Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Igor Tolic Simpan Kabar Penting Jelang Persib vs Manila Digger

Selasa, 25 Agustus 2026 05:00 WIB

Hari Kedelapan Gempa Flores: 180 Ribu Warga Masih Mengungsi

Selasa, 25 Agustus 2026 04:00 WIB
Bansos

Nama Hilang dari Daftar Bansos Agustus 2026? Ini 6 Penyebab BPNT dan PKH Tak Masuk

Selasa, 25 Agustus 2026 03:00 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Igor Tolic Simpan Kabar Penting Jelang Persib vs Manila Digger
  • Hari Kedelapan Gempa Flores: 180 Ribu Warga Masih Mengungsi
  • Nama Hilang dari Daftar Bansos Agustus 2026? Ini 6 Penyebab BPNT dan PKH Tak Masuk
  • Cara Klaim Saldo DANA Gratis 25 Agustus 2026, Cair Langsung ke Dompet Digital Tanpa Syarat Rumit
  • Kumpulan Kode Redeem FF Terbaru 25 Agustus 2026, Klaim Skin dan Diamond Gratis Sebelum Hangus
  • Desil 1-4 Jadi Kunci Bansos Agustus 2026, Begini Cara Cek Status PKH dan BPNT Lewat HP
  • Anak Lebih Suka Cokelat daripada Susu? Champion Punya Jawaban Baru untuk Orang Tua
  • Sandy Walsh Bongkar Rahasia Cepat Nyetel di Persib, Ternyata Gara-gara Ini!
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Selasa, 25 Agustus 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Opini

Krisis Ekologi dan Tantangan Baru Dakwah

By SusanaMinggu, 25 Januari 2026 18:38 WIB3 Mins Read
Ilustrasi Krisis lingkungan Nusantara menuntut dakwah Islam berbasis ekoteologi. Foto: Chatgpt.
ADVERTISEMENT

Nusantara kini menghadapi krisis lingkungan yang semakin serius. Banjir, kekeringan ekstrem, deforestasi, dan polusi berulang serta berdampak langsung pada keberlangsungan hidup manusia (Astuti et al., 2024; Thamrin, 2017). Ironisnya, di tengah situasi ini, orientasi dakwah kelembagaan masih dominan ritual dan individualistik (Pardi, 2020).

Dakwah kerap berhenti pada penguatan ibadah personal tanpa dikaitkan dengan tanggung jawab ekologis. Padahal Al-Qur’an telah mengingatkan bahwa kerusakan di darat dan laut merupakan akibat perbuatan manusia sendiri (QS. Ar-Rum: 41). Tanpa perubahan orientasi, dakwah berisiko kehilangan daya jawab sosial di era krisis iklim.

Ekoteologi menawarkan koreksi penting atas situasi ini. Ibadah tidak hanya dimaknai sebagai relasi transenden dengan Tuhan, tetapi juga sebagai tanggung jawab moral menjaga bumi ciptaan-Nya (Hidayat, 2023). Kesalehan tidak cukup diukur dari intensitas ritual, melainkan dari dampaknya bagi keberlanjutan kehidupan (Runtuwene, 2025).

Dalam perspektif ini, kerusakan lingkungan bukan sekadar persoalan teknis, tetapi cermin kegagalan etika dan spiritual. Dakwah yang abai terhadap dimensi ekologis akan terputus dari realitas penderitaan umat yang hidup di wilayah rawan bencana.

Paradigma manusia sebagai khalifah fil ardh juga belum terinternalisasi secara kelembagaan (Julaeha & Kurniawan, 2018). Konsep kekhalifahan sering hadir sebagai wacana normatif, tetapi jarang menjadi dasar strategis program dakwah. Padahal Al-Qur’an menegaskan kekhalifahan sebagai amanah besar untuk menjaga dan melindungi kehidupan (QS. Al-Baqarah: 30). Konsep ini menuntut tanggung jawab etis menjaga keseimbangan kosmos, bukan pembenaran eksploitasi sumber daya alam tanpa batas (Darwis et al., 2023).

