bukamata.id – Nama Imam Muslimin alias Yai Mim sempat menjadi sasaran amarah kolektif warganet. Video-video lama tentang ritualnya, aksi berguling-guling di tanah, hingga cekcok terbuka dengan tetangga membuat publik dengan mudah menjatuhkan vonis sosial. Seorang mantan dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang dianggap melenceng, aneh, bahkan berbahaya.
Pada fase awal cerita, hampir tak ada ruang pembelaan.
Warga menilai perilakunya meresahkan. Kampus menonaktifkannya dari tugas mengajar. Lingkungan tempat tinggalnya di Perumahan Joyogrand, Kelurahan Merjosari, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, memutuskan satu suara: Yai Mim harus pergi. Ia diusir dari rumah yang selama ini ditempatinya.
Hujatan itu terasa final. Seolah kisah Yai Mim telah selesai sebagai cerita tentang seseorang yang “kehilangan kendali”.
Namun, seperti kisah dengan banyak tikungan, narasi itu segera berubah arah.
Plot Twist Pertama: Dari Biang Masalah Menjadi Korban Lingkungan
Di tengah derasnya kecaman, cerita versi lain mulai bermunculan. Pihak Yai Mim mengklaim akar konflik bukan soal ritual atau perilaku aneh, melainkan persoalan tanah wakaf. Tanah miliknya yang telah diwakafkan untuk jalan disebut-sebut justru dimanfaatkan di luar peruntukan: mulai dari kandang kambing hingga area parkir usaha rental mobil milik seorang warga bernama Sahara.
Di titik ini, opini publik goyah.
Mereka yang sebelumnya mantap menghujat mulai ragu. Warganet menggali ulang kronologi, membandingkan potongan cerita, dan menemukan celah yang selama ini luput.
“Bersalah bgt deh dulu ada di pihak S trnyata kronologinya plot twist banget yai mim maafkan saya,” tulis seorang pengguna media sosial.
Komentar lain bernada iba muncul, “Kasian loh pak dosen ini pas mau ngajar sampai pernah kosong kelasnya terus akhirnya beliau mengundurkan diri dari kampusnya.”
Bahkan ada yang mendorong perlawanan balik, “Tuntut Sahara dan RT RW setempat.”
Plot twist pertama bekerja sempurna: Yai Mim yang semula dihujat, kini dibela. Dari figur yang dianggap masalah, ia berubah menjadi sosok yang mungkin dizalimi oleh konflik sosial tingkat lokal.
Namun cerita kembali berbelok tajam.
Plot Twist Kedua: Status Tersangka dan Klaim sebagai “Pasien Rumah Sakit Jiwa”
Pada Selasa, 6 Januari 2026, Polresta Malang menetapkan Yai Mim sebagai tersangka dalam perkara penyebaran konten tidak senonoh di grup percakapan warga. Penetapan itu dilakukan setelah penyidik Satuan Reserse Kriminal menggelar perkara.
Simpati yang baru tumbuh kembali terguncang.
Publik yang baru saja berpihak, kini kembali dihadapkan pada fakta hukum. Tapi Yai Mim tidak menerima begitu saja. Melalui pernyataan panjang yang beredar di media sosial—salah satunya diunggah akun TikTok @baniachmad—ia melontarkan pengakuan yang menjadi pusat plot twist berikutnya: dirinya adalah Pasien Rumah Sakit Jiwa.
“Saya ini pasien rumah sakit jiwa Lawang dan ada suratnya. Saya bebas dari dakwaan apa pun. Kok aku bisa (jadi) tersangka?” ucap Yai Mim.
Pengakuan sebagai Pasien Rumah Sakit Jiwa langsung mengubah atmosfer perbincangan. Jika benar demikian, publik kembali bertanya: apakah proses hukum sudah mempertimbangkan kondisi kejiwaan? Ataukah penetapan status hukum ini justru mengabaikan aspek medis?
Namun, alih-alih meredakan kontroversi, pernyataan itu memunculkan kecurigaan baru.
