bukamata.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah tajam pada perdagangan Kamis pagi (19/6/2025). Hingga pukul 09.43 WIB, IHSG tercatat turun 1,12% ke level 7.028, mencerminkan kekhawatiran pasar yang semakin meningkat.
Penurunan ini menandai tekanan yang merata di hampir seluruh sektor. Dari 677 saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI), sebanyak 453 saham terkoreksi, hanya 94 saham yang menguat, dan 130 lainnya stagnan. Bahkan saham-saham bank papan atas seperti Bank Central Asia (BBCA), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Bank Mandiri (BMRI), dan Bank Negara Indonesia (BBNI) juga terseret ke zona merah.
Menurut riset pagi dari Phintraco Sekuritas, pergerakan IHSG hari ini memang diperkirakan akan berada dalam fase konsolidasi dengan rentang support di 7.000 dan resistance di 7.200. Kemarin, indeks ditutup melemah 0,67% ke posisi 7.107,79, dipengaruhi oleh faktor eksternal.
Salah satu penyebab utama tekanan pasar adalah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya konflik Iran-Israel yang kian memanas. Kekhawatiran akan keterlibatan Amerika Serikat dalam konflik tersebut turut memicu aksi jual di pasar saham regional, termasuk Indonesia.
Dari dalam negeri, sentimen datang dari keputusan Bank Indonesia yang mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) di level 5,5%, sesuai ekspektasi pasar. Langkah ini diambil untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global, serta mendukung inflasi yang tetap berada dalam kisaran target bank sentral.
Secara teknikal, indikator Stochastic RSI saat ini berada di area oversold, namun MACD masih menunjukkan kecenderungan datar. Sementara itu, menyempitnya Bollinger Bands mengindikasikan pasar tengah menanti katalis baru yang bisa menentukan arah selanjutnya—apakah berbalik naik atau melanjutkan tren penurunan.
Di tengah ketidakpastian tersebut, para investor domestik menaruh harapan pada geliat aksi korporasi, khususnya melalui penawaran umum perdana saham (IPO). Pasalnya, setelah lebih dari sebulan vakum, akhirnya pasar kembali diramaikan oleh IPO yang dinantikan banyak pihak.
Hari ini, PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA), anak usaha dari PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), resmi meluncurkan penawaran awal sahamnya. CDIA berencana melepas hingga 12,5 miliar lembar saham baru atau setara 10% dari modal disetor, dengan harga penawaran berkisar Rp 170 hingga Rp 190 per saham.
Masa bookbuilding berlangsung dari 19 hingga 24 Juni 2025. Jika seluruh saham terserap di harga tertinggi, perusahaan berpotensi meraup dana segar hingga Rp 2,37 triliun. IPO CDIA menjadi yang pertama sejak listing terakhir PT Cipta Sarana Medika Tbk (DKHH) pada 8 Mei lalu.
Kehadiran CDIA di bursa diharapkan dapat menjadi penyegar bagi pasar modal Indonesia yang belakangan ini lesu. Antusiasme investor terhadap IPO ini cukup tinggi, mengingat reputasi kuat grup Chandra Asri di sektor industri petrokimia nasional.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











