Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Konflik Sarwendah dan Ruben Onsu Memanas, Pendiri Cherrybelle Bongkar Fakta Mengejutkan?

Kamis, 4 Juni 2026 21:06 WIB

Authentic Blast Bandung: 6 Dekade Vans Dirayakan sebagai Simbiosis Liar Seni, Musik, dan Skatea

Kamis, 4 Juni 2026 20:46 WIB

Maxwell Souza Resmi Tinggalkan Persija, Akankah Sang Striker Merapat ke Persib?

Kamis, 4 Juni 2026 20:30 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Konflik Sarwendah dan Ruben Onsu Memanas, Pendiri Cherrybelle Bongkar Fakta Mengejutkan?
  • Authentic Blast Bandung: 6 Dekade Vans Dirayakan sebagai Simbiosis Liar Seni, Musik, dan Skatea
  • Maxwell Souza Resmi Tinggalkan Persija, Akankah Sang Striker Merapat ke Persib?
  • Musim Kemarau 2026, Seluruh Kelurahan di Cimahi Berpotensi Alami Krisis Air Bersih
  • Detik-Detik Truk Tangki Terbakar di Cisumdawu, Arus Lalu Lintas Tersendat
  • GBLA Dibongkar Total demi Standar Asia, Persib Bandung Bersiap Jadi Musafir?
  • Meski Dunia Gelap Gulita, Mantan Musisi Ini Sukses Jadi Barista Handal, Omzet Jutaan!
  • Federico Barba Jadi Rebutan Klub Eropa, Sampdoria Siap Bajak Bek Andalan Persib
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Kamis, 4 Juni 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Demi Redam Perang Tarif, Indonesia ‘Terpaksa’ Belanja Migas AS Rp253 Triliun?

By Aga GustianaJumat, 20 Februari 2026 17:17 WIB2 Mins Read
Prabowo Subianto dan Donald Trump. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akhirnya angkat bicara mengenai kesepakatan besar bernilai US$15 miliar atau setara Rp253,3 triliun untuk mendatangkan migas dari Amerika Serikat. Langkah ini bukan sekadar urusan pemenuhan stok energi, melainkan sebuah manuver diplomatik untuk menjaga stabilitas perdagangan kedua negara.

Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia, menjelaskan bahwa gelontoran dana fantastis tersebut merupakan bagian dari upaya menyeimbangkan tarif resiprokal. Dengan kata lain, Indonesia berupaya memastikan posisi dagang dengan Negeri Paman Sam tetap harmonis dan saling menguntungkan.

“Ini kan dalam rangka menyeimbangkan tarif perdagangan kedua belah pihak,” ucap Anggia di Kantor Kementerian ESDM, Jumat (20/2/2026). Ia juga menekankan bahwa pembelian bahan bakar minyak (BBM) ini adalah konsekuensi dari komitmen internasional yang telah disepakati. “Akhirnya memang kita harus bersepakat untuk membeli BBM dari Amerika,” lanjutnya.

Baca Juga:  Dukung Langkah Tegas Pemerintah, DMS Apresiasi Pencabutan Izin Tambang di Raja Ampat

Bedah Paket Perjanjian US$15 Miliar

Kesepakatan yang tertuang dalam dokumen ‘Perjanjian Perdagangan Timbal Balik Amerika Serikat-Indonesia’ ini membagi impor dalam tiga sektor utama:

  • LPG: Senilai US$3,5 miliar.
  • Minyak Mentah: Senilai US$4,5 miliar.
  • Bensin Olahan: Mencapai US$7 miliar.

Paket besar ini resmi ditandatangani hari ini, menandai babak baru hubungan dagang energi antara Jakarta dan Washington.

Dilema Kemandirian Energi: Tetap Setop Impor Solar?

Kebijakan ini memicu pertanyaan publik, mengingat Menteri ESDM Bahlil Lahadalia gencar mengampanyekan kemandirian energi. Target pemerintah untuk menghentikan impor solar pada tahun ini, serta bensin dan avtur pada 2027, dianggap kontradiktif dengan perjanjian baru ini.

Baca Juga:  Isi Kuliah Umum di IPDN, Bahlil Sebut Hilirisasi Bantu Wujudkan Indonesia Emas 2045

Namun, Anggia menegaskan bahwa perjanjian dagang khusus ini berada di jalur yang berbeda dengan peta jalan kemandirian energi nasional. Target utama pemerintah tidak akan bergeser meskipun ada komitmen dengan Amerika Serikat.

“Tapi tidak melepaskan bahwa kita tetap harus mengupayakan kemandirian energi kita dalam hal yang komitmen Pak Menteri untuk setop impor solar dan lainnya tetap jalan,” jelas Anggia. Beliau menegaskan bahwa langkah ini murni strategi hubungan internasional. “Ini satu hal yang berbeda karena kesepakatan untuk perdagangan antara kita dengan Amerika,” ucapnya.

Baca Juga:  Kementerian ESDM Pastikan LPG 3 Kg Satu Harga Berlaku 2026, Beli Gas Melon Kini Wajib Pakai KTP

Memahami Peran Vital Migas bagi RI

Minyak dan gas bumi tetap menjadi urat nadi perekonomian Indonesia. Mulai dari operasional transportasi massal hingga dapur rumah tangga (LPG), ketergantungan pada komoditas ini masih sangat tinggi. Meski target swasembada energi terus dikejar, realitas perdagangan global menuntut pemerintah untuk tetap lincah dalam menjalin kerja sama timbal balik demi menghindari tekanan tarif yang bisa membebani sektor industri nasional.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Bahlil Lahadalia Ekonomi Internasional Impor Migas AS kemandirian energi Kementerian ESDM
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Authentic Blast Bandung: 6 Dekade Vans Dirayakan sebagai Simbiosis Liar Seni, Musik, dan Skatea

Musim Kemarau 2026, Seluruh Kelurahan di Cimahi Berpotensi Alami Krisis Air Bersih

Detik-Detik Truk Tangki Terbakar di Cisumdawu, Arus Lalu Lintas Tersendat

Sadis! Lansia di Cigadung Ditodong Cutter, Polisi Ungkap Modusnya

Punya Aset Rp9 Miliar, Segini Rincian Kekayaan Eks Kepala Badan Gizi Dadan Hindayana

Viral! Truk Box Tabrak Palang Pintu KA di Cimindi, Perlintasan Sempat Terganggu

Terpopuler
  • Video Rok Hijau Tosca di Dapur Viral! Ini Fakta Sebenarnya di TikTok
  • Video ‘Rok Hijau Tosca’ 3 Menit Bikin Heboh Warganet, Ternyata Ini yang Terjadi
  • Video ‘Rok Hijau 3 Menit’ Viral, Link Mencurigakan Mulai Menjebak Warganet
  • Rok Hijau Tosca Viral Gegerkan TikTok, Link Asli Bikin Penasaran Warganet
  • Nama Vell Mendadak Trending Lagi, Benarkah Ada Video Viral Berdurasi 10 Menit?
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.