Persoalan lain terletak pada rendahnya literasi lingkungan di kalangan dai dan pengelola lembaga dakwah. Isu perubahan iklim, krisis air, dan degradasi lahan belum terintegrasi dalam narasi dakwah. Akibatnya, pesan keagamaan kerap terasa jauh dari tantangan nyata umat. Padahal Nabi Muhammad SAW secara tegas melarang perusakan lingkungan dan menganjurkan penanaman pohon sebagai amal berkelanjutan (HR. Bukhari No. 2320; Muslim No. 1553). Dakwah yang relevan menuntut penguasaan dasar ekologi yang berpadu dengan teks keagamaan.

Di ruang publik, lembaga dakwah juga belum tampil sebagai kekuatan advokasi ekologis yang konsisten. Keterlibatan dalam isu perusakan hutan, pertambangan destruktif, dan pencemaran lingkungan masih terbatas. Padahal Islam menempatkan keadilan sebagai prinsip utama, termasuk keadilan terhadap alam.

Ibn Taymiyyah menegaskan bahwa segala bentuk kezaliman, termasuk terhadap lingkungan, merupakan pelanggaran amanah manusia sebagai khalifah (Hasnawati, 2020). Ekoteologi mendorong dakwah hadir sebagai kekuatan moral publik yang berpihak pada keselamatan bersama.

Dalam program pemberdayaan umat, dimensi keberlanjutan lingkungan juga sering terabaikan. Tidak sedikit program ekonomi bertumpu pada eksploitasi sumber daya alam tanpa pertimbangan dampak jangka panjang. Al-Qur’an melarang penggunaan sumber daya secara berlebihan dan melampaui batas (QS. Al-A’raf: 31).

Kajian ekonomi lingkungan menegaskan bahwa pembangunan yang melampaui daya dukung ekologis akan merusak fondasi peradaban manusia (Humaida et al., 2020). Ekoteologi mengarahkan pemberdayaan umat menuju ekonomi yang adil, etis, dan berkelanjutan.

Masjid dan lembaga dakwah sejatinya dapat menjadi teladan institusi ramah lingkungan. Namun, praktik pengelolaan sampah, efisiensi energi, dan konservasi air masih minim diterapkan. Padahal masjid memiliki fungsi edukatif dan simbolik yang kuat di tengah masyarakat. Al-Ghazali menekankan bahwa kebersihan dan tanggung jawab moral merupakan bagian dari iman (Arijulmanan et al., 2020).

Pada akhirnya, krisis ekologis bukan sekadar persoalan teknis, melainkan krisis etika dan spiritual. Seyyed Hossein Nasr menyebut krisis ekologi modern sebagai krisis spiritualitas manusia (Sururi et al., 2020). Karena itu, pelestarian bumi harus ditempatkan sebagai bagian integral dari misi dakwah dan penghambaan kepada Tuhan.

Penulis: Herman, Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Mindshift 4: PKM-PM IPB University Bekali Perempuan Pekerja Migran Purna dengan Budidaya Terpadu Menuju Kemandirian Ekonomi

Komunikasi Profetik di Era Digital: Arah Baru Pengembangan Ilmu Komunikasi

Doomposting Film “Ghost In The Cell”: Analisis Perilaku Netizen Lewat Cognitive Dissonance Theory

Banjir Konten UGC dari Brand Team,yang Dijual Produk apa Kisah Palsu?

Aksi Nyata Remaja Jawa Barat untuk Indonesia: Program Genesis Libatkan RibuanRemaja Cegah Stunting dan Krisis Fatherless Sejak Dini

SOLUSI MACET BANDUNG, ANGKUTAN UMUM TERINTEGRASI

Terpopuler
  • Deretan Kode Redeem FF 19 Agustus 2026: Amankan Evolution Stone dan Skin Spesial Kemerdekaan!
  • Janji Penguatan UMKM Dipertanyakan di Tengah Masifnya Penertiban PKL Kota Bandung
  • Mengenang 50 Tahun Kebersamaan, Alumni ITB 76 Unjuk Budaya Lokal Lewat Karnaval Sisingaan di Bandung
  • Garena Free Fire
    Kode Redeem FF Terbaru 21 Agustus 2026: Serbu Evolution Stone dan Skin Senjata Gratis!
  • Lepas Saat Dijemur, Pitbull Ngamuk Serang Anak 9 Tahun di Arjasari Bandung
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.