Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Misteri Kematian Satpam Waduk Jatiluhur Terkuak? Diduga Tewas sebelum Dibuang

Rabu, 29 Juli 2026 19:39 WIB

Belum Debut Tapi Sudah Jatuh Hati, Mariano Peralta Ungkap Pengalaman Pertama Bersama Persib

Rabu, 29 Juli 2026 19:11 WIB

Presiden Prabowo Lantik 1.204 Pamong Praja Muda IPDN: Ingatkan Pentingnya Integritas dan Keberpihakan pada Rakyat

Rabu, 29 Juli 2026 18:39 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Misteri Kematian Satpam Waduk Jatiluhur Terkuak? Diduga Tewas sebelum Dibuang
  • Belum Debut Tapi Sudah Jatuh Hati, Mariano Peralta Ungkap Pengalaman Pertama Bersama Persib
  • Presiden Prabowo Lantik 1.204 Pamong Praja Muda IPDN: Ingatkan Pentingnya Integritas dan Keberpihakan pada Rakyat
  • Bukan Cuma Sekali Bikin Ulah! Rekam Jejak Kontroversial Lurah Syerly yang Kini Diperiksa Inspektorat
  • Garuda Siap Tempur! Indonesia Dapat Grup Panas Hadapi Malaysia hingga India di FIFA ASEAN Cup 2026
  • Geger Penemuan Jasad Bayi Membusuk di Perkebunan Kuningan
  • Update Penyaluran BLT Kesra Rp900.000 Juli 2026: Status Terbaru dan Klarifikasi Pemerintah
  • Teras Cihampelas Resmi Diserahkan ke Pemprov Jabar, Oktober Ditargetkan Sudah Bersih
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Rabu, 29 Juli 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Demi Redam Perang Tarif, Indonesia ‘Terpaksa’ Belanja Migas AS Rp253 Triliun?

By Aga GustianaJumat, 20 Februari 2026 17:17 WIB2 Mins Read
Prabowo Subianto dan Donald Trump. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akhirnya angkat bicara mengenai kesepakatan besar bernilai US$15 miliar atau setara Rp253,3 triliun untuk mendatangkan migas dari Amerika Serikat. Langkah ini bukan sekadar urusan pemenuhan stok energi, melainkan sebuah manuver diplomatik untuk menjaga stabilitas perdagangan kedua negara.

Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia, menjelaskan bahwa gelontoran dana fantastis tersebut merupakan bagian dari upaya menyeimbangkan tarif resiprokal. Dengan kata lain, Indonesia berupaya memastikan posisi dagang dengan Negeri Paman Sam tetap harmonis dan saling menguntungkan.

“Ini kan dalam rangka menyeimbangkan tarif perdagangan kedua belah pihak,” ucap Anggia di Kantor Kementerian ESDM, Jumat (20/2/2026). Ia juga menekankan bahwa pembelian bahan bakar minyak (BBM) ini adalah konsekuensi dari komitmen internasional yang telah disepakati. “Akhirnya memang kita harus bersepakat untuk membeli BBM dari Amerika,” lanjutnya.

Bedah Paket Perjanjian US$15 Miliar

Kesepakatan yang tertuang dalam dokumen ‘Perjanjian Perdagangan Timbal Balik Amerika Serikat-Indonesia’ ini membagi impor dalam tiga sektor utama:

  • LPG: Senilai US$3,5 miliar.
  • Minyak Mentah: Senilai US$4,5 miliar.
  • Bensin Olahan: Mencapai US$7 miliar.

Paket besar ini resmi ditandatangani hari ini, menandai babak baru hubungan dagang energi antara Jakarta dan Washington.

Dilema Kemandirian Energi: Tetap Setop Impor Solar?

Kebijakan ini memicu pertanyaan publik, mengingat Menteri ESDM Bahlil Lahadalia gencar mengampanyekan kemandirian energi. Target pemerintah untuk menghentikan impor solar pada tahun ini, serta bensin dan avtur pada 2027, dianggap kontradiktif dengan perjanjian baru ini.

Namun, Anggia menegaskan bahwa perjanjian dagang khusus ini berada di jalur yang berbeda dengan peta jalan kemandirian energi nasional. Target utama pemerintah tidak akan bergeser meskipun ada komitmen dengan Amerika Serikat.

“Tapi tidak melepaskan bahwa kita tetap harus mengupayakan kemandirian energi kita dalam hal yang komitmen Pak Menteri untuk setop impor solar dan lainnya tetap jalan,” jelas Anggia. Beliau menegaskan bahwa langkah ini murni strategi hubungan internasional. “Ini satu hal yang berbeda karena kesepakatan untuk perdagangan antara kita dengan Amerika,” ucapnya.

Memahami Peran Vital Migas bagi RI

Minyak dan gas bumi tetap menjadi urat nadi perekonomian Indonesia. Mulai dari operasional transportasi massal hingga dapur rumah tangga (LPG), ketergantungan pada komoditas ini masih sangat tinggi. Meski target swasembada energi terus dikejar, realitas perdagangan global menuntut pemerintah untuk tetap lincah dalam menjalin kerja sama timbal balik demi menghindari tekanan tarif yang bisa membebani sektor industri nasional.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Bahlil Lahadalia Ekonomi Internasional Impor Migas AS kemandirian energi Kementerian ESDM
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Misteri Kematian Satpam Waduk Jatiluhur Terkuak? Diduga Tewas sebelum Dibuang

Presiden Prabowo Lantik 1.204 Pamong Praja Muda IPDN: Ingatkan Pentingnya Integritas dan Keberpihakan pada Rakyat

Bukan Cuma Sekali Bikin Ulah! Rekam Jejak Kontroversial Lurah Syerly yang Kini Diperiksa Inspektorat

Geger Penemuan Jasad Bayi Membusuk di Perkebunan Kuningan

Teras Cihampelas Resmi Diserahkan ke Pemprov Jabar, Oktober Ditargetkan Sudah Bersih

Babak Baru Kasus Taufik Hidayat, Kejati Jabar Ungkap Alasan Berkas Belum Bisa Dilanjutkan

Terpopuler
  • Korps Alumni KNPI Jabar Bentuk Badan Advokasi untuk Kawal Tata Kelola Pemerintahan dan Cegah Korupsi
  • Fakta Baru Satpam Tewas Terborgol di Waduk Jatiluhur: Polisi Tegaskan Belum Ada Tersangka
  • Bali Is Not Your Home! Viral WNA Gelar Event Lari Ekslusif, Warga Lokal Dilarang Ikut?
  • Dikenalkan Bos Hartono, Ini Sosok Dr. Veronica yang Bikin Irfan Hakim Penasaran Soal Akupunktur Telinga
  • Bandung Tak Lagi Aman? Sisi Gelap Geng Begal Malam Hari dan Tekanan Ekonomi Modern!
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.