Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Hancurkan Ekuador 2-0, Meksiko Melesat ke Babak 16 Besar Piala Dunia 2026

Rabu, 1 Juli 2026 11:29 WIB

Harga Emas Turun! Antam, UBS, dan Galeri24 Kompak Melemah di Pegadaian 1 Juli 2026

Rabu, 1 Juli 2026 11:22 WIB

Atalia Praratya Kecam Lirik Lagu ‘Lalaki Langit Lalanang Bejat’ Gubahan Om Zein, Netizen: Jauh dari Pi-contoheun!

Rabu, 1 Juli 2026 10:17 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Hancurkan Ekuador 2-0, Meksiko Melesat ke Babak 16 Besar Piala Dunia 2026
  • Harga Emas Turun! Antam, UBS, dan Galeri24 Kompak Melemah di Pegadaian 1 Juli 2026
  • Atalia Praratya Kecam Lirik Lagu ‘Lalaki Langit Lalanang Bejat’ Gubahan Om Zein, Netizen: Jauh dari Pi-contoheun!
  • Mengenal Sitti Husniah Talenrang: Bupati Perempuan Pertama Gowa Digoyang Isu Selingkuh dan Pesta Miras?
  • Ada di Cipaganti, Intip Uniknya Metode Akupuntur Telinga yang Bikin Bos Koi Hartono Soekwanto Kepincut
  • Berburu Saldo DANA Gratis 1 Juli 2026: Jangan Lewatkan Trik Aman Dapatkan Cuan Instan Hari Ini!
  • Jangan Sampai Terlewat! PT Taspen Beri Syarat Baru, Gaji Pensiunan PNS Bisa Terkendala Jika Abaikan Ini
  • Bocoran iPhone 18 Bikin Geger! Layar 120Hz Masuk iPhone Non-Pro, Era Baru Apple Dimulai?
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Rabu, 1 Juli 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Opini

Krisis Ekologi dan Tantangan Baru Dakwah

By SusanaMinggu, 25 Januari 2026 18:38 WIB3 Mins Read
Ilustrasi Krisis lingkungan Nusantara menuntut dakwah Islam berbasis ekoteologi. Foto: Chatgpt.
ADVERTISEMENT

Nusantara kini menghadapi krisis lingkungan yang semakin serius. Banjir, kekeringan ekstrem, deforestasi, dan polusi berulang serta berdampak langsung pada keberlangsungan hidup manusia (Astuti et al., 2024; Thamrin, 2017). Ironisnya, di tengah situasi ini, orientasi dakwah kelembagaan masih dominan ritual dan individualistik (Pardi, 2020).

Dakwah kerap berhenti pada penguatan ibadah personal tanpa dikaitkan dengan tanggung jawab ekologis. Padahal Al-Qur’an telah mengingatkan bahwa kerusakan di darat dan laut merupakan akibat perbuatan manusia sendiri (QS. Ar-Rum: 41). Tanpa perubahan orientasi, dakwah berisiko kehilangan daya jawab sosial di era krisis iklim.

Ekoteologi menawarkan koreksi penting atas situasi ini. Ibadah tidak hanya dimaknai sebagai relasi transenden dengan Tuhan, tetapi juga sebagai tanggung jawab moral menjaga bumi ciptaan-Nya (Hidayat, 2023). Kesalehan tidak cukup diukur dari intensitas ritual, melainkan dari dampaknya bagi keberlanjutan kehidupan (Runtuwene, 2025).

Dalam perspektif ini, kerusakan lingkungan bukan sekadar persoalan teknis, tetapi cermin kegagalan etika dan spiritual. Dakwah yang abai terhadap dimensi ekologis akan terputus dari realitas penderitaan umat yang hidup di wilayah rawan bencana.

Paradigma manusia sebagai khalifah fil ardh juga belum terinternalisasi secara kelembagaan (Julaeha & Kurniawan, 2018). Konsep kekhalifahan sering hadir sebagai wacana normatif, tetapi jarang menjadi dasar strategis program dakwah. Padahal Al-Qur’an menegaskan kekhalifahan sebagai amanah besar untuk menjaga dan melindungi kehidupan (QS. Al-Baqarah: 30). Konsep ini menuntut tanggung jawab etis menjaga keseimbangan kosmos, bukan pembenaran eksploitasi sumber daya alam tanpa batas (Darwis et al., 2023).

