bukamata.id – Dunia digital Indonesia baru-baru ini dikejutkan oleh sebuah pengakuan jujur dari salah satu diaspora berprestasi kita di Denmark, Salsa Erwina Hutagalung. Melalui unggahan video emosional di akun Instagram pribadinya, @salsaer, pada Jumat (15/5/2026), Salsa membagikan transformasi pemikiran yang mendalam: ia akhirnya memutuskan untuk tidak lagi memegang prinsip childfree.
Keputusan ini menjadi menarik karena Salsa bukan sekadar influencer biasa. Ia adalah sosok yang dikenal kritis, berpendidikan tinggi, dan pernah menjadi simbol perlawanan anak muda saat polemiknya dengan DPR RI viral beberapa waktu silam. Kini, di tengah arus tren childfree yang kian kencang di kalangan milenial dan Gen Z, Salsa justru melangkah ke arah sebaliknya setelah melalui proses penyembuhan mental yang panjang.
Tren Childfree: Antara Otonomi Tubuh dan Realitas Sosial
Fenomena childfree—pilihan sadar untuk tidak memiliki anak—bukan lagi isu pinggiran di Indonesia. Nama-nama besar seperti Gita Savitri (Gitsav) sempat menjadi martir perdebatan ini, menyatakan bahwa tidak memiliki anak adalah resep awet muda dan bentuk kebebasan mental. Artis serba bisa Rina Nose juga secara terbuka menyatakan telah bersepakat dengan suaminya, Josscy Vallaza Aartsen, untuk hidup bahagia tanpa buah hati guna menghindari potensi masalah baru dalam hidup mereka.
Tak hanya mereka, daftar publik figur yang memilih jalan ini kian panjang. Mulai dari Cinta Laura yang lebih memilih opsi adopsi karena isu overpopulasi, hingga Stephanie Poetri yang baru menikah tahun lalu dan merasa dunia sudah terlalu “tidak nyaman” untuk dihuni generasi baru.
Di kalangan mahasiswa dan profesional muda, pilihan ini sering kali dianggap sebagai respons rasional terhadap ketidakpastian ekonomi, biaya pendidikan yang selangit, hingga kesadaran akan kesehatan mental. Namun, cerita Salsa Erwina memberikan perspektif baru: bahwa terkadang, keinginan untuk childfree bukanlah sebuah tujuan akhir, melainkan sebuah “benteng pertahanan” dari trauma masa lalu.
Profil Salsa Erwina: Sang Debatur Tangguh yang Menetap di Denmark
Salsa Erwina Hutagalung bukanlah sosok baru di panggung opini publik. Lulusan Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan IPK 3.81 ini adalah salah satu dari 10 Mahasiswa Berprestasi Nasional pada masanya. Ia adalah debatur kelas dunia yang pernah mewakili Indonesia di Berlin dan menjuarai kompetisi di Nanyang Technological University, Singapura.
Kariernya pun mentereng, mulai dari Sustainability Coordinator di Danone Indonesia hingga menjabat sebagai Vice President di RevoU. Kini, ia menetap di Aarhus, Denmark, bekerja sebagai Strategy Manager di Vestas, sebuah perusahaan energi terbarukan global.
Publik mungkin paling mengingatnya saat ia dengan berani menantang debat terbuka politisi senior DPR RI, Ahmad Sahroni. Kala itu, Salsa bersuara lantang melawan pernyataan yang dianggap meremehkan kemampuan perempuan Indonesia dan mengkritik transparansi gaji anggota dewan. Keberaniannya menjadikannya sosok yang dikagumi karena kecerdasan dan integritasnya. Namun, di balik ketangguhannya di ruang publik, Salsa menyimpan perjuangan personal yang baru ia buka sekarang.
Trauma Masa Kecil dan Perjalanan Pulang
Dalam videonya, Salsa mengaku bahwa dulu ia adalah penganut fanatik childfree. Pemicunya jelas: trauma masa kecil. Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga yang penuh konflik dan kehilangan figur orang tua yang sehat.
“Dulu aku yakin banget nggak bakal punya anak, bahkan terpikir nggak perlu menikah. Karena buat aku, keluarga bukan tempat yang aman atau penuh cinta,” ungkap Salsa.
Bagi banyak orang, childfree adalah cara untuk memutus rantai penderitaan (breaking the cycle). Ketakutan terbesar Salsa adalah mewariskan luka emosional yang ia rasakan kepada anaknya kelak. Namun, perjalanan hidup di Denmark dan bantuan profesional mengubah segalanya.
Salsa menjalani serangkaian terapi, mulai dari psikoterapi hingga hipnoterapi. Ia mulai mempelajari literatur self-help secara mendalam untuk memproses luka-luka lama. Titik baliknya terjadi ketika ia menyadari bahwa ketidakinginannya memiliki anak bukanlah karena ia tidak mampu mencintai, melainkan karena ia terlalu takut untuk gagal.
Dukungan dari suaminya, Ali Ebrahimi—seorang pakar Artificial Intelligence (AI) di Denmark—menjadi pilar utama. Hubungan yang sehat dan suportif membantunya melihat bahwa keluarga bisa menjadi tempat yang aman. “Ternyata, bukan aku yang benar-benar tidak ingin punya anak, tapi aku takut banget untuk mengulang luka,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.
Redefinisi Keluarga dan Respons Publik
Kini, dengan kondisi ekonomi yang mapan dan mental yang lebih stabil, Salsa merasa siap memberikan “sesuatu” yang dulu tidak ia dapatkan. Ia ingin merefleksikan kembali arti keluarga sebagai tempat validasi dan rasa aman.
Unggahan ini langsung dibanjiri komentar netizen yang beragam, mulai dari yang merasa terwakili hingga yang memberikan doa tulus:
- “Sehat-sehat adek dan debaynya,” tulis seorang netizen memberikan dukungan hangat.
- “Siapa di sini yang seneng banget liat dan denger suara kak @salsaer lagi? Berasa banget suara kita diperjuangkan. Sehat selalu, kak. I am with you,” komentar lainnya, merujuk pada masa-masa Salsa aktif menyuarakan isu publik.
- “Seperti aku 11 tahun yang lalu, nggak perlu lah menikah, apalagi punya anak, sekarang anakku mau tiga… mereka harus lebih baik dari aku,” tulis seorang ibu yang merasakan kemiripan kisah.
Sebuah Keputusan yang Valid
Salsa menutup pesannya dengan sebuah pengingat penting: baik pilihan childfree maupun memiliki anak adalah keputusan yang sama-sama valid. Yang terpenting adalah keputusan tersebut diambil berdasarkan kesadaran penuh dan kesehatan mental, bukan karena tekanan sosial maupun sekadar mengikuti tren.
Perjalanan Salsa dari seorang debatur kritis yang menantang DPR hingga menjadi seorang calon ibu yang damai dengan masa lalunya, memberikan pelajaran berharga. Bahwa manusia bisa berubah, dan perubahan itu adalah tanda dari pertumbuhan. Bagi Salsa, memiliki anak kini bukan lagi sebuah ancaman, melainkan sebuah kesempatan untuk menulis cerita keluarga yang baru—cerita yang penuh dengan cinta, keamanan, dan penyembuhan.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









