bukamara.id – Isu barak militer kembali jadi sorotan publik setelah program penempatan siswa bermasalah ke fasilitas militer ini menuai kontroversi dan kini tengah dievaluasi oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Program yang digagas oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, kini dalam sorotan DPRD Jabar dan Dinas Pendidikan. Dalam pembahasan yang berlangsung intensif, muncul wacana untuk menghentikan program ini dan menggantinya dengan pendekatan pendidikan karakter yang lebih sistematis.
Menurut Anggota Komisi V DPRD Jawa Barat, Hasbullah Rahmat, program tersebut saat ini masih berlangsung pada gelombang kedua. Namun, arah kebijakan ke depan mengarah pada pembinaan berbasis nilai dan etika yang terintegrasi dalam sistem pendidikan formal.
Apa Itu Barak Militer?
Meski istilah barak militer kerap muncul di media sosial, nyatanya banyak masyarakat belum benar-benar memahami makna dan fungsi tempat ini. Dalam pengertian umum, barak adalah kompleks bangunan tempat tinggal tentara, biasa disebut juga asrama militer.
Namun menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), barak juga bisa merujuk pada fasilitas sementara bagi pekerja atau tempat isolasi bagi pasien tertentu. Dalam konteks militer, barak berperan sebagai tempat tinggal yang dirancang untuk mendukung aktivitas pelatihan, operasi, serta logistik prajurit.
Barak bisa berbentuk gedung permanen maupun struktur sementara seperti tenda, namun semua dirancang dengan tujuan memberikan tempat tinggal yang terorganisir, aman, dan fungsional bagi personel militer.
Barak Sebagai Sarana Pembinaan Remaja
Yang menarik, istilah barak militer kini juga dikaitkan dengan program pembinaan remaja di Jawa Barat. Dalam versi sipilnya, barak digunakan bukan untuk tujuan militerisasi, tetapi sebagai wadah penguatan karakter bagi siswa yang dinilai bermasalah dari sisi perilaku.
Kolonel Arm Roni Junaidi menjelaskan bahwa peserta dalam program ini mengikuti kurikulum khusus yang memadukan pembelajaran tentang karakter, bela negara, pendekatan psikologis, serta nilai spiritualitas. Keseharian mereka diisi dengan kegiatan positif seperti salat berjemaah, olahraga, menjaga kebersihan, makan teratur, dan sesi konseling.
Program ini bertujuan untuk membentuk disiplin, tanggung jawab, serta kestabilan mental dan spiritual. Dukungan datang dari berbagai pihak—termasuk TNI, Polri, dinas sosial, hingga para psikolog. Banyak orang tua pun mengapresiasi pendekatan ini karena dianggap mampu mengarahkan anak-anak mereka ke jalur yang lebih positif.
Evaluasi dan Masa Depan Program
Kendati demikian, pendekatan berbasis barak militer juga menuai kritik dari sejumlah pihak yang menilai bahwa metode semi-militer tidak selalu relevan dalam konteks pendidikan modern. Oleh karena itu, saat ini tengah digodok model alternatif yang lebih terintegrasi dan berbasis pendidikan karakter di sekolah formal.
Langkah evaluatif ini diharapkan mampu melahirkan kebijakan baru yang tetap fokus pada pembinaan siswa bermasalah, namun dengan pendekatan yang lebih inklusif, terukur, dan berdampak jangka panjang.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










