bukamata.id/ – Kontroversi memoar Broken Strings karya Aurelie Moeremans kembali menjadi perbincangan publik. Kali ini, perhatian tertuju pada pernyataan Tengku Zanzabella yang tidak hanya mempertanyakan konsistensi isi buku, tetapi juga menyoroti peran serta pola asuh orang tua Aurelie yang dinilainya relevan untuk dibahas secara terbuka.
Pernyataan tersebut memicu perdebatan baru di media sosial, di tengah publik yang masih terbelah dalam menyikapi narasi yang disampaikan Aurelie dalam bukunya.
Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, @zanzabellaa, Tengku Zanzabella menyampaikan bahwa pembahasan seharusnya tidak berhenti pada sosok yang disamarkan sebagai “Bobby”, melainkan juga menyinggung kondisi keluarga yang membentuk psikologis Aurelie sejak awal.
“Si Aurel bilang jangan mengejar ciri orang-orang di dalam Broken Strings. Gue sepakat. Tapi gue saranin elu untuk ngebahas perasaan hancur lu semasa masih bersama orang tua elu sampai lu ketemu si Bobby. Gue penasaran sama pola asuh mereka,” tulis Zanzabella, dikutip Senin (19/1/2026).
Ia menilai, sejak awal cerita terdapat keterlibatan orang tua, sehingga pembahasan mengenai pola asuh menjadi bagian penting untuk memahami keseluruhan konteks kisah yang diangkat dalam buku tersebut.
“Dari awal pun ada keterlibatan orang tua di sana. Karena semua sudah ramai, mari kita bahas pola asuh,” lanjutnya dalam keterangan unggahan.
Respons Warganet Terbelah
Pernyataan Zanzabella langsung menuai beragam reaksi dari warganet. Sebagian netizen mengaku memiliki pertanyaan serupa dan menilai isu pola asuh memang layak dibahas.
“Nahhhh! Ini pertanyaan aku juga,” tulis seorang pengguna media sosial.
Namun, tak sedikit pula yang menilai fokus Zanzabella justru melenceng dari isu utama yang dianggap lebih krusial, seperti dugaan kekerasan dan child grooming.
“Ngapain fokus ke pola asuh orang? Fokus ke inti masalahnya aja, abuse dan child grooming itu yang harus di-highlight,” tulis netizen lainnya.
Ada pula warganet yang mencoba melihat persoalan dari sudut pandang psikologis keluarga. Menurut mereka, pola asuh dalam keluarga memang kerap menjadi faktor awal terbentuknya trauma mental seseorang.
“Awal mula kerusakan mental atau trauma itu seringnya dari rumah sendiri, dari orang tua atau keluarga. Selebihnya hanya faktor pendukung,” tulis seorang netizen panjang lebar.
Disarankan Baca Ulang Buku
Di sisi lain, sejumlah netizen menyarankan agar Tengku Zanzabella membaca ulang buku Broken Strings sebelum menyampaikan penilaian lebih jauh.
“Saranku mending baca atau baca ulang lagi bukunya Aurelie,” tulis salah satu komentar.
Sebelumnya, Tengku Zanzabella juga sempat menyatakan keraguannya terhadap isi memoar tersebut. Ia menilai terdapat sejumlah bagian cerita yang tidak konsisten, mulai dari detail peristiwa hingga alur kedekatan antar tokoh.
“Banyak hal yang tidak konsisten di sana, seperti detail, pertemuan, dan kedekatan,” ujarnya.
Ingatkan Publik Tidak Menghakimi Sepihak
Zanzabella juga mengingatkan publik agar tidak terburu-buru memvonis seseorang hanya berdasarkan narasi dalam buku, terutama dalam isu sensitif seperti dugaan child grooming.
Menurutnya, muncul ketidakadilan ketika warganet langsung menunjuk satu nama tertentu tanpa proses hukum yang jelas.
“Dengan tidak mengurangi empati terhadap korban, kita juga tidak boleh langsung memvonis seseorang sebagai pelaku,” tegasnya.
Meski demikian, ia menegaskan tidak berpihak secara mutlak kepada siapa pun. Zanzabella justru mendorong agar persoalan tersebut dibawa ke jalur hukum agar kebenaran dapat dibuktikan secara objektif.
“Gue mendukung Aurelie untuk membawanya ke jalur hukum, supaya dibuktikan dengan benar, bukan opini yang mendahului putusan,” pungkasnya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










