bukamata.id – Malam pertama Ramadhan 1447 Hijriah di Kabupaten Sumenep, Madura, tidak dilewati dengan ketenangan sunyi seperti biasanya. Sejak siang hari pada Rabu (18/2/2026), ruas-ruas jalan di kawasan Pajagalan hingga Kecamatan Manding telah disesaki lautan manusia. Mereka bukan sedang melakukan demonstrasi, melainkan mengikuti apa yang kini populer disebut netizen sebagai “war” tempat tarawih.
Fenomena ini mendadak viral setelah akun Instagram @Lambe_Turah mengunggah video keriuhan jemaah yang memadati jalanan. Antusiasme warga begitu meledak hingga pihak kepolisian harus turun tangan mengatur lalu lintas yang lumpuh. Di balik fenomena religius yang masif ini, terselip satu nama yang sudah sangat akrab di telinga masyarakat Madura: Said Abdullah.
Tradisi Amplop Putih di Kota Keris
Bagi warga luar Madura, pemandangan ribuan orang berebut shaf tarawih hingga ke halaman rumah warga mungkin terasa ganjil. Namun bagi masyarakat “Kota Keris”, ini adalah tradisi tahunan yang dinanti. Keluarga besar Said Abdullah, politisi senior PDI Perjuangan, kembali menggelar pembagian zakat mal rutin.
Tahun ini, setiap jemaah yang hadir dan mengikuti rangkaian salat Tarawih di titik-titik yang ditentukan mendapatkan amplop berisi uang tunai sebesar Rp300.000. Sebuah nominal yang cukup fantastis bagi sebuah sedekah harian, mengingat ribuan jemaah hadir di setiap lokasi.
Moh Fauzi, tim distribusi zakat mal Said Abdullah di Sumenep, menegaskan bahwa kegiatan ini adalah kewajiban agama yang ditunaikan setiap tahun. “Zakat mal ini rutin dilakukan Bapak Said Abdullah. Untuk tahun 2026 ini, distribusi dilakukan serentak di delapan titik, termasuk Masjid Laju, Masjid Wakaf Abdullah, dan Masjid Fathimah binti Said Gauzan,” jelas Fauzi.
Berbeda dengan tahun 2023 yang sempat menuai kontroversi karena amplop berlogo partai, tahun ini jemaah menerima amplop putih polos tanpa gambar atau logo tertentu. Langkah ini tampaknya diambil untuk menjaga kekhusyukan ibadah sekaligus menghindari spekulasi politik di luar masa kampanye.
Mengintip Pundi-Pundi Sang Politisi Banteng
Filantropi masif yang dilakukan Said Abdullah tentu memicu pertanyaan publik: seberapa besar kekayaan pria kelahiran Sumenep ini hingga mampu menyantuni ribuan warga setiap malam Ramadhan?
Berdasarkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) yang dilaporkan per 31 Maret 2025 untuk periode 2024, kekayaan Said Abdullah tercatat menembus angka Rp101.300.253.583. Angka ini merupakan nilai bersih setelah dikurangi hutang sebesar Rp34,5 miliar.
Jika membedah rinciannya, aset terbesar Said berada pada sektor properti. Ia memiliki 45 titik tanah dan bangunan yang tersebar di berbagai wilayah dengan total nilai mencapai Rp66,58 miliar. Hal ini menunjukkan kedekatannya dengan investasi aset tidak bergerak yang stabil.
Di garasinya, Said mengoleksi kendaraan yang tergolong mewah namun fungsional untuk mobilitas politiknya, antara lain:
- Toyota Fortuner Jeep (2016) senilai Rp100 juta.
- Lexus Minibus (2020) senilai Rp600 juta.
- Toyota Fortuner Jeep (2023) senilai Rp625 juta.
Selain aset fisik, Said juga tercatat memiliki surat berharga senilai Rp45,2 miliar serta kas dan setara kas sebesar Rp15,3 miliar. Kekayaan yang melimpah inilah yang menjadi bahan bakar bagi aksi sosialnya di tanah kelahiran, Madura.
Perjalanan Panjang dari Sumenep ke Senayan
Kekayaan dan pengaruh Said Abdullah tidak datang dalam semalam. Ia adalah potret politisi yang merangkak dari bawah. Karier politiknya dimulai sejak usia muda di Sumenep sebagai Ketua DPC Banteng Muda Indonesia (1982-1985), sayap pemuda PDI kala itu.
Ketekunannya di partai berlambang banteng moncong putih membawanya menduduki berbagai posisi strategis, mulai dari Sekretaris DPC PDI Sumenep hingga akhirnya menembus level nasional. Said tercatat sebagai “pemain lama” di Senayan, menjabat sebagai anggota DPR RI selama beberapa periode berturut-turut (2004-2024).
Meski sempat mengalami kegagalan saat mencalonkan diri sebagai Wakil Gubernur Jawa Timur bersama Bambang DH pada 2013, posisi tawarnya di internal partai justru semakin menguat. Pada akhir 2025, ia kembali terpilih secara aklamasi sebagai Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur untuk periode 2025-2030. Jabatan ini mengukuhkan dominasinya sebagai motor utama partai di provinsi dengan basis massa terbesar kedua di Indonesia tersebut.
Antara Ibadah, Tradisi, dan Sorotan Publik
Aksi bagi-bagi uang di masjid memang selalu menjadi pisau bermata dua bagi politisi. Di satu sisi, bagi warga kurang mampu di Sumenep, bantuan Rp300.000 adalah berkah besar untuk menutupi kebutuhan dapur selama bulan puasa. Di sisi lain, kritikus sering kali melihatnya sebagai upaya memelihara basis massa melalui politik patronase.
Namun, Said Abdullah selalu menampik tudingan money politic. Baginya, apa yang dilakukan di masjid-masjid miliknya adalah murni zakat mal dan sedekah keluarga. “Ini adalah bentuk gotong royong kader dan niatnya adalah zakat mal,” tegas Said dalam berbagai kesempatan sebelumnya.
Terlepas dari perdebatan tersebut, fenomena “war” tarawih di Sumenep menjadi bukti betapa kuatnya pengaruh figur personal dalam dinamika sosial-keagamaan di Madura. Bagi ribuan warga yang rela berdesakan di bawah terik matahari hingga dinginnya malam di jalanan Pajagalan, sosok Said Abdullah bukan sekadar politisi di televisi, melainkan tetangga kaya yang rutin “mengetuk pintu” rumah mereka dengan bantuan nyata di bulan suci.
Kini, dengan total kekayaan yang mencapai seratus miliar lebih dan posisi politik yang kian kokoh di Jawa Timur, tradisi amplop Ramadhan ini diprediksi akan terus berlanjut, menjadikan masjid-masjid di Sumenep sebagai pusat perhatian nasional setiap kali hilal awal Ramadhan terlihat.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











