Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Temu Media di Bandung, Ledia Hanifa Bahas MBG hingga Pendidikan

Sabtu, 1 Agustus 2026 22:16 WIB

Dosen Ini Gunakan Trik untuk Bongkar 32 Mahasiswa yang Ketahuan Menyontek Pakai AI

Sabtu, 1 Agustus 2026 21:57 WIB

Daftar Lengkap 35 Cabang Olahraga yang Diikuti Kontingen Indonesia di Asian Games 2026

Sabtu, 1 Agustus 2026 21:15 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Temu Media di Bandung, Ledia Hanifa Bahas MBG hingga Pendidikan
  • Dosen Ini Gunakan Trik untuk Bongkar 32 Mahasiswa yang Ketahuan Menyontek Pakai AI
  • Daftar Lengkap 35 Cabang Olahraga yang Diikuti Kontingen Indonesia di Asian Games 2026
  • Ketika Negara Lain Punya Pahlawan Sendiri, Bogor Punya ‘The Sanitizer’ yang Bekerja dalam Senyap
  • Jalan Terjal Menuju Semifinal: Persija Bantai PSMS 4-1, Skenario El Clasico Kontra Persib di Depan Mata!
  • Duka Bertubi-tubi Hantam Pas Band, Kehilangan Beruntun dari Istri Personel hingga Trisnoize
  • Rumor Jay Idzes Diincar PSG, Benarkah Ada Ketertarikan dari Raksasa Prancis?
  • Skenario Semifinal Piala Presiden 2026: Menakar Calon Lawan Persib Bandung
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Minggu, 2 Agustus 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Miris! Potret Getir Bocah di Bandung Barat: Makan Rumput Demi Bertahan di Balik Keterbatasan

By SusanaKamis, 30 April 2026 10:59 WIB5 Mins Read
Video bocah disabilitas di Bandung Barat yang diduga memakan rumput viral di media sosial. Foto: Ist.
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Sebuah video yang memperlihatkan seorang anak memakan rumput di pinggir jalan mendadak viral di media sosial. Banyak yang tertegun, tak sedikit pula yang menahan haru.

Di balik video tersebut, tersimpan kisah pilu seorang bocah bernama Muhammad Rizki (11), atau yang akrab disapa Kiki, warga Kampung Babakan Cianjur, Desa Gadobangkong, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat.

Di usianya yang masih belia, Kiki harus menjalani kehidupan dengan berbagai keterbatasan. Ia merupakan penyandang disabilitas dengan gangguan mental dan tunawicara. Hari-harinya dihabiskan bersama sang ayah, Asep Setiawan (49), serta neneknya, dalam kondisi ekonomi yang jauh dari kata cukup.

Namun, bukan hanya keterbatasan yang membuat kisah ini menyentuh. Kebiasaan Kiki memakan rumput dan dedaunan menjadi potret getir yang menyadarkan banyak orang tentang realitas yang sering luput dari perhatian.

Awal Mula Kebiasaan yang Mengundang Tanda Tanya

Di mata orang awam, kebiasaan memakan rumput mungkin sulit dipahami. Namun bagi Asep, ayah Kiki, itu adalah cerita panjang yang penuh luka dan ketidakberdayaan.

“Betul, anak saya punya kebiasaan memakan dedaunan, dari rumput sampai daun apa saja di sekitarnya. Tapi dia tahu mana yang beracun dan tidak,” ujar Asep dengan nada lirih.

Kebiasaan itu ternyata bukan hal baru. Sudah sejak Kiki berusia sekitar empat tahun, perilaku tersebut mulai terlihat. Saat itu, mereka masih tinggal di rumah kontrakan sederhana di wilayah Bunisari, Gadobangkong.

Asep masih mengingat jelas momen pertama kali menyadari kebiasaan tersebut, sebuah kejadian sederhana yang kini terasa begitu membekas.

“Waktu itu saya lagi jualan sandal keliling, belum sempat makan. Saya tinggalin Kiki di kamar buat cari makanan. Pas saya balik bawa nasi, saya lihat dia lagi makan daun talas. Ternyata dia ambil dari luar dan disimpan di sakunya,” kenangnya.

Sejak saat itu, Asep mulai memahami bahwa anaknya mungkin memiliki cara sendiri untuk merespons rasa lapar cara yang tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.

Ketika Lapar Tak Bisa Diucapkan

Kiki tidak bisa berbicara. Ia juga memiliki keterbatasan dalam memahami dan mengekspresikan kebutuhan dasarnya. Bagi Asep, kebiasaan makan daun dan rumput bisa jadi merupakan bentuk komunikasi yang tak pernah tersampaikan.

“Mungkin karena dia tidak bisa bilang kalau lapar, jadi makan daun. Kalau dilarang, dia bisa marah,” ujarnya.

Hingga kini, kebiasaan itu masih sering terjadi. Meski Asep terus berupaya mencegah, keterbatasan kondisi membuat pengawasan tidak selalu bisa dilakukan setiap saat.

Di sisi lain, kondisi ekonomi keluarga juga menjadi tantangan besar. Asep bekerja serabutan, bahkan kerap harus mengorbankan waktu mencari nafkah demi merawat Kiki.

“Kalau tidak dijaga, dia bisa pergi dan tidak tahu jalan pulang,” katanya.