Persoalan lain terletak pada rendahnya literasi lingkungan di kalangan dai dan pengelola lembaga dakwah. Isu perubahan iklim, krisis air, dan degradasi lahan belum terintegrasi dalam narasi dakwah. Akibatnya, pesan keagamaan kerap terasa jauh dari tantangan nyata umat. Padahal Nabi Muhammad SAW secara tegas melarang perusakan lingkungan dan menganjurkan penanaman pohon sebagai amal berkelanjutan (HR. Bukhari No. 2320; Muslim No. 1553). Dakwah yang relevan menuntut penguasaan dasar ekologi yang berpadu dengan teks keagamaan.

Di ruang publik, lembaga dakwah juga belum tampil sebagai kekuatan advokasi ekologis yang konsisten. Keterlibatan dalam isu perusakan hutan, pertambangan destruktif, dan pencemaran lingkungan masih terbatas. Padahal Islam menempatkan keadilan sebagai prinsip utama, termasuk keadilan terhadap alam.

Ibn Taymiyyah menegaskan bahwa segala bentuk kezaliman, termasuk terhadap lingkungan, merupakan pelanggaran amanah manusia sebagai khalifah (Hasnawati, 2020). Ekoteologi mendorong dakwah hadir sebagai kekuatan moral publik yang berpihak pada keselamatan bersama.

Dalam program pemberdayaan umat, dimensi keberlanjutan lingkungan juga sering terabaikan. Tidak sedikit program ekonomi bertumpu pada eksploitasi sumber daya alam tanpa pertimbangan dampak jangka panjang. Al-Qur’an melarang penggunaan sumber daya secara berlebihan dan melampaui batas (QS. Al-A’raf: 31).

Kajian ekonomi lingkungan menegaskan bahwa pembangunan yang melampaui daya dukung ekologis akan merusak fondasi peradaban manusia (Humaida et al., 2020). Ekoteologi mengarahkan pemberdayaan umat menuju ekonomi yang adil, etis, dan berkelanjutan.

Masjid dan lembaga dakwah sejatinya dapat menjadi teladan institusi ramah lingkungan. Namun, praktik pengelolaan sampah, efisiensi energi, dan konservasi air masih minim diterapkan. Padahal masjid memiliki fungsi edukatif dan simbolik yang kuat di tengah masyarakat. Al-Ghazali menekankan bahwa kebersihan dan tanggung jawab moral merupakan bagian dari iman (Arijulmanan et al., 2020).

Pada akhirnya, krisis ekologis bukan sekadar persoalan teknis, melainkan krisis etika dan spiritual. Seyyed Hossein Nasr menyebut krisis ekologi modern sebagai krisis spiritualitas manusia (Sururi et al., 2020). Karena itu, pelestarian bumi harus ditempatkan sebagai bagian integral dari misi dakwah dan penghambaan kepada Tuhan.

Penulis: Herman, Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

dakwah ramah lingkungan ekoteologi Islam khalifah fil ardh konservasi masjid krisis lingkungan Nusantara literasi ekologi dai pendidikan lingkungan dakwah peran lembaga dakwah sustainability Islam
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Komunikasi Profetik di Era Digital: Arah Baru Pengembangan Ilmu Komunikasi

Doomposting Film “Ghost In The Cell”: Analisis Perilaku Netizen Lewat Cognitive Dissonance Theory

Banjir Konten UGC dari Brand Team,yang Dijual Produk apa Kisah Palsu?

Aksi Nyata Remaja Jawa Barat untuk Indonesia: Program Genesis Libatkan RibuanRemaja Cegah Stunting dan Krisis Fatherless Sejak Dini

SOLUSI MACET BANDUNG, ANGKUTAN UMUM TERINTEGRASI

Bandara Husein Sastranegara

Dilema Bandara Husein Sastranegara Antara Kenyamanan Turis dan Nasib Bandara Kertajati

Terpopuler
  • Link Video Ibu dan Anak Handuk Putih Banyak Dicari, Waspadai Modus Phishing
  • Ini Link Bagan 32 Besar Piala Dunia 2026 untuk Pantau Jadwal dan Skema Pertandingan
  • Jadwal Piala Dunia 2026 25–28 Juni, Banyak Laga Penentuan Tim Besar Dunia
  • Viral di TikTok! Ini Fakta Video Ibu dan Anak Handuk Putih yang Bikin Warganet Penasaran
  • Viral Video 30 Menit ‘Pramuka Cella atau Calla’ Heboh di Media Sosial, Apa Isinya?
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.