bukamata.id – Gubernur Jawa Barat terpilih periode 2025-2030, Dedi Mulyadi, mengungkapkan alur dana pembangunan yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) serta tantangan yang dihadapi saat proses distribusi anggaran sampai ke kontraktor.
Dalam penjelasannya, Dedi Mulyadi menekankan bahwa anggaran yang dialokasikan untuk proyek pembangunan tidak digunakan sepenuhnya oleh kontraktor.
“Saya kasih tahu pada warga ya, kalau dari belanja pembangunan itu dianggarkan 10 miliar, itu tidak 10 miliarnya dipakai, kan pemahaman warga mah 10 miliar full, enggak,” ujarnya, dikutip dari Instagram @dedimulyadi71, Selasa (28/1/2025).
Dedi menjelaskan bahwa anggaran pembangunan yang sudah disetujui akan dipotong biaya umum sebesar 5%. Sehingga, dari anggaran awal 10 miliar, hanya tersisa 9,5 miliar.
Kemudian, setelah dipotong pajak dan penurunan harga dari proses tender, dana yang benar-benar bisa diterima kontraktor untuk pembangunan hanya sekitar 7 miliar.
Mantan Bupati Purwakarta dua periode itu juga menambahkan bahwa hal tersebut sudah tergolong ideal.
“Kalau banting harganya 20%, ya kemudian dari 7 miliar itu dia ngambil keuntungan 15%, berarti yang diterapkannya cuma 55% dan itu sudah bagus,” jelasnya.
Namun, ia juga mengkritisi praktik di lapangan yang terkadang terjadi, di mana nilai dana yang diterima kontraktor bisa lebih rendah lagi, bahkan hanya 30-40%.
“Karena banyak yang ketika dipasang di lapangan tinggal 40%, bahkan ada yang 30%, kalau di daerah-daerah banyak yang disubkan,” ungkap Dedi.
Lebih lanjut, ia menyoroti fenomena pemborong yang hanya menang tender tanpa benar-benar menjalankan proyek pembangunan.
“Yang penting menang tender, sudah tender dijual, dia ambil 5-10%, jadi ada pemborong yang tidak pernah ngeborong, itu banyak kejadian begitu,” kata Dedi.
Meski demikian, Dedi juga mengingatkan bahwa meskipun ada banyak kendala dalam pelaksanaan pembangunan, setidaknya ada manfaat yang dirasakan oleh masyarakat, seperti jalan yang dapat dinikmati oleh warga.
“Seburuk-buruknya dia punya pekerjaan manfaatnya ada, ada bukti jalan dinikmati oleh masyarakat, dibanding yang beli laptop, mobil dinas, dibanding yang pengadaan makanan dan minuman,” tandasnya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











