bukamata.id – Sebuah teks tersembunyi yang berada di bawah lapisan dekorasi emas pada salah satu halaman Al-Quran Biru (Blue Quran) akhirnya terungkap.
Teks di bawah Al-Quran berusia 1.000 tahun itu terungkap oleh peneliti dari Zayed National Museum (ZNM) dengan menggunakan teknologi pencitraan canggih. Teknologi ini mampu mengungkap detail yang tidak terlihat oleh mata manusia.
Al-Quran Biru merupakan salah satu manuskrip Al-Quran yang paling langka dan signifikan.
Manuskrip ini diperkirakan berasal dari abad ke-9 hingga ke-10 dan dikenal karena keunikan halamannya yang berwarna biru tua atau indigo, dihiasi dengan dekorasi perak dan kaligrafi emas.
Teks dalam manuskrip ini ditulis dengan gaya kaligrafi Arab tertua yang kini sulit dibaca, yaitu Kufi.
Para ahli meyakini bahwa manuskrip ini pada awalnya terdiri dari 600 halaman yang terbuat dari kulit domba, namun saat ini hanya sekitar 100 halaman yang diketahui keberadaannya dan tersebar di koleksi museum ataupun pribadi di seluruh dunia.
“Diperkirakan hanya ada satu salinan Al-Qur’an Biru, sedangkan sekitar 100 halamannya yang diketahui telah memukau para cendekiawan selama beberapa dekade,” kata Nurul Iman Bint Rusli, kurator ZNM, melansir Newsweek.
Sementara, teknologi yang digunakan ZNM yaitu pencitraan multispektral mampu mengungkap teks dan gambar yang telah memudar, atau tersembunyi di balik lapisan dekorasi.
Pada halaman yang diteliti, terungkap bahwa dekorasi emas yang rumit mungkin ditambahkan untuk menutupi kesalahan yang dibuat oleh penulis manuskrip ini.
Mengingat tingginya biaya pembuatan halaman dari kulit domba yang diwarnai indigo, pembuatan ulang halaman yang baru dianggap terlalu mahal. Oleh karena itu, pola dekoratif digunakan untuk menyembunyikan teks yang keliru.
“Teknologi canggih yang digunakan untuk memberikan pencerahan baru pada halaman manuskrip ini membantu memberikan perspektif tambahan mengenai produksi salinan Al-Qur’an yang langka ini,” kata Rusli.
Kendati asal-usul manuskrip ini masih menjadi misteri, namun para ahli menduga jika naskah ini mungkin berasal dari Afrika Utara, Irak atau Andalusia di Spanyol Selatan.
Penemuan ini dinilai tak hanya membuka wawasan baru, namun juga menyoroti pentingnya teknologi modern dalam mengungkap sejarah tersembunyi.
“Penelitian inovatif Museum Nasional Zayed tentang Al-Qur’an Biru memberikan pandangan baru tentang asal-usul dan produksi manuskrip penting ini,” tambah Mai al-Mansouri, kurator asosiasi ZNM.
Sementara itu, penemuan ini mengungkapkan bahwa di balik hiasan terdapat kesalahan dalam penulisan ayat-ayat Surat An-Nisa yang ditutupi oleh penulis aslinya.
Menurut petugas museum, jenis koreksi ini sangat jarang terjadi pada manuskrip Islam dari periode tersebut, dan memberikan wawasan yang berharga tentang praktik para juru tulis awal.
Al-Qur’an Biru diyakini dibuat pada akhir abad ke-9 atau awal abad ke-10, kemungkinan besar untuk komunitas Muslim Kairouan yang terletak di Tunisia modern. Naskah yang dikenal dengan tinta biru dan kaligrafi emas dan perak yang mewah di atas perkamen domba ini terdiri dari sekitar 600 halaman.
Dari jumlah tersebut, hanya 100 halaman yang diketahui keberadaannya, dengan lima halaman yang disimpan di Museum Nasional Zayed, menjadikannya artefak yang sangat berharga.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









