Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

10 Destinasi Wisata Pilihan di Bandung Barat untuk Liburan Keluarga

Jumat, 18 September 2026 06:00 WIB

Statistik Bicara! Teja Paku Alam Pimpin Rating Pemain Persib vs FC Seoul

Jumat, 18 September 2026 05:00 WIB

Wajib Coba Saat ke Bandung! Cendol Legendaris Ini Sudah Ada Sejak 1972

Jumat, 18 September 2026 04:00 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • 10 Destinasi Wisata Pilihan di Bandung Barat untuk Liburan Keluarga
  • Statistik Bicara! Teja Paku Alam Pimpin Rating Pemain Persib vs FC Seoul
  • Wajib Coba Saat ke Bandung! Cendol Legendaris Ini Sudah Ada Sejak 1972
  • Shin Tae-yong Buka Suara Jelang Persija vs Java United FC di Bali
  • Redmi Note 17 Series Resmi Meluncur di Indonesia, Bawa Baterai 10.000 mAh
  • Resmi Meluncur, Ini Deretan Fitur Canggih One UI 9 di Jajaran Galaxy S26 Series Beserta Cara Instalasinya
  • Terjadi 118 Kali, Rangkaian Gempa Kabupaten Bandung Ternyata Berada di Area Ini
  • Polisi Amankan Pengrajin Kayu di Parongpong, Diduga Racik Bom hingga Uji Coba Puluhan Kali
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Jumat, 18 September 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Gaya Hidup

Peneliti Singapura Bikin Kecoak Cyborg, Bisa Menyelamatkan Manusia

By Aga GustianaKamis, 26 Desember 2024 14:47 WIB2 Mins Read
Peneliti Singapura Bikin Kecoak Cyborg. (Foto: Universitas Teknologi Nanyang)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Peneliti dari Universitas Teknologi Nanyang (NTU) di Singapura membuat inovasi baru berupa kecoak cyborg. Bahkan serangga yang ditanami teknologi ini bisa menjadi penyelamat manusia.

Kecoak cyborg ini dibuat oleh tim peneliti NTU dengan menanamkan sirkuit elektronik ke dalam tubuh hewan tersebut.

Sirkuit elektronik itu ditanam dengan menggunakan sistem yang mereka kembangkan sebelumnya. Bahkan, sistem tersebut sangat efisien sehingga mampu menghasilkan kecoak cyborg hanya kurun waktu 68 detik.

Ini merupakan peningkatan pesat dari upaya sebelumnya yang memerlukan implantasi elektroda secara manual. Proses ini sangat lambat karena struktur tubuh serangga yang rapuh.

Baca Juga:  Polemik Tarif Selat Malaka: Mengapa Indonesia Tak Bisa Tarik Pungutan Sembarangan?

Adapun proses pembuatan kecoak cyborg yakni dimulai dengan membiusnya menggunakan karbondioksida untuk membuatnya tidak aktif.

Proses ini menyederhanakan tugas rumit untuk memasang makhluk kecil dengan “ransel” elektronik mini yang dilengkapi dengan elektroda dan mikrochip.

Para peneliti kemudian menggunakan robot yang dilengkapi dengan penglihatan komputer untuk memindai setiap kecoak.

Robot tersebut akan menentukan lokasi implan yang optimal berdasarkan ukuran dan struktur tubuh masing-masing.

Lengan robot akan dengan cermat dan hati-hati memasang komponen yang diperlukan. Setelah ditransplatasikan, elektroda sirkuit dapat secara elektrik merangsang neuron kecoak untuk mengontrol gerakannya.

Baca Juga:  Turis Singapura Pilih Berdamai, Proses Hukum Dihentikan

Setelah prosedur selesai, kecoak dilepaskan. Hewan ini selanjutnya dapat dikendalikan dari jarak jauh.

Para peneliti telah menguji proses produksi ini kepada kecoak berdengking di Madagaskar, yang merupakan salah satu kecoak terbesar dengan ukurannya mencapai 5 dan 7,5 sentimeter saat dewasa.

Hasilnya pun cukup memuaskan. Di mana kecoak cyborg dapat diperintah untuk memutar, memperlambat dan menavigasi melalui tes rintangan.

Kemampuan unik kecoak cyborg diklaim mampu melintasi medan yang tidak rata, dan bahkan memanjat dinding.

Baca Juga:  Kasus Covid-19 Naik di Singapura dan Thailand, Bagaimana Situasi di Indonesia?

Selain itu, kecoak cyborg ini bisa mendeteksi bahan kimia, gas dan manusia. Dengan ini, kecoak secara unik memenuhi syarat untuk tugas-tugas yang penting, seperti menemukan korban selamat di gedung-gedung yang runtuh, ataupun mengidentifikasi bahaya lingkungan.

Terlepas dari prospek yang menarik ini, masih ada tantangan utama yang tersisa. Yakni, bagaimana kecoak ini bisa bekerja secara otomatis, bukan dengan kendali jarak jauh. Jika hal ini dapat dicapai, para peneliti mengklaim bahwa ratusan kecoak tersebut dapat dioperasikan secara bersamaan untuk misi yang lebih besar.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Singapura
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

10 Destinasi Wisata Pilihan di Bandung Barat untuk Liburan Keluarga

Wajib Coba Saat ke Bandung! Cendol Legendaris Ini Sudah Ada Sejak 1972

Redmi Note 17 Series Resmi Meluncur di Indonesia, Bawa Baterai 10.000 mAh

Resmi Meluncur, Ini Deretan Fitur Canggih One UI 9 di Jajaran Galaxy S26 Series Beserta Cara Instalasinya

Dari Ratu Model ke Kursi Panas: Sisi Lain Ida Yulidina, Istri Purbaya yang Berani Bongkar Rahasia Istana!

llustrasi olahraga padel yang sedang booming di Indonesia.

Mau Main Padel di Bandung? Cek 5 Venue Ini, Ada yang Buka sampai Tengah Malam

Terpopuler
  • Jadwal Lengkap FC Seoul vs Persib Bandung di ACL 2: Waktu Kick-off dan Link Nonton
  • Game Free Fire
    Deretan Kode Redeem FF 15 September 2026, Klaim Reward Senjata Eksklusif Sekarang Juga!
  • Tradisi 60 Tahun Berujung Hujatan! Menelusuri Fakta di Balik Hebohnya Simbang Kulon Night Carnival 2026
  • Link Live Streaming ACL 2: FC Seoul vs Persib Bandung, Nonton Gratis di Sini!
  • Karpet Merah Mobilitas Publik atau Kuburan Ekonomi Rakyat: Menelisik Polemik di Balik Megaproyek BRT Bandung Raya
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.