bukamata.id – Ancaman kekeringan dan krisis air bersih di Kota Cimahi mulai diwaspadai seiring memasuki musim kemarau tahun 2026. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Cimahi memprediksi ratusan wilayah permukiman berpotensi terdampak apabila musim kemarau berlangsung lebih panjang dari biasanya.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Cimahi, Fithriandy Kurniawan, mengatakan berdasarkan hasil pemetaan yang dilakukan pihaknya, sebanyak 312 RW yang tersebar di seluruh kelurahan masuk kategori wilayah rawan kekeringan selama musim kemarau 2026.
Seluruh Kelurahan di Cimahi Berpotensi Terdampak Kekeringan
Fithriandy menjelaskan, potensi krisis air bersih tidak hanya terjadi di beberapa titik tertentu, tetapi dapat meluas ke seluruh wilayah Kota Cimahi jika kondisi cuaca ekstrem berlangsung dalam waktu lama.
“Berdasarkan pemetaan yang kami miliki, seluruh kelurahan di Kota Cimahi memiliki potensi terdampak kekeringan dan krisis air bersih. Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus hingga Oktober 2026,” ujar Fithriandy, Kamis (4/6).
Menurutnya, musim kemarau yang berkepanjangan dapat menyebabkan penurunan debit air di berbagai sumber air yang selama ini dimanfaatkan masyarakat.
Cimahi Selatan Jadi Wilayah Paling Rawan
Berdasarkan hasil Kajian Risiko Bencana (KRB) yang disusun BPBD Kota Cimahi, kawasan Cimahi Selatan menjadi wilayah dengan tingkat kerawanan tertinggi terhadap kekeringan.
Beberapa kelurahan seperti Melong, Utama, dan Leuwigajah diperkirakan akan merasakan dampak paling signifikan apabila cadangan air terus berkurang selama musim kemarau.
“Kerentanan dipicu tingginya ketergantungan masyarakat terhadap pasokan air dari PDAM dan sumber air tanah yang selama ini menjadi kebutuhan utama warga untuk aktivitas sehari-hari,” katanya.
Debit Air Tanah Menurun Saat Kemarau
Fithriandy menambahkan, menurunnya debit air tanah dan berkurangnya ketersediaan air pada sumur-sumur warga menjadi faktor yang dapat memperparah kondisi saat musim kemarau mencapai puncaknya.
Sebagian besar masyarakat Kota Cimahi masih mengandalkan sumur sebagai sumber air utama. Ketika musim kemarau berlangsung dalam waktu lama, volume air di sumur biasanya mengalami penurunan sehingga menyulitkan warga mendapatkan air bersih.
“Sebagian besar masyarakat masih mengandalkan sumur sebagai sumber air utama. Ketika kemarau berlangsung cukup lama, ketersediaan air biasanya menurun sehingga warga kesulitan memperoleh air bersih,” ujarnya.
BPBD Siapkan Distribusi Bantuan Air Bersih
Sebagai langkah antisipasi menghadapi potensi krisis air bersih, BPBD Kota Cimahi telah menyiapkan koordinasi lintas instansi untuk memastikan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi.
Upaya tersebut akan melibatkan Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) serta Perumda Tirta Raharja dalam penyaluran bantuan air bersih ke wilayah yang terdampak.
Selain itu, BPBD juga membuka layanan pelaporan bagi warga yang mengalami kesulitan mendapatkan air bersih selama musim kemarau.
“Apabila terdapat laporan dari masyarakat mengenai kekurangan air bersih, kami akan segera berkoordinasi dengan DPKP maupun pihak terkait lainnya untuk melakukan distribusi bantuan air bersih sesuai kebutuhan,” pungkas Fithriandy.
BPBD Kota Cimahi mengimbau masyarakat untuk mulai menghemat penggunaan air dan mempersiapkan cadangan air bersih guna mengantisipasi dampak musim kemarau yang diperkirakan mencapai puncaknya pada Agustus hingga Oktober 2026.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










