bukamata.id – Pagi itu, Rabu 24 Desember 2025, suasana dalam sebuah swalayan di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Makassar, tidak jauh berbeda dari hari-hari menjelang libur panjang lain. Pelanggan datang silih berganti, membawa kebutuhan rumah tangga, beberapa terburu-buru mengejar tugas terakhir sebelum Natal, sebagian lainnya sekadar berbelanja harian.
Di balik meja kasir, N, seorang perempuan berusia 21 tahun, berdiri menjalankan rutinitasnya. Ia terbiasa menghadapi beragam karakter konsumen: yang ramah, yang pemalu, yang cerewet, bahkan yang mudah tersinggung. Namun hari itu, ia tidak pernah menduga bahwa pekerjaannya akan berakhir dengan kejadian yang terus terngiang dalam benaknya hingga kini—sebuah ludah yang menyentuh wajahnya dan meninggalkan luka yang tak kasat mata.
Sekitar pukul 11.30 WITA, antrean di depan kasir tampak padat tetapi masih terkendali. N sedang menyelesaikan transaksi dengan seorang pelanggan ketika matanya menangkap gelagat tak biasa dari seorang pria paruh baya yang membawa keranjang penuh barang. Gerak-geriknya gelisah, seperti seseorang yang ingin cepat selesai, tetapi bukan melalui jalur yang tepat.
“Awalnya itu sementara transaksi (layani konsumen lain). Terus kulihat memang itu di depan itu bapak kayak gelisah mau masuk ini di antrean,” ujar N, mengingat kembali kejadian tersebut.
Sang pria tidak menunggu lama untuk menunjukkan maksudnya. Ia langsung menyelinap masuk ke depan, menyalip antrean beberapa pelanggan yang lebih dulu menunggu. Titik awal dari serangkaian tindakan yang membuat suasana seketika berubah tegang.
Teguran yang Berujung Kemarahan
Sebagai kasir, N berkewajiban menjaga alur antrean tetap tertib. Tanpa bermaksud menyinggung, ia mengingatkan pria tersebut agar kembali ke barisan.
“Langsung saya tanya bilang, ‘Maaf, Pak. Ada antrean dari belakang. Antre dari belakang ki dulu’.”
Namun teguran itu tidak diterima sebagai ajakan untuk tertib. Justru menjadi pemantik kemarahan. Sang pria melempar keranjang belanjaannya—gerakan spontan yang membuat barang-barang di dalamnya bergetar dan menimbulkan suara keras di lantai.
“Dia langsung marah sambil na lempar itu keranjangnya. Dia bilang, ‘Transaksikan saja anuku (belanjaanku)'”, tutur N.
Mendengar nada suara yang meninggi, N memilih mengambil jalan yang dianggapnya paling aman: diam. Keheningan bagi N bukan berarti menyerah, tetapi strategi untuk mencegah konflik meluas. Ia memutuskan melayani barang belanjaan si pria meski tindakannya sebelumnya sudah tidak lagi mengikuti aturan antrean.
Diam yang Tidak Menenangkan
Harapan N agar suasana kembali kondusif rupanya meleset. Diamnya justru membuat pria paruh baya itu semakin agresif secara verbal. Makian mulai meluncur, perlahan mengikis kesabaran dan ketenangan di meja kasir.
“Jadi, saya diam di situ, saya bilang biar mi pale (ya sudah). Dia langsung bilang, ‘Kurang ajar caramu melayani begitu. Saya juga mau ji membayar. Kenapa kau kurang ajar’,” kenang N, menirukan suara pelaku.
Meskipun tersudut, N kembali mencoba menjelaskan. Ia ingin pelaku mengerti bahwa tegurannya murni karena aturan, bukan karena niat melecehkan atau menghambat.
“Saya bilang, ‘Karena ada antrean dari belakang, Pak. Tabe’ jadi harus ki dulu mengantre’.”
