bukamata.id – Aroma pekat kopi robusta bercampur gurihnya arabika menyeruak kuat, menembus batas pagar sebuah rumah di Perumahan Villa Ijen, Kelurahan Banjarsari, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi. Di teras rumah yang disulap menjadi kedai sederhana bernama Asyifa Coffee tersebut, seorang pria berdiri tegak di balik meja bar. Namanya Nurul Imam. Usianya 38 tahun.
Sekilas, tidak ada yang berbeda dari cara Imam beraktivitas. Namun, jika diperhatikan lebih dekat, ada koreografi yang tidak biasa dari gerakan tubuhnya. Tangan kirinya bergerak perlahan, meraba permukaan mesin espresso yang dingin, mencari titik presisi. Sementara itu, tangan kanannya memegang erat sebuah portafilter besi yang sudah padat terisi bubuk kopi.
Klik. Dengan ketepatan yang mengagumkan, portafilter itu terkunci sempurna di group head mesin. Detik berikutnya, jari telunjuk Imam menekan tombol mekanis di bagian atas. Suara dengung mesin berderu halus, disusul kucuran cairan hitam pekat berbusa keemasan—crema yang sempurna—mengalir lancar ke dalam gelas kaca.
“Ini namanya kopi buta,” seloroh Imam sembari menyuguhkan segelas espresso hangat kepada tamunya. Ia tertawa lepas, sebuah tawa renyah yang langsung mencairkan suasana. Gurauan itu bukan bermaksud meratapi nasib, melainkan cara Imam berdamai, memeluk erat takdirnya dengan penuh suka cita.
Nurul Imam adalah seorang tunanetra. Sejak lahir, dunia di matanya hanyalah siluet samar-samar. Dan sejak tahun 2016, malam yang permanen benar-benar datang; ia kehilangan penglihatannya secara total. Namun, di balik kegelapan mutlak yang menyelimuti kedua matanya, Imam justru menemukan cahaya baru yang beraroma kafein.
Ketika Pandemi Mengubah Alur Hidup
Sebelum dikenal sebagai peracik kopi andal, Imam adalah seorang musisi lokal. Baginya, musik adalah bahasa jiwa dan sumber penghidupan. Namun, badai pandemi Covid-15 yang melanda dunia beberapa tahun lalu memorak-porandakan segalanya. Panggung-panggung musik mendadak sepi, lampu sorot padam, dan aktivitas bermusik Imam terhenti total.
Di tengah ketidakpastian ekonomi dan kejenuhan yang mengurung ruang gerak, Imam menolak untuk menyerah pada keadaan. “Waktu pandemi saya berhenti bermain musik. Dari situ mulai iseng belajar kopi,” kenangnya membuka memori lama.
Ketertarikan awal yang bermula dari keisengan itu perlahan berubah menjadi api hasrat yang menyala-nyala. Sekitar tahun 2015-2016, Imam sebenarnya sudah mulai mengenal dunia kopi berkat bimbingan seorang pengusaha kopi lokal serta sahabatnya, Novian, pemilik usaha Mobile Caffe (Moca). Namun, momen pandemilah yang memaksa Imam untuk benar-benar menyelami bisnis ini secara serius dan mandiri.
Bagi orang dengan penglihatan normal, menjadi barista mungkin hanya soal estetika dan hafalan resep. Namun bagi Imam, ini adalah tantangan yang melibatkan seluruh panca indra lainnya yang masih berfungsi. Tanpa sepasang mata, ia harus mengandalkan kepekaan luar biasa dari indra penciuman, pendengaran, dan perabaannya.
Hebatnya, hanya dalam hitungan pekan, Imam mampu menguasai berbagai teknik penyeduhan. Teras rumahnya kini dipenuhi dengan deretan toples berisi biji kopi, kompor gas kecil, grinder manual maupun elektrik, teko leher angsa, hingga mesin espresso modern. Ia tidak hanya piawai membuat espresso, tetapi juga fasih meracik kopi tubruk tradisional hingga mengekstraksi rasa menggunakan moka pot.
Menakar Rasa Lewat Suara dan Suhu
Bagaimana seorang tunanetra total bisa mengoperasikan peralatan kopi yang berisiko tinggi tanpa melepuh atau salah takaran? Jawabannya adalah latihan yang telaten dan kepekaan rasa yang terlatih.
Untuk memastikan teko air berada tepat di atas tungku kompor yang menyala, Imam harus meraba dengan sangat hati-hati, membaca posisi spasial melalui ujung-ujung jarinya. Telinganya bertindak sebagai alat ukur digital. Ia menghafal dengan sangat detail perbedaan bunyi desis air yang mulai menghangat, gemuruh air yang mendidih sempurna, hingga gemercik air saat dituangkan ke dalam gelas.
Untuk urusan volume air, Imam memiliki teknik yang unik sekaligus berisiko. Ia meletakkan ujung jari telunjuk atau jempolnya di batas atas bagian dalam gelas. Saat ia menuangkan air panas, ia mengandalkan sensor alami kulitnya. Begitu jarinya menyentuh cairan dan merasakan sensasi panas yang menyengat, ia tahu bahwa air sudah berada di takaran yang pas dan harus segera menghentikan tuangan.
Tidak hanya dalam menyeduh, kelebihan utama Imam terletak pada hidungnya. Ia mampu membedakan jenis-jenis biji kopi hanya dengan sekali hirup. “Kalau dibuka aromanya beda. Robusta, Arabika, sampai Excelsa itu punya ciri khas sendiri,” jelas Imam. Kepekaan inilah yang membuatnya dipercaya oleh para pelanggan untuk mengkurasi biji kopi terbaik.
