bukamata.id – Kasus mengejutkan muncul dari oknum polisi Bharada Reval Agia Mukori, yang berdinas di Mabes Polairud Jakarta Utara.
Bharada Reval Agia Mukori dikabarkan meninggalkan tanggung jawab keluarga, termasuk putrinya yang baru lahir, dan menimbulkan utang melalui pinjaman online (pinjol) hingga hampir Rp60 juta. Status oknum ini saat ini tercatat sebagai DPO, memicu perhatian publik dan kecaman warganet.
Menurut pengakuan mantan istrinya, Bharada Reval meninggalkan rumah dan anaknya setelah operasi persalinan di IGD rumah sakit.
Ia bahkan menelpon sang mantan istri untuk menyatakan ingin menceraikannya dengan ucapan “aku menalak kamu tiga,” diulang dua kali. Setelah itu, ia menghilang tanpa kejelasan.
Selain itu, oknum ini disebut menikahi wanita lain secara diam-diam di Sumatera Barat, meskipun masih memiliki tanggung jawab terhadap anak dan mantan istrinya.
Putrinya tidak menerima nafkah maupun biaya rumah sakit, sementara keluarga besar Bharada Reval pun tidak menanyakan kondisi anaknya.
Laporan ke Divisi Propam Belum Ada Kepastian
Mantan istri Bharada Reval menyebut bahwa laporan telah diajukan ke Divisi Propam Polri, namun hingga kini belum ada tindakan nyata terkait laporan tersebut.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan publik tentang integritas dan akuntabilitas institusi terhadap anggota yang melanggar kode etik.
Reaksi Publik Melalui Media Sosial
Kasus ini memantik gelombang kemarahan warganet di media sosial, khususnya melalui kolom komentar Instagram @feedgramindo. Banyak netizen menyuarakan kekecewaan dan sorotan tajam terhadap kinerja dan etika anggota Polri.
Beberapa komentar publik yang menjadi sorotan media antara lain:
- Akun @tir*** menulis, “Tolong dong, katanya kalian melayani mengayomi masyarakat, ada anggotanya begitu, astaghfirullah haladzim kelakuan syetan ko d diemin.” Komentar ini menegaskan kekecewaan publik terhadap lemahnya pengawasan internal Polri.
- Akun @you*** mengkritik budaya “makan jabatan”: “Emang mau makan cinta? Makan tuh gajih bulanan, pangkat dan jabatan.” Warganet ini menyoroti dugaan oknum memanfaatkan jabatan untuk kepentingan pribadi.
- Akun @den*** menyoroti kualitas rekrutmen: “Rata-rata masuk karena punya duit bukan otak, jadi nggak heran.” Komentar ini mencerminkan keraguan publik terhadap integritas rekrutmen anggota kepolisian.
- Akun @ber*** menambahkan, “Makan tuh seragam sama pangkat,” menegaskan kekecewaan publik terhadap oknum yang dinilai menyalahgunakan wewenang.
Sudut Pandang Human Interest
Kasus ini memunculkan pertanyaan lebih luas: apakah aparat yang seharusnya mengayomi masyarakat bisa dianggap layak jika tidak mampu menanggung tanggung jawab pribadi? Publik menyoroti bahwa dugaan pengabaian anak, hutang pribadi, dan status DPO mencerminkan persoalan integritas, etika, dan pengawasan internal Polri.
Selain itu, reaksi warganet menandakan bahwa masyarakat kini semakin vokal menuntut transparansi dan akuntabilitas. Hal ini bukan sekadar kritik, tetapi juga bentuk tekanan sosial agar Propam Polri segera menindaklanjuti laporan.
Kasus Bharada Reval Agia Mukori menjadi pengingat bagi institusi kepolisian: disiplin internal, akuntabilitas, dan pengawasan etika anggota harus berjalan seiring dengan tugas pengayoman publik. Publik berharap langkah tegas dilakukan agar kasus serupa tidak terulang.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










