menuntut tanggung jawab etis menjaga keseimbangan kosmos, bukan pembenaran eksploitasi sumber daya alam tanpa batas (Darwis et al., 2023).

Persoalan lain terletak pada rendahnya literasi lingkungan di kalangan dai dan pengelola lembaga dakwah. Isu perubahan iklim, krisis air, dan degradasi lahan belum terintegrasi dalam narasi dakwah. Akibatnya, pesan keagamaan kerap terasa jauh dari tantangan nyata umat. Padahal Nabi Muhammad SAW secara tegas melarang perusakan lingkungan dan menganjurkan penanaman pohon sebagai amal berkelanjutan (HR. Bukhari No. 2320; Muslim No. 1553). Dakwah yang relevan menuntut penguasaan dasar ekologi yang berpadu dengan teks keagamaan.

Di ruang publik, lembaga dakwah juga belum tampil sebagai kekuatan advokasi ekologis yang konsisten. Keterlibatan dalam isu perusakan hutan, pertambangan destruktif, dan pencemaran lingkungan masih terbatas. Padahal Islam menempatkan keadilan sebagai prinsip utama, termasuk keadilan terhadap alam.

Ibn Taymiyyah menegaskan bahwa segala bentuk kezaliman, termasuk terhadap lingkungan, merupakan pelanggaran amanah manusia sebagai khalifah (Hasnawati, 2020). Ekoteologi mendorong dakwah hadir sebagai kekuatan moral publik yang berpihak pada keselamatan bersama.

Dalam program pemberdayaan umat, dimensi keberlanjutan lingkungan juga sering terabaikan. Tidak sedikit program ekonomi bertumpu pada eksploitasi sumber daya alam tanpa pertimbangan dampak jangka panjang. Al-Qur’an melarang penggunaan sumber daya secara berlebihan dan melampaui batas (QS. Al-A’raf: 31).

Kajian ekonomi lingkungan menegaskan bahwa pembangunan yang melampaui daya dukung ekologis akan merusak fondasi peradaban manusia (Humaida et al., 2020). Ekoteologi mengarahkan pemberdayaan umat menuju ekonomi yang adil, etis, dan berkelanjutan.

Masjid dan lembaga dakwah sejatinya dapat menjadi teladan institusi ramah lingkungan. Namun, praktik pengelolaan sampah, efisiensi energi, dan konservasi air masih minim diterapkan. Padahal masjid memiliki fungsi edukatif dan simbolik yang kuat di tengah masyarakat. Al-Ghazali menekankan bahwa kebersihan dan tanggung jawab moral merupakan bagian dari iman (Arijulmanan et al., 2020).

Pada akhirnya, krisis ekologis bukan sekadar persoalan teknis, melainkan krisis etika dan spiritual. Seyyed Hossein Nasr menyebut krisis ekologi modern sebagai krisis spiritualitas manusia (Sururi et al., 2020). Karena itu, pelestarian bumi harus ditempatkan sebagai bagian integral dari misi dakwah dan penghambaan kepada Tuhan.

Penulis: Herman, Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

dakwah ramah lingkungan ekoteologi Islam khalifah fil ardh konservasi masjid krisis lingkungan Nusantara literasi ekologi dai pendidikan lingkungan dakwah peran lembaga dakwah sustainability Islam
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Menyatukan Ruang atau Memenuhi Hasrat? Catatan Kritis atas Rencana Integrasi Gedung Sate-Gasibu

Bekerja Tidak Sesuai Jurusan? Tenang Kamu Tidak Sendiri, Lengkapi Diri dengan Long Life Learning Skills

Mudik Lebaran: Ritual Pulang sebagai Bahasa Sosial yang Tak Tergantikan

MBG

Makan Bergizi Gratis: Antara Angka Nutrisi dan Realitas “Perut Kenyang” di Mata Masyarakat

Materialisme Media Sosial

Pers Bukan Sekadar Industri Klik, Kita Adalah Penjaga Nalar Publik

Terpopuler
  • Link Video Viral Vell Blunder Durasi Panjang, Waspada Modus Phising!
  • Link Video Bandar Batang Viral! Waspada Phising
  • Link Asli Video Bandar Membara Full Durasi, Ini Fakta Sebenarnya!
  • Viral ‘Video Bandar Membara’ di Media Sosial, Warganet Cari Link Asli No Sensor
  • Gebrakan Mewah di Bursa Transfer: Persib Bandung Incar Bintang-bintang Eks Eropa
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.