bukamata.id – Warga Kecamatan Kalijati, Kabupaten Subang, digegerkan oleh peristiwa penganiayaan yang dilakukan seorang siswa SMK terhadap ibu kandungnya. Pelaku berinisial F (18), tega membacok Bayinah (51) dengan golok hanya karena masalah sepele terkait pembelian handphone dan ayam.
Peristiwa mengejutkan itu terjadi pada Sabtu malam, 4 Mei 2025. Usai melakukan aksinya, F langsung diamankan oleh warga setempat dan keluarganya. Video penangkapan F yang memperlihatkan dirinya dengan tangan dan kaki terikat viral di media sosial.
Kapolsek Kalijati, AKP Teguh Subang, membenarkan kejadian tersebut. Ia menjelaskan bahwa penganiayaan dipicu oleh pertengkaran kecil antara ibu dan anak. “Awalnya korban menasihati F terkait pembelian HP dan ayam. Pelaku merasa tersinggung, lalu mengambil golok dari dalam rumah dan menyerang ibunya dari belakang sambil mengucapkan takbir. Golok mengenai punggung korban,” jelas Teguh, Minggu (5/5/2025).
Luka Serius, Korban Jalani Operasi
Akibat serangan tersebut, Bayinah mengalami luka serius di bagian punggung dan kepala. Ia segera dilarikan ke RSUD Bayu Asih Purwakarta untuk menjalani operasi dan perawatan intensif.
Polisi telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan memeriksa sejumlah saksi, termasuk kakak pelaku yang berada di lokasi saat kejadian berlangsung.
Dugaan Gangguan Kejiwaan
Kapolsek menambahkan, berdasarkan informasi keluarga, F diduga mengalami gangguan kejiwaan sejak orang tuanya bercerai.
“Saat diinterogasi, pelaku terlihat diam dan matanya kosong. Keluarga menyebut F mulai bertingkah aneh setelah kembali tinggal bersama ibunya. Atas persetujuan keluarga, pelaku akan menjalani pemeriksaan kejiwaan di Rumah Sakit Cisarua,” ungkap Teguh.
Versi Keluarga: Masalah Sepele Jadi Penyebab
Ainil, kakak korban, mengungkapkan bahwa konflik bermula dari kesepakatan pembelian HP menggunakan uang hasil penjualan ayam. “Setengah ayam dijual buat beli HP, setengahnya lagi untuk kebutuhan makan. Tapi F malah menjual semua ayam tanpa sepengetahuan mama. Saat dinasihati, dia mungkin merasa tertekan, dan dendam yang selama ini dipendam akhirnya meledak,” katanya.
Ainil juga membenarkan bahwa adiknya mulai berubah sejak perceraian orang tua mereka. “Dulu waktu SD-SMP dia normal. Tapi sejak dibawa ayah lalu kembali lagi ke rumah, perilakunya mulai aneh. Padahal Senin ini dia rencana ikut acara perpisahan sekolah,” tambahnya.
Peristiwa ini menyisakan luka mendalam bagi keluarga dan menjadi pengingat akan pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental remaja, terutama dalam situasi keluarga yang penuh tekanan.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