Hidup dalam Keterbatasan, Minim Sentuhan Bantuan

Ironisnya, di tengah kondisi yang serba sulit, Asep mengaku belum pernah menerima bantuan sosial dari pemerintah, seperti Program Keluarga Harapan (PKH) maupun Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT).

Padahal, kebutuhan Kiki tidak hanya sebatas makanan, tetapi juga pendidikan dan terapi khusus yang hingga kini belum terpenuhi.

“Harapan saya sederhana, anak saya bisa sekolah dan dapat terapi. Tapi sekarang belum bisa karena terkendala biaya,” ungkap Asep.

Ketua RT setempat, Cecep Mulyana, membenarkan kondisi tersebut. Ia menyebut pihak kewilayahan terus berupaya membantu, termasuk dalam pengurusan administrasi kependudukan agar keluarga Kiki bisa mendapatkan hak bantuan sosial.

“Kami terus dampingi. Mudah-mudahan pemerintah bisa segera turun tangan, bukan hanya untuk anaknya, tapi juga ayahnya agar punya pekerjaan tetap,” ujarnya.

Viral di Media Sosial, Pemerintah Akhirnya Turun Tangan

Perhatian publik yang meluas akhirnya membawa secercah harapan. Bupati Bandung Barat, Jeje Ritchie Ismail, turun langsung mengunjungi kediaman Kiki.

Dalam kunjungannya, Jeje memastikan bahwa kondisi Kiki akan segera ditangani secara serius oleh pemerintah daerah.

“Berdasarkan keterangan keluarga, kebiasaan ini sudah berlangsung lama dan salah satunya dipengaruhi kondisi kesehatan mentalnya,” kata Jeje.

Ia juga menegaskan bahwa kebiasaan tersebut bukan semata-mata karena kekurangan makanan. Kiki diketahui memiliki preferensi makan tertentu dan tidak menyukai nasi, melainkan lebih sering mengonsumsi mie.

Langkah Penanganan: Dari Kesehatan hingga Pendidikan

Sebagai langkah awal, Jeje menginstruksikan Dinas Kesehatan untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap kondisi Kiki. Hal ini penting untuk memastikan tidak ada infeksi atau risiko kesehatan akibat kebiasaan mengonsumsi rumput secara langsung.

“Harus dicek kesehatannya. Nanti ada pendampingan dari Dinkes karena dikhawatirkan ada bakteri,” jelasnya.

Tak hanya itu, pemerintah juga akan memberikan pendampingan dari Dinas Sosial dan Disdukcapil. Bahkan, Kiki direncanakan akan disekolahkan di Sekolah Luar Biasa (SLB) agar mendapatkan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhannya.

Untuk penanganan lebih lanjut, Kiki juga direkomendasikan menjalani rehabilitasi di Balai Besar Rehabilitasi Sosial Bina Grahita (BBRSBG) Wiyataguna, yang memiliki layanan khusus bagi penyandang disabilitas intelektual dan tunawicara.

Di Balik Viral, Ada Harapan yang Mulai Menyala

Kisah Kiki bukan sekadar konten viral. Ia adalah cerminan nyata tentang bagaimana keterbatasan, kemiskinan, dan minimnya akses layanan bisa saling bertaut, membentuk realitas yang getir.

Namun di balik itu, ada kasih sayang seorang ayah yang tak pernah surut, meski hidup dalam kekurangan. Ada pula harapan yang kini mulai tumbuh, seiring perhatian publik dan langkah nyata pemerintah.

Bagi Asep, semua ini adalah titik awal.

Sebuah harapan sederhana, agar anaknya bisa hidup lebih layak, mendapatkan pendidikan, dan suatu hari nanti tidak lagi harus “berbicara” melalui rumput yang ia makan.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

anak disabilitas viral bantuan sosial bocah makan rumput bandung barat Jeje Ritchie Ismail kemiskinan bandung barat kisah haru anak Indonesia kisah kiki ngamprah
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Temu Media di Bandung, Ledia Hanifa Bahas MBG hingga Pendidikan

Viral Lautan Manusia Antar Jenazah Kades Pegiringan Pemalang, Terungkap Amalan Semasa Hidup

Daftar Harga Terbaru BBM Nonsubsidi Pertamina, Resmi Turun Per 1 Agustus 2026

Tanggal 1 Agustus Jatuh Hari Sabtu, Apakah Gaji Pensiunan PNS Tetap Cair? Ini Jawaban Taspen

Segera cair bansos KLJ Agustus 2025,

Bansos Kemensos Tahap 3 2026 Cair! Cek NIK KTP Sekarang, Ada PKH dan BPNT Rp600 Ribu

Tantan Sulthon Bukhawan Resmi Maju Calon Ketua PWI Jabar, Bawa Program 1.000 UKW Gratis untuk Wartawan

Terpopuler
  • Rindang Jadi Beton! 9 Pohon di Cihapit Ditebang Demi Lapangan Padel?
  • Fakta Baru Satpam Tewas Terborgol di Waduk Jatiluhur: Polisi Tegaskan Belum Ada Tersangka
  • Dikenalkan Bos Hartono, Ini Sosok Dr. Veronica yang Bikin Irfan Hakim Penasaran Soal Akupunktur Telinga
  • Bandung Tak Lagi Aman? Sisi Gelap Geng Begal Malam Hari dan Tekanan Ekonomi Modern!
  • Rahasia Persib Tak Terkalahkan Terungkap, Igor Tolic Sebut Faktor Ini Jadi Kunci Lolos ke Semifinal
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.