Tetapi bahkan kalimat penjelasan itu pun belum selesai keluar sepenuhnya ketika batas kesabaran pelaku mencapai titik ekstrem.
“Di situ belum selesai (saya) bicara langsung diludahi. Muka sama jilbab, baju (kena),” bebernya dengan suara pelan.
Dalam sekejap, ruang kasir yang semula penuh aktivitas berubah menjadi senyap. Tidak ada suara protes lantang dari pelanggan lain, tidak ada rekan kerja yang bisa berbuat banyak. Hanya N yang berdiri menahan campuran rasa marah, malu, dan syok.
Syok, Air Mata yang Ditahan, dan Permohonan Maaf yang Terpaksa
Setelah ludah mengenai wajah dan jilbabnya, tubuh N bereaksi spontan. Ia mundur, lalu bergegas menjauh dari situasi yang menghimpit napasnya. Kamar mandi menjadi tempat perlindungan sementara.
“Syok. Saya langsung lari naik ke WC cuci muka.”
Namun kejadian tidak berhenti hanya pada tindakan pelaku. Dalam kondisi terguncang, N bahkan sempat meminta maaf—tindakan yang ia lakukan bukan karena merasa bersalah, melainkan karena ingin menghindari situasi yang semakin membesar.
“Dia suruh ka minta maaf, jadi sempat ja minta maaf di situ. Karena kupikir nanti kalau panjangi, kupikir kalau kulawan tambah panjang lagi masalah,” ucapnya.
Trauma yang Mengendap, Diam yang Menyakitkan
Hari-hari setelah kejadian tidak berjalan seperti biasa. Meski kembali bekerja, guncangan psikis masih ia rasakan. Setiap kali mengingat momen itu, ada sesuatu yang mengganjal—perasaan ditinggalkan dan tidak dibela oleh mereka yang menyaksikan.
“Masih trauma. Ada pelanggan lain yang lihat, tapi tidak bilang-bilang juga. Cuma na lihat ja. Itu temanku yang di dekatku cuma diam ji kodong karena takut juga,” ungkapnya.
Trauma bukan sekadar luka yang terlihat, tetapi pengalaman yang menempel pada ingatan dan membuat seseorang mengulang kembali kejadian meski tubuhnya sudah jauh dari tempat kejadian.
Keluarga Menolak Diam: Laporan Polisi dan Tuntutan Keadilan
Jika N memilih menahan diri demi pekerjaannya, keluarganya tidak ingin insiden ini berlalu begitu saja. Mereka merasa tindakan pelaku tidak bisa dianggap kesalahan ringan atau emosi sesaat. Harus ada penyelesaian hukum.
“Karena dari pihak keluarga tidak terima sama ini kejadian. Iya, (diproses hukum) kalau bisa,” tegas seorang anggota keluarga, Ningsih.
Laporan pun disampaikan ke Polsek Tamalanrea. Keluarga berharap polisi segera menindaklanjuti agar tindakan serupa tidak terulang kepada pekerja lain—khususnya mereka yang berada di garda depan layanan publik dan sering menghadapi tekanan.
Di Balik Meja Kasir, Ada Martabat
Kisah N adalah potret sunyi pekerja ritel yang sering kali berdiri sendirian menghadapi kemarahan pelanggan. Mereka adalah orang-orang yang menjaga sistem layanan tetap berjalan, tetapi tidak selalu mendapat perlindungan saat hal-hal buruk terjadi.
N masih bekerja, masih belajar menata ulang rasa percaya dirinya. Ia menatap ke depan, tetapi tidak ingin kejadian itu hilang begitu saja tanpa pelajaran.
Insiden itu mengingatkan bahwa di balik meja kasir, ada manusia yang sama-sama menuntut penghargaan dan martabat—bahkan saat mereka hanya meminta satu hal sederhana: “Maaf, Pak. Ada antrean dari belakang. Antre dari belakang ki dulu.”
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