Menembus Batas Digital dan Pasar UMKM
Langkah Imam tidak berhenti di bar teras rumahnya. Ia melihat peluang yang lebih besar di ranah digital. Hebatnya, seluruh manajemen operasional Asyifa Coffee, mulai dari promosi hingga administrasi penjualan di media sosial, dikelola oleh Imam secara mandiri menggunakan teknologi pembaca layar (screen reader) pada ponselnya.
“Kemasan bisa beli lewat TikTok Asyifa Coffee. Di profil ada nomor saya. Adminnya saya sendiri,” kata Imam dengan nada bangga. Melalui platform digital tersebut, ia memasarkan kopi dalam bentuk bubuk siap seduh maupun biji kopi sangrai (roasted beans) ke berbagai wilayah. Ia mengambil biji kopi mentah dari petani lokal Banyuwangi, lalu bekerja sama dengan rekannya untuk proses roasting, sebelum akhirnya ia kemas sendiri di rumah.
Selain berjualan secara daring, nama Nurul Imam kini kian populer di skena UMKM dan festival kopi di Banyuwangi. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi pun kerap melibatkannya dalam berbagai acara daerah.
Salah satu momen yang paling berkesan bagi Imam adalah ketika ia diundang untuk mengisi stan dalam kegiatan “Senja di AWT” yang digelar di destinasi wisata baru, Argowisata Taman Suruh. Selama pergelaran tersebut, kehadiran barista tunanetra yang cekatan ini menarik perhatian ratusan pengunjung.
“Hari pertama dan kedua penjualannya cukup signifikan. Sampai hari ketiga total omzet sekitar Rp 2 juta,” cerita Imam dengan mata berbinar. Penghasilan tersebut menjadi bukti nyata bahwa produk kopi racikannya mampu bersaing di pasar, bukan sekadar dibeli karena rasa iba, melainkan karena kualitas rasa yang dihadirkannya.
Sang Pengajar yang Menabur Inspirasi
Di luar kesibukannya mengurus Asyifa Coffee, Imam memiliki tanggung jawab mulia yang menjadi pilar utama hidupnya. Ia adalah seorang guru agama Islam di SLB (Sekolah Luar Biasa) Negeri Banyuwangi. Sejak tahun 2025, statusnya resmi meningkat menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) penuh waktu.
Profesi sebagai pendidik inilah yang membuat kedai kopi di teras rumahnya terkadang terasa lengang, karena Imam hanya membuka kedai di sela-sela waktu luang mengajar. Namun, status sebagai guru tidak membatasi cintanya pada kopi; ia justru mengawinkan kedua dunia tersebut.
Melihat murid-muridnya yang sesama penyandang tunanetra seringkali minder dan merasa tidak memiliki masa depan, Imam tergerak. Ia mendirikan kegiatan ekstrakurikuler barista di sekolahnya. Saat ini, ada delapan siswa tunanetra yang dibimbingnya secara langsung. Imam menularkan seluruh ilmu, teknik, dan sensitivitas indra yang dimilikinya kepada anak-anak didiknya.
“Banyak anak-anak difabel yang masih berkutat dengan keterbatasannya. Saya selalu bilang jangan manja. Ini keadaan yang harus kita terima dan kita harus tetap kreatif,” tegas Imam. Kini, kedelapan muridnya tersebut telah mahir menyeduh kopi, siap menghadapi dunia dengan sebuah keterampilan baru yang menjanjikan.
Menatap Masa Depan dengan Pasif
Bagi Imam, Asyifa Coffee bukan sekadar usaha sampingan untuk mencari uang jajan tambahan. Ini adalah sebuah visi besar tentang kemandirian di masa tua. Ia sadar betul bahwa fisiknya suatu saat akan menua dan masa baktinya sebagai guru PPPK akan usai.
“Cita-cita saya, kalau saya sudah pensiun dari mengajar, saya harus punya pemasukan pasif (passive income),” ungkap Imam. “Alhamdulillah semua berjalan. Saya punya target sebelum usia 40 tahun bisa punya passive income yang stabil.”
Dengan memperkuat penjualan kopi kemasan dan memperluas jaringan pelanggan biji kopi sangrai, Imam sedang membangun fondasi ekonomi yang kuat. Ia membuktikan bahwa kebutaan fisik bukanlah akhir dari produktivitas ekonomi.
Kisah perjuangan Nurul Imam yang viral di berbagai media sosial pun memanen decak kagum dari masyarakat luas. Di kolom komentar media sosial, ribuan warganet memberikan apresiasi dan doa yang tulus untuk kelancaran usahanya:
“Allahu Akbar hebat… lindungi banyak rezeki,” tulis seorang netizen penuh kekaguman.
“MasyaAllah kerennya. Laris manis jualannya, berkah dan sehat selalu,” sahut netizen lainnya.
“Allah beri keterbatasan dan Allah beri kelebihan.. Bersama kesulitan ada kemudahan.. MasyaAllah,” timpal warga digital yang terinspirasi oleh keteguhan hatinya.
Dari sebuah teras rumah di Banyuwangi, Nurul Imam telah mengirimkan pesan kuat kepada dunia: bahwa secangkir kopi hitam yang pahit sekalipun, jika diracik dengan penerimaan, kerja keras, dan rasa syukur, akan mampu menyajikan rasa manis kehidupan yang menginspirasi sesama. Keterbatasan sejati bukanlah terletak pada mata yang tidak bisa melihat, melainkan pada hati yang berhenti berharap dan berinovasi.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










