bukamata.id – Aktor Roby Tremonti kembali menjadi sorotan publik setelah muncul kabar bahwa ia diduga menyewa jasa buzzer untuk menyerang Aurelie Moeremans. Isu ini ramai diperbincangkan di media sosial dan memicu berbagai spekulasi. Namun, benarkah informasi tersebut?
Setiap hari, netizen seolah tak pernah kehabisan temuan baru soal Roby Tremonti. Baru-baru ini, perhatian publik tertuju pada dugaan bahwa Roby menyewa buzzer. Tujuan pasti dari tindakan itu masih belum jelas, tetapi spekulasi yang berkembang adalah bahwa langkah ini dilakukan untuk memperbaiki citra yang mulai menurun di mata publik.
Informasi ini mencuat ketika netizen menemukan tangkapan layar percakapan di Instagram Direct Message (DM) antara Roby dan seorang yang diduga buzzer. Dalam percakapan itu, mereka membahas soal tarif jasa postingan yang akan digunakan untuk mempromosikan atau melindungi nama Roby. Dari sinilah publik mulai menduga bahwa Roby sengaja memanfaatkan jasa buzzer untuk mengatur opini publik dan memperbaiki image-nya.
Penyedia jasa buzzer tersebut menggunakan platform Threads dengan akun @hanandaaaaa. Akun ini mengaku sempat dihubungi untuk menyerang Aurelie Moeremans. “Kak @aurelie si roby mau pake jasa saya kak tapi gak punya uang mau tuker exposure katanya take and give, briefnya dah ada nih yang mau dinaekan buat nyerang kamu dan buktinya. jadi jangan kaget kalau hari ini ada banyak yang upload,” tulis pemilik akun, dikutip pada Rabu (21/1/2026).
Meski demikian, Roby Tremonti tampaknya menilai tarif yang diajukan terlalu tinggi. Dalam DM itu, Roby menulis, “Spil tipis-tipis ah kak @aurelie bayar aku sini kak 450rb buat naikin di TikTok IG sama short. Mahal gak? Materinya 1+1=? 11×11=?. Matematikan ini tidak sulit bukan? LAH MAHAL.”
Tersebarnya percakapan ini kemudian memicu spekulasi netizen yang lebih luas. Banyak yang mengaitkan dugaan ini dengan upaya Roby memperbaiki citranya di publik. Dugaan muncul karena sebagian publik merasa jika Roby tidak memiliki masalah reputasi, ia tidak perlu menyewa buzzer untuk membersihkan namanya. Hingga saat ini, Roby Tremonti belum memberikan klarifikasi resmi terkait tuduhan tersebut.
Di tengah kontroversi ini, perhatian publik tidak lepas dari buku memoar Aurelie Moeremans, Broken Strings. Buku ini menjadi pusat diskusi karena secara terbuka menceritakan pengalaman pribadi Aurelie serta proses penyembuhan yang ia jalani. Memoar tersebut bukan sekadar cerita pribadi, tetapi juga menjadi ruang bagi Aurelie untuk berbagi pengalaman hidup dan refleksi diri.
Namun, publik kerap terjebak pada spekulasi terkait karakter-karakter dalam buku tersebut, termasuk Bobby, Jo, Mama Jo, Kelly, Milo, Zane, hingga Tom. Nama Roby Tremonti pun ikut terseret karena beberapa orang menafsirkan karakter Bobby mirip dengan dirinya. Meski demikian, Aurelie menekankan agar publik tidak langsung menuding atau menyerang siapa pun.
“Please…. Aku mau minta satu hal notes penting soal Broken Strings. Tolong jangan membully atau menyerang karakter-karakter yang ada di dalam buku, apalagi kalau itu masih sebatas tebakan-tebakan,” tulis Aurelie di Threads pada Minggu, 18 Januari 2026.
Aurelie mengaku tidak nyaman dengan berbagai asumsi yang beredar. Ia menekankan bahwa kebenaran dari rumor-rumor tersebut belum tentu dapat dipastikan. “Banyak asumsi di luar sana yang belum tentu benar, dan jujur aku gak enak bacanya,” ujarnya.
Dalam penjelasannya, Aurelie menekankan bahwa tujuan utama memoar Broken Strings bukanlah untuk mengungkap identitas orang nyata di balik karakter-karakter dalam buku. “Fokus dari cerita ini bukan untuk mencari siapa-siapa di dunia nyata, bukan untuk menghakimi, apalagi mengeroyok. Fokusnya adalah pengalaman, luka, dan proses penyembuhan yang aku bagikan dengan sangat jujur,” tegas Aurelie.
Ia menambahkan, jika ada orang yang mengaku sebagai karakter tertentu, itu adalah urusan masing-masing. Namun, ia meminta agar publik tidak hanya menebak-nebak dan kemudian menyerang. “Kalau hanya menebak-nebak dan lalu menyerang, plis jangan,” imbuhnya.
Aurelie menutup pesannya dengan harapan agar ruang diskusi seputar Broken Strings tetap aman, penuh empati, dan tidak berubah menjadi ajang perundungan baru. “Aku nulis buku ini bukan untuk menciptakan target baru buat di-bully. Aku menulis karena ingin membuka mata, memberi awareness, dan semoga bisa membantu orang lain yang pernah berada di posisi yang sama. Let’s keep this space kind, aman, dan penuh empati,” pungkasnya.
Kisah ini menunjukkan bagaimana dunia maya bisa menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, media sosial memungkinkan cerita penting seperti pengalaman Aurelie tersampaikan kepada publik luas. Namun di sisi lain, spekulasi, asumsi, dan misinformasi bisa berkembang dengan cepat, memicu kontroversi yang bahkan bisa menyeret pihak yang tidak terkait secara langsung.
Dalam konteks Roby Tremonti, isu buzzer ini menimbulkan pertanyaan lebih luas mengenai etika penggunaan media sosial dan jasa pengaruh digital. Apakah tindakan menyewa buzzer untuk membela citra diri bisa diterima publik? Atau justru akan memperburuk persepsi masyarakat terhadap figur publik tersebut?
Yang jelas, hingga saat ini belum ada pernyataan resmi dari Roby terkait tuduhan ini. Sementara Aurelie terus menekankan pentingnya fokus pada pesan inti bukunya, yakni pengalaman pribadi dan proses penyembuhan, bukan pencarian “musuh” nyata di dunia nyata.
Fenomena ini menjadi contoh nyata bagaimana rumor, asumsi, dan interpretasi publik bisa membentuk opini bahkan sebelum fakta lengkap tersedia. Bagi masyarakat luas, hal ini menjadi pengingat untuk lebih bijak menyikapi berita di media sosial, serta menghargai ruang pribadi dan pengalaman orang lain.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










