bukamata.id – Nilai-nilai Pancasila kembali ditegaskan sebagai fondasi utama kehidupan berbangsa dalam Seminar Kebangsaan bertajuk “Pancasila sebagai Simpul Kebangsaan untuk Mewujudkan Kesejahteraan dalam Hak Asasi Manusia” yang digelar di Aula Mandalasaba Ir. H. Djuanda, Kampus Universitas Pasundan (Unpas), Selasa (20/1/2026).
Salah satu narasumber, Rafael Situmorang, Anggota Komisi I DPRD Jawa Barat, menuturkan bahwa Pancasila bukan sekadar dasar negara, tetapi juga falsafah hidup bangsa yang menyatukan keberagaman Indonesia.
“Kita hari ini diskusi soal Pancasila sebagai simpul kebangsaan, sebagai falsafah kehidupan bangsa,” ujar Rafael di hadapan peserta seminar.
Ia mengingatkan, Pancasila memiliki akar sejarah yang panjang dan lahir dari nilai-nilai yang memang sudah hidup di tengah masyarakat Indonesia jauh sebelum kemerdekaan.
“Pancasila ini kalau kita bicara sejarahnya sangat panjang. Karena kata Soekarno, saya tidak menemukan Pancasila, tetapi saya hanya menggali apa yang sudah hidup di relung bangsa Indonesia,” katanya.
Rafael menjelaskan, gagasan Pancasila pertama kali disampaikan Bung Karno pada 1 Juni 1945, sebagai tawaran nilai dasar kebangsaan yang mencakup semangat nasionalisme, internasionalisme, hingga demokrasi.
“Pancasila lahir 1 Juni, pada saat itu Soekarno menawarkan Pancasila sebagai nilai kebangsaan, internasionalisme, demokrasi,” ungkapnya.
Setelah itu, lanjut Rafael, dibentuk Panitia Sembilan yang bertugas menyempurnakan redaksi dan formulasi Pancasila hingga akhirnya melahirkan Piagam Jakarta sebagai bagian penting dari proses sejarah bangsa.
“Setelah itu dibentuklah Panitia Sembilan, untuk memperbaiki redaksi dan formulasi Pancasila, sampai akhirnya terbit Piagam Jakarta,” tuturnya.
Menurutnya, setiap sila dalam Pancasila memiliki makna yang luas dan saling terhubung. Mulai dari Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, hingga persatuan Indonesia yang menjadi simbol kuat nasionalisme.
“Pengembangan arti Pancasila itu sangat luas, dari sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa, lalu kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, ini menjadi simbol nasionalisme,” jelasnya.
Seminar ini menjadi ruang refleksi bagi mahasiswa dan civitas akademika Unpas untuk kembali memaknai Pancasila, bukan hanya sebagai teks konstitusional, tetapi sebagai nilai hidup yang relevan dalam menjawab tantangan kebangsaan dan isu hak asasi manusia di era modern.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










