bukamata.id – China mengadakan parade militer spektakuler di Lapangan Tiananmen, Beijing, Rabu pagi, untuk memperingati 80 tahun berakhirnya Perang Dunia II. Acara ini menampilkan barisan pasukan yang rapi, konvoi kendaraan tempur, serta jet-jet tempur yang menggelegar di langit, sekaligus menonjolkan kebanggaan nasional dan modernisasi militer.
Parade tersebut tidak hanya sekadar pertunjukan, tetapi juga menjadi ajang diplomasi China. Sejumlah pemimpin dunia hadir, termasuk Presiden Rusia Vladimir Putin dan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un. Presiden Indonesia Prabowo, yang semula menyatakan kehadiran terhalang kondisi keamanan dalam negeri, terlihat hadir di barisan tamu kehormatan bersama para pemimpin negara Asia Tenggara lainnya. Sementara itu, sebagian besar pemimpin Barat memilih absen karena ketegangan geopolitik global.
Memimpin parade, Presiden China Xi Jinping mengenakan setelan abu-abu ala Mao Zedong. Dari podium di Tiananmen, Xi menyampaikan penghormatan kepada rakyat China yang telah berkorban dan menekankan komitmen negara itu untuk menjaga kedaulatan sekaligus perdamaian dunia.
“Hari ini, umat manusia sekali lagi dihadapkan pada pilihan: damai atau perang, dialog atau konfrontasi, saling menguntungkan atau menang sendiri,” ujar Xi dalam pidatonya yang berlangsung sekitar tujuh menit.
Pernyataan ini disampaikan di tengah konflik yang masih berlangsung di Ukraina dan Timur Tengah, serta dinamika global yang kian terpolarisasi. Xi menegaskan bahwa China akan terus menempuh pembangunan secara damai dan bekerja sama dengan masyarakat dunia untuk membangun masa depan bersama.
Parade ini memperingati kemenangan China atas Jepang pada 1945, menandai perjuangan melawan penjajahan dan kelompok fasis dunia. Sekitar 35 juta warga China, baik tentara maupun sipil, menjadi korban perang, menjadikan wilayah ini salah satu medan tempur paling berdarah pada Perang Dunia II. Xi menekankan pentingnya kesetaraan dan kerja sama antarnegara untuk mencegah terulangnya tragedi sejarah.
Rangkaian Parade dan Modernisasi Militer
Acara ini menampilkan 45 formasi pasukan darat dan udara, termasuk kendaraan tempur modern, drone, kapal tanpa awak, serta rudal-rudal canggih. Beberapa persenjataan baru yang dipamerkan antara lain:
- Rudal anti-kapal YJ-15 dan YJ-19, serta YJ-20 yang dikenal sebagai “penghancur kapal induk”.
- Rudal hipersonik DF-17 dan DF-26D (“Penghancur Guam”).
- Jet tempur siluman J-20S, J-35, dan pembom jarak jauh H-6J.
- Sistem nuklir berbasis darat, laut, dan udara, termasuk DF-61, DF-31BJ, JL-3, Jinglei-1, dan DF-5C.
- Tank tempur Type 99B dan berbagai sistem anti-drone, termasuk senjata laser dan gelombang mikro.
Parade juga memperkenalkan tiga matra baru militer China: Angkatan Antariksa, Angkatan Dunia Maya, dan Angkatan Dukungan Informasi. Kepolisian Bersenjata Rakyat China turut berpartisipasi, menunjukkan peran mereka dalam menjaga keamanan domestik.
Diplomasi dan Kehadiran Tamu Internasional
Selain Putin dan Kim, tampak hadir pemimpin Asia Tenggara lain seperti Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim, Presiden Vietnam Luong Cuong, Wakil Perdana Menteri Singapura Gan Kim Yong, Raja Kamboja Norodom Sihamoni, Presiden Laos Thongloun Sisoulith, serta Panglima Militer Myanmar Min Aung Hlaing. Kehadiran mereka menegaskan pengaruh diplomatik Beijing di kawasan.
Putin hadir di tengah keterbatasan kunjungan luar negeri akibat isolasi Barat dan surat perintah penangkapan Mahkamah Pidana Internasional. Sementara Kim Jong Un menghadiri parade ini untuk pertama kalinya sejak berkuasa pada 2011, sekaligus kunjungan pertamanya ke China dalam enam tahun terakhir.
Pemimpin Barat hampir seluruhnya absen, kecuali Perdana Menteri Slovakia Robert Fico dan Presiden Serbia Aleksander Vucic. Kehadiran Prabowo dan pemimpin Asia Tenggara lainnya menunjukkan keterwakilan regional yang lebih kuat dibanding parade tahun 2015.
Persiapan dan Antusiasme Publik
Persiapan parade berlangsung berbulan-bulan, dengan sejumlah latihan formasi udara dan uji coba konvoi di pusat kota Beijing. Ribuan penonton menyaksikan, melambaikan bendera merah, bertepuk tangan, dan mengabadikan momen lewat ponsel. Tepuk tangan meriah juga diberikan kepada veteran berseragam, menegaskan bahwa peringatan ini bukan hanya soal kekuatan militer, tetapi juga penghormatan terhadap pengorbanan masa lalu.
“Perjalanan China di masa lalu tidak mudah. Melihat parade ini membuat saya bangga dan mengingatkan kita agar sejarah pahit tidak terulang,” ujar Hu, seorang pengunjung berusia 48 tahun.
Parade militer ini merupakan parade kedua yang digelar untuk memperingati Hari Kemenangan sejak ditetapkan Majelis Rakyat Nasional pada 2014. Sebelumnya, parade serupa berlangsung pada 2015, menandai satu dekade dari acara pertama.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