Plot Twist Ketiga: Retaknya Tim Pembela dan Tuduhan Pemerasan
Dalam pernyataan yang sama, Yai Mim menyatakan tak ingin lagi didampingi oleh pengacara bernama Dino. Alasannya mengejutkan dan membuka babak konflik baru.
“Dino, kamu keluar dari grup pembela Yai Mim. Bojoku ditarik duit karo Dino. Dino bola-balik jaluk duit 15 juta, narek 30 juta tapi rung dikei,” ujarnya.
Ia menilai tindakan itu sebagai pemerasan dan menyatakan siap melapor.
“Kau telah melakukan pemerasan. Tak laporkan polisi kowe,” katanya.
Di titik ini, narasi kembali retak. Sebagian publik tetap membela Yai Mim, menganggap ia semakin terpojok. Sebagian lain mulai bertanya-tanya: apakah ini cerminan ketidakstabilan, atau justru bukti konflik yang lebih rumit?
Status Pasien Rumah Sakit Jiwa kembali muncul sebagai kata kunci—antara alasan, pembelaan, dan sumber kontroversi.
Bantahan Konten Tak Pantas dan Dalih Ketiadaan Niat
Yai Mim menegaskan bahwa dirinya tidak pernah berniat menyebarkan konten yang melanggar norma. Ia mengklaim materi yang dikirim ke grup percakapan warga berisi aktivitas keagamaan.
“Yang saya kirim itu adzan, iqamah, sholat. Aku ditunjuk menjadi imam sholat, ngajak warga sholat. Itu mungkin kepencet (konten lain),” ujar Yai Mim.
Ia menekankan tidak adanya unsur kesengajaan.
“Artinya apa? Di sini tidak ada mens rea, tidak ada niatan. Ini bukan kesengajaan,” imbuhnya.
Sebagai Pasien Rumah Sakit Jiwa, pernyataan ini kembali menjadi sorotan. Apakah kelalaian digital bisa dipisahkan dari kondisi mental? Atau justru kondisi itulah yang seharusnya menjadi pertimbangan utama?
Pelapor Dipersoalkan, Plot Twist Kembali Terjadi
Yai Mim juga mempertanyakan posisi pelapor bernama Sahara.
“Sahara itu bukan anggota grup RT. Anggota grup RT itu laki-laki semua. Lah kok bisanya Sahara menjadi pelapor terhadap Yai Mim?” ucapnya.
Ia menduga ada pihak lain yang meneruskan konten tersebut.
“Berarti ada orang yang mentransmisikan video itu dari anggota grup kepada Sahara. Siapa dia? Saya duga ketua RT, bendahara RT, sekretaris RT,” katanya.
Sekali lagi, cerita berbelok. Dari tersangka, Yai Mim mencoba menempatkan diri sebagai korban transmisi dan konflik sosial.
Antara Penjara, Keadilan, dan Identitas sebagai Pasien Rumah Sakit Jiwa
Meski menolak tudingan, Yai Mim menyatakan siap menghadapi konsekuensi hukum.
“Aku dipenjara gelem, asalkan didasarkan pada kebenaran dan keadilan. Saya tidak perlu pengacara yang hanya ingin menang,” ujarnya.
Ia menutup pernyataannya dengan pertanyaan yang menggantung, “Saya tidak melakukan kesalahan. Kok tadi tersangka?”
Kini, Yai Mim berdiri di tengah pusaran narasi yang tak pernah benar-benar stabil. Dihujat, dibela, lalu dipertanyakan kembali. Statusnya sebagai Pasien Rumah Sakit Jiwa terus diulang—menjadi kunci sekaligus teka-teki.
Apakah ia korban, pelaku, atau cerminan konflik sosial yang gagal dikelola? Jawabannya masih terbuka. Yang pasti, kisah Yai Mim telah menjadi drama dengan plot twist berlapis, dan publik masih menunggu akhir ceritanya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











