bukamata.id – Sebuah video yang belakangan viral di media sosial menampilkan kondisi memilukan seorang istri di Gorontalo yang diduga diusir dari rumah oleh suaminya. Peristiwa ini memicu keprihatinan dan kemarahan warganet setelah diketahui bahwa tindakan itu terjadi tak lama setelah sang suami dinyatakan lulus sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).
Dalam rekaman yang beredar, terlihat sejumlah barang rumah tangga, mulai dari perabotan hingga pakaian, dikeluarkan dari rumah dan ditumpuk di halaman. Pemandangan itu menimbulkan rasa prihatin bagi banyak orang, terutama melihat kondisi istri yang tampak tak berdaya menyaksikan rumah yang telah dihuni puluhan tahun menjadi saksi perselisihan yang menyedihkan. Video ini pun dengan cepat menyebar, mendapatkan ribuan komentar dan dibagikan oleh berbagai akun media sosial, menimbulkan gelombang empati sekaligus kemarahan dari publik.
Peristiwa tersebut semakin ramai diperbincangkan setelah sang istri, yang diketahui bernama Siti, membagikan pengalamannya melalui unggahan di media sosial. Dalam unggahan itu, Siti menceritakan kisah rumah tangganya yang penuh penderitaan dan perjuangan, yang selama lebih dari satu dekade ia jalani bersama suami. Ia menuliskan kekecewaan mendalam terhadap sikap suaminya yang dianggap berubah drastis setelah memperoleh status sebagai PPPK.
“10 tahun lebih saya merasakan semua ini, tapi saya berusaha sembunyikan semuanya. Berulang-ulang kali diselingkuhin, KDRT, tapi saya tetap sabar. Walaupun sakit yang selalu saya rasakan, saya tetap berusaha mendampingi sampai dia di titik ini. Tapi saat dia sudah berhasil, semua berubah,” tulis Siti dengan nada pilu yang menyentuh banyak hati warganet, dikutip Rabu (24/12/2025).
Unggahan ini sontak memicu gelombang reaksi dari masyarakat maya. Banyak yang merasa geram dan sedih, menyesalkan tindakan suami yang dianggap tidak menghargai perjuangan Siti. Komentar demi komentar mengalir, memperlihatkan empati sekaligus kemarahan terhadap perilaku yang dinilai tidak adil terhadap seorang istri yang telah setia menemani perjalanan hidup pasangannya.
Beberapa komentar netizen yang mencuat antara lain:
“Kok nggak belajar dari pengalaman yang viral sebelumnya.”
“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.”
“Viralkan!”
“Lagi tren banget ya P3K.”
“Subhanallah…”
“Gaji PPPK berapa ya? Saya kuli bangunan bertanya dengan lembut.”
“Sampai hati, istri sudah sabar tapi dibalas begini.”
Komentar-komentar ini menyoroti ketidakadilan yang dirasakan Siti sekaligus menyinggung fenomena sosial yang terjadi ketika status sosial atau ekonomi seseorang meningkat. Kasus ini menjadi pengingat keras bahwa pencapaian materi atau jabatan tidak seharusnya mengubah penghargaan terhadap orang-orang yang telah setia mendampingi dari awal.
Pakar psikologi keluarga mengungkapkan, perubahan sikap pasangan setelah memperoleh status sosial atau ekonomi tertentu bukan hal yang jarang terjadi. Fenomena ini sering kali muncul karena faktor tekanan psikologis, rasa superioritas, atau ketidakmampuan dalam menyeimbangkan perubahan hidup dengan hubungan yang telah dibangun sebelumnya. Namun, tindakan yang merugikan pasangan seperti yang dialami Siti jelas menimbulkan trauma emosional yang mendalam.
Selain dampak psikologis, peristiwa ini juga memunculkan pertanyaan tentang perlindungan hukum bagi korban rumah tangga. Dalam konteks hukum di Indonesia, tindakan mengusir pasangan dari rumah tanpa prosedur resmi dapat dikategorikan sebagai tindak kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) atau perbuatan melawan hukum, tergantung pada kondisi dan bukti yang ada. Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari pihak suami maupun aparat setempat terkait insiden tersebut. Hal ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat mengenai bagaimana korban dapat memperoleh perlindungan dan keadilan.
Siti sendiri, melalui unggahannya, menegaskan bahwa perjuangan rumah tangganya bukan hal mudah. Ia melewati berbagai cobaan, mulai dari perselingkuhan hingga kekerasan dalam rumah tangga, namun tetap memilih untuk bertahan demi keluarga. Kesabaran dan pengorbanannya yang luar biasa menjadi sorotan publik, yang semakin memperjelas ketimpangan perlakuan yang dialaminya.
“Walaupun sakit yang selalu saya rasakan, saya tetap berusaha mendampingi sampai dia di titik ini. Tapi saat dia sudah berhasil, semua berubah,” tulis Siti. Ungkapan ini menjadi simbol ketidakadilan yang dirasakan banyak orang, sekaligus mengingatkan bahwa kesetiaan dalam rumah tangga seharusnya dihargai, bukan dibalas dengan perlakuan yang menyakitkan.
Kisah ini juga menimbulkan diskusi lebih luas mengenai budaya menghargai pasangan hidup di Indonesia. Banyak yang menyoroti pentingnya komunikasi, pengertian, dan rasa saling menghormati dalam membangun rumah tangga, terutama ketika menghadapi perubahan status ekonomi atau sosial. Perubahan materi atau jabatan, meskipun membawa kemakmuran, tidak seharusnya menjadi alasan untuk melupakan kontribusi pasangan yang telah menemani perjalanan dari awal.
Selain itu, publik juga menyoroti peran media sosial dalam mempercepat penyebaran kasus seperti ini. Video dan unggahan Siti menjadi viral dengan cepat, memungkinkan masyarakat untuk memberikan dukungan moral sekaligus menekan pihak yang dianggap bertindak tidak adil. Fenomena ini menunjukkan bagaimana media sosial dapat menjadi alat untuk memperjuangkan keadilan sosial, meski sekaligus memicu berbagai spekulasi dan komentar yang kadang berlebihan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tindakan konkret dari aparat terkait kasus tersebut. Namun, perhatian publik yang terus mengalir diharapkan dapat mendorong penyelesaian yang adil dan memberikan pelajaran penting tentang menghargai perjuangan pasangan. Kasus Siti di Gorontalo menjadi pengingat bahwa dalam rumah tangga, kesetiaan, pengorbanan, dan rasa hormat harus selalu dijaga, apapun status atau jabatan yang diperoleh masing-masing pihak.
Dengan sorotan yang luas dari masyarakat, cerita Siti tidak hanya menjadi kisah pribadi yang memilukan, tetapi juga cermin bagi masyarakat luas tentang pentingnya nilai-nilai kesetiaan, empati, dan penghargaan dalam hubungan rumah tangga. Kasus ini mengingatkan kita bahwa pencapaian karier atau peningkatan status sosial seharusnya tidak pernah menjadi alasan untuk mengabaikan atau menyakiti orang-orang yang telah menjadi bagian dari perjalanan hidup kita.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











