bukamata.id – Naskah kuno Sunda Sanghyang Siksa Kandang Karesian, warisan berharga dari abad ke-16, resmi masuk dalam daftar nominasi Memory of the World (MoW) UNESCO periode 2024–2025. Naskah yang sarat nilai moral dan kebudayaan ini diajukan oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) bersama karya sastrawan sufi Nusantara, Hamzah Fansuri.
Pengumuman ini disampaikan Dewan Eksekutif UNESCO melalui International Advisory Committee (IAC), setelah menyeleksi 122 naskah dari berbagai negara anggota dan menetapkan 74 naskah sebagai nominasi internasional.
Jejak Ajaran Resi Sunda: Tanyakan Gajah, Bukan Sekadar Peribahasa
Salah satu bagian terkenal dari naskah Sanghyang Siksa Kandang Karesian adalah petuah bijak: “Gajendra carita banem” – Ingin tahu hutan, tanyalah gajah.
Ungkapan ini sejalan dengan pemaknaan gajah dalam banyak budaya, termasuk dalam film The Jungle Book, sebagai makhluk yang paling memahami hutan. Dalam konteks naskah, gajah adalah simbol kebijaksanaan, bukan ajakan literal untuk bertanya pada binatang, melainkan pada sosok manusia bijak setara gajah dalam pengetahuan.
Naskah Langka Bernilai Universal
Menurut Perpusnas, naskah Sanghyang Siksa Kandang Karesian memiliki signifikansi universal karena memuat nilai-nilai moral seperti kejujuran dan integritas, serta menggambarkan tatanan sosial, politik, dan ekonomi masyarakat Sunda abad ke-16.
Naskah ini tergolong sangat langka. Hanya ada dua naskah asli di dunia, yaitu naskah L 630 dan L 624, yang keduanya disimpan di Perpusnas RI. Salah satu di antaranya, naskah lontar L 630, diketahui berasal dari koleksi pelukis kenamaan Raden Saleh dan bertanggal 1518 Masehi.
Ajaran Hidup dan Filosofi Sunda
Berjudul lengkap Sanghyang Siksa Kandang Karesian, naskah ini berisi pitutur atau ajaran hidup untuk seluruh lapisan masyarakat—ayah, ibu, anak, hingga pemimpin spiritual. Nama “Siksa Kandang Karesian” sendiri berarti “ajaran suci dari para resi”, bagian dari Tritangtu Sunda (Rama, Ratu, Resi) yang merupakan tiga pilar kehidupan masyarakat Sunda.
Bentuknya berupa puisi bernada seloka, yang memudahkan ajaran tersebut untuk diingat dan diajarkan turun-temurun. Salah satu kutipan yang sering viral di media sosial berbunyi:
Tadaga carita angsa, Gajendra carita banem,
Matsyanem carita sagarem, Puspanem carita bangbarem
(Ingin tahu telaga, tanyalah angsa.
Ingin tahu hutan, tanyalah gajah.
Ingin tahu laut, tanyalah ikan.
Ingin tahu bunga, tanyalah kumbang.)
Ulasan tentang Kujang dan Senjata Tradisional
Menariknya, naskah ini juga memuat informasi penting tentang senjata tradisional Sunda, seperti kujang dan golok. Berbeda dengan masa kini, kujang dulunya adalah alat petani, sementara golok merupakan senjata para raja. Penjelasan ini menunjukkan dinamika sosial dan budaya dalam penggunaan benda-benda pusaka.
Dalam terjemahan resmi oleh Depdikbud (1992), disebutkan bahwa golok, keris, dan pedang adalah senjata kaum prabu, sementara kujang, baliung, dan patik adalah milik petani. Penjelasan ini memperkuat posisi naskah sebagai artefak yang bukan hanya mengandung ajaran spiritual, tetapi juga deskripsi kehidupan sehari-hari masa silam.
Warisan Tak Tergantikan
Dengan hanya dua salinan asli yang masih bertahan, Sanghyang Siksa Kandang Karesian dinilai sebagai dokumen tak tergantikan. Naskah ini bukan hanya bukti sejarah, tetapi juga sumber inspirasi untuk generasi masa kini dalam membangun masyarakat yang beretika dan berbudaya